Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://everist.kotasantri.com
Bergabung
5 Juni 2009 pukul 23:32 WIB
Domisili
-
Pekerjaan
Buruh Migran
kepak_camar
Tulisan Mega Lainnya
Konflik Diri
9 Juni 2010 pukul 20:45 WIB
Bilik
Bilik » Goresan

Jum'at, 25 Juni 2010 pukul 19:15 WIB

Mutiara

Penulis : Mega Everistiana Wati

Kelip mercusuar teluk Hong Kong
dan bintang subuh di langitnya
merentangkan laut di hadapan jendela
seperti perahu memburu pelabuhan
Aku ingin melabuhkan sauh rindu
begitu ingin rasanya aku dekat kau, nak
dekat nenek-kakek dan ayahmu

Kusalin kembali di lembar subuh kelabu ini foto lama :
Ayah mendorongmu di atas sepeda bocahmu
dan aku melenggang santai di sampingnya
Ketika itu bertiga kita keliling desa
berkaca di sungai di rindang bambu
Ayahmu mencari kepiting mainanmu
kau di pangkuanku duduk di batu tebing

Terbangun aku tiba-tiba subuh ini
bukan karena tangismu tentu saja
tapi oleh bayangan ayahmu yang datang tiba-tiba membisikkan namaku
seperti kebiasaannya
Kemudian kami bersama mengambil air wudhu
udara teluk seketika menjadi sangat menggetarkan
Aku pun sadar benar betapa cinta kami memang liat mengental kepada-Nya

Apakah gemetarku suatu kelemahan orang
tak sanggup berlaga
Apakah gemetarku karena aku perempuan?
Kelak, nak, kau kan paham
arti kewajaran sepi dan rindu
Kau kan mengerti arti anak dan suami
serta sakitnya keluarga menjadi kalung terurai berhamburan
Kau kan paham kerasnya kehidupan
yang tak pernah main-main tak punya ampun

Memandang mercuasuar teluk Hong Kong
bintang di langit kelabu sendiri dan jauh
Rinduku menjadi jung diayun ombak
hidupku seperti bintang di tengah awan
Beginilah, nak, hidup ibumu
Begini jugalah hidup ayahmu
Bahkan kau sendiri kendati terlalu kecil untuk diterpa

Tapi sejak lama tak pernah lagi kami teteskan airmata
kecuali bertahan dan terus bertarung
Kelak, nak, kau pun paham
Gemetarku, gigil ayahmu subuh ini bukanlah gemetar kekerdilan
Diam-diam kemudian kau bangga jadi anak kami
bangga pada cinta kami dan cinta kita

Cinta, nak
tak lagi punya batas
Jika sudah memilih
batu padas kian mengeras
Jika tekad telah tetap
gelombang badai remuk sendiri
Tetap berpegang teguh pada-Nya
mutiara kan kian mengkilap

Hongkong, Agustus 2004

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mega Everistiana Wati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1519 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels