QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Kepal Tangan, Potensi, dan Menembus Batas
28 April 2012 pukul 13:15 WIB
Jangan Sepelekan Surat Al-Fatihah
11 April 2012 pukul 15:00 WIB
Ibrahim bin Adham dan Bekas Budaknya
27 Maret 2012 pukul 17:00 WIB
Dua Cara Allah Mengabulkan Do'a
21 Maret 2012 pukul 12:00 WIB
Gonjang-Ganjing BBM
17 Maret 2012 pukul 13:13 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 2 Mei 2012 pukul 11:00 WIB

Menjadi Orang yang Bertakwa itu Pasti Beruntung

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Dalam kitab Al-Munabbihaatu ‘Ala Al-Isti’daadi li Yaumi Al-Ma’ad, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy mencantumkan ucapan Al-A’masy Sulaiman bin Mihran Al-Kuufy, “Siapa yang bermodalkan takwa, maka lisan tidak mampu menyebut betapa besarnya keuntungan agama. Dan siapa yang bermodalkan dunia, maka lisan juga tidak mampu menjumlahkan kerugian agamanya.” Apa yang bisa dipahami dari ucapan Imam Al-Kuufy tersebut? Kata-katanya sangat sederhana, tapi kandungan maknanya sungguh luar biasa. Karena mampu memahamkan tugas umat Muhammad SAW di dunia ini. Yaitu, tidak bergantung kepada dunia dan segala isinya, tapi bergantunglah kepada Allah Jalla Wa Azza.

Artinya, lintasi alur kehidupan ini dengan bekal takwa. Menjalankan aturan-aturan yang diperintahkan Allah dalam setiap aktivitas, sekaligus menjauhi segala hal yang dibenci-Nya dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Tidak boleh ada sedikitpun perbuatan zhalim yang ‘terselip’, baik zhalim terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dalam aktivitas yang dilakukan. Kelihatan mudah, memang. Namun riilnya, sulit untuk menjalankannya. Hanya dengan bekal mengingat Allah dengan sungguh-sungguh baru bisa melakonkannya dengan baik. Contoh sederhananya, tidak sedikit di antara kita yang masih melakonkan sesuatu kerap menilainya dengan materi. Kalau tidak ada uangnya, untuk apa dikerjakan? Kalau cuma ikhlas beramal, mau makan apa nanti? Kalau cuma dapat kata “Terima Kasih”, bisa ‘telungkup’ panci dan kuali di dapur?

Jika pertanyaan demi pertanyaan di atas diperhatikan, nyaris kita lupa siapa sebenarnya pemberi rezeki? Uang hasil pekerjaan kita ataukah Allah SWT? Seberapa yakinkah kita dengan uang yang didapat dari pekerjaan yang dilakukan akan menjadi milik kita semua? Bukankah sudah sering didengar bahwa ada orang yang memiliki uang banyak, namun akhirnya dirampok? Bahkan, sudah pernah kita ingin memasukkan makanan ke dalam mulut, tetapi tiba-tiba jatuh dan tak jadi dimakan? Sudah pernah juga kita memasukkan makanan ke dalam mulut, malah akhirnya dikeluarkan lagi dari mulut?

Banyak pertanyaan demi pertanyaan bisa kita lontarkan jika kita bergantung dengan materi. Materi adalah bagian dari dunia. Padahal, seharusnya kita bergantung pada pemilik materi dan dunia, Allah SWT. Sudah sering kita alami, bingung tak memiliki uang namun tiba-tiba ada saudara yang memberi kita uang? Pernah juga barangkali kita alami, ingin membeli handphone atau mobil, uang yang tak dimiliki tak mencukupi untuk membelinya, namun tiba-tiba kita dapat kabar bahwa kita termasuk pemenang undian dari tabungan yang selama ini ditabung di bank? Pernah juga tak makan hampir dua hari ternyata kita masih bisa hidup dan sehat wal afiat.

Pertanyaan sederhananya, siapa yang menjamin hidup kita di dunia ini? Jawabannya pasti Allah SWT. Oleh karena itu, tingkatkan takwa kepada Allah. Lakonkan pekerjaan sehari-hari dengan nilai takwa. Jangan pernah ‘selipkan’ nilai menzhalimi diri sendiri maupun orang lain. Bukankah berulang kali di dalam Al-Qur’an Allah SWT menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zhalim?

Adalah pesan sederhana Yahya bin Mu’adz yang layak untuk selalu diingat, “Orang yang mulia tidak bakal mendurhakai Allah, dan orang yang bijaksana tidak akan mengutamakan dunia di atas kepentingan akhirat.” Pesannya selaras dengan apa yang diungkapkan Al-‘Amasy Sulaiman bin Mihran Al-Kufiy. Sama-sama mengajak untuk meletakkan takwa dalam segala aktivitas yang dilakukan.

Artinya, jika melakukan sesuatu, lakukan karena Allah. Bukan karena uang. Bukan karena jabatan. Bukan pula untuk ‘cari muka’ di depan orang lain. Lakukanlah semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Persis seperti kata Tom Mc Iffle dalam buku “Big Brain Big Money”-nya, “Bekerjalah untuk diri Anda sendiri, bukan untuk uang atau gaji.” Jika mindset bekerja saja demikian, seharusnya dalam beribadah juga demikian. Apapun profesi yang dilakoni, di dalam Islam, semuanya bisa dijadikan ibadah. Anda guru, bisa menjadikan pekerjaan tersebut sebagai ibadah. Anda pebisnis, bisa menjadikan pekerjaan tersebut sebagai ibadah. Bahkan Anda yang karyawan juga bisa menjadikan pekerjaan sebagai ibadah.

Intinya, balut pekerjaan yang dilakoni dengan nilai takwa. Jangan pikirkan berapa uang yang bakal diterima, tapi pikirkanlah bahwa bekerja adalah bagian dari perintah takwa kepada-Nya. Allah SWT di dalam Al-Qur’an beberapa kali menyuruh umat Muhammad untuk melakukan pekerjaan yang paling baik. Misalnya di dalam surat Al-Kahfi ayat 30, “Sungguh, mereka yang beriman dan beramal shaleh, kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.”

Artinya, Allah SWT menganjurkan kita untuk melakukan apapun dengan sebaik-baiknya. Karena dengan melakukan sebaik-baiknya, akan membuat kita menjadi manusia profesional. Bila yang dilakukan selalu dihitung-hitung dengan materi, maka akan sulit menjadikan kita sebagai orang yang expert (ahli).

Terlebih lagi dalam hal beribadah kepada Allah. Coba perhatikan kenapa mereka yang rajin shalat dhuha, shalat tahajjud, baca Al-Qur’an, dan ibadah-ibadah lainnya, rezekinya begitu murah? Kehidupan mereka begitu bahagia dan tentram. Seakan-akan rezeki yang mereka dapat selalu cukup. Jawabannya, karena mereka beribadah dengan sebaik-baik amal. Mereka tak mengharapkan apa-apa, kecuali pahala dan cinta Allah. Kalau Allah sudah suka dan cinta kepada mereka, maka tak heran bila rezeki mereka begitu murah. Seakan-akan segala kesusahan mereka segera diselesaikan Allah dengan cepat.

Makanya, pasti beruntung menjadi orang yang bertakwa dalam segala kondisi. Apapun yang dilakonkan semuanya dilandasi ketakwaan kepada Allah. Karena orang yang bertakwa dalam segala kondisi sedang mengamalkan hadits Qudsi yang bernada, “Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan berbuat zhalim atas diri-Ku sendiri dan perbuatan itu pula Aku haramkan atas kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi. Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang-orang yang aku bimbing, maka mohonlah bimbingan kepada-Ku agar Aku bimbing kalian. Wahai para hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang aku beri makanan, maka mohonkanlah makanan kepada-Ku biar Aku beri kalian makanan. Wahai para hamba-Ku, semua kalian telanjang, kecuali yang Aku sandangi, maka mohonkanlah pakaian kepada-Ku biar aku beri kalian pakaian. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan di siang dan malam hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampunan kepada-Ku, biar aku ampuni kalian semua.”

Mari balut segala aktivitas yang dilakukan dengan pondasi takwa, bukan dengan harta. Yakinkan diri menjadi manusia yang bermanfaat. Jika sudah demikian, pesan Albert Enstein, “Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusaha menjadi manusia yang berguna.” akan menjelma di dalam diri. Bukan hanya itu saja, sabda Nabi Muhammad SAW, “Ada dua hal yang tak dapat mengungguli keduanya, beriman kepada Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin.” akan menjadi pilar dalam kehidupan sehari-hari.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0760 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels