QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://hilmybram.kotasantri.com
Bergabung
14 Desember 2009 pukul 23:28 WIB
Domisili
Sleman - DI Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Visi yang Menginspirasi
8 Mei 2012 pukul 05:30 WIB
Mendengar dan Memilah
2 Mei 2012 pukul 09:00 WIB
Kisah Spiritual Company
27 April 2012 pukul 00:00 WIB
PNS Oh PNS
19 April 2012 pukul 09:30 WIB
Istighfar dan Rezeki
17 April 2012 pukul 11:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 13 Mei 2012 pukul 10:00 WIB

Dosa dan Kesempitan Hidup

Penulis : Muhammad Hilmy

Musibah dan nikmat silih berganti mendatangi hidup yang singkat ini. Terkadang kita dirasai oleh Allah nikmat yang bertubi-tubi, tak jarang pula didatangi musibah yang tak putus-putus. Suatu hari saya pernah merasakan, betapa sempitnya hidup. Mau ke kanan mentok, mau ke kiri ada tembok penghalang, maju ke depan ada penghalang lainnya. Singkat kata, hidup terasa disempitkan. Rezeki pun serasa disempitkan, uang yang mampir ke dompet hanya sekedar mampir, tidak pernah bisa dinikmati.

Kamis lalu, saya menonton acara Wisata Hati, yang dipandu oleh ustadz Yusuf Mansur. Seolah-olah Allah ingin bicara dengan saya, tema hari itu adalah mengenai shalat malam. Dalam salah satu segmen, ustadz Yusuf Mansur menerangkan bahwa penyebab sempitnya hidup, seretnya rezeki, adalah karena meninggalkan shalat malam. Di saat Allah turun ke bumi, tapi kita tidak tergerak untuk bangun dan menyambut-Nya, maka wajar saja jika kita merasa hidup amat sempit.

Namun, sebelumnya saya pun melakukan introspeksi diri. Betapa banyak dosa yang saya perbuat belakangan ini. Ternyata banyak! Prestasi amal hidup beberapa bulan terakhir ini tidak bisa dikatakan membanggakan, namun menyedihkan dan mengenaskan. Maka pantaslah jika hidup ini serasa sempit, karena dosa yang memang begitu berderet-deret menyertai buku amal saya.

Saya jadi teringat dengan kisah seorang sahabat, Ka’b bin Malik, yang merasa hidupnya sempit dan terasing. Suatu saat, ada panggilan untuk perang Tabuk bagi seluruh kaum muslimin. Namun Ka’b bin Malik tidak mengikuti peperangan tersebut tanpa alasan yang jelas. Maka, ia dihukum dengan cara dikucilkan di daerah pegunungan Sala’, salamnya tak boleh dibalas oleh kaum muslimin lainnya, pembicaraannya pun tak boleh ditanggapi, bahkan Rasulullah SAW pun menghindar dan menjauh darinya. Alangkah sempitnya hidup Ka’b bin Malik karena kesalahannya tidak ikut perang Tabuk. Hingga akhirnya Allah SWT menurunkan surat At-Taubah ayat 118, isinya mengenai selesainya masa pengucilan Ka’b bin Malik. Dosanya diampuni Allah, saudaranya kembali bersahabat dengan Ka’b bin Malik, dan Rasulullah SAW pun menyambutnya dengan senyum bagai purnama. Hidup terasa kembali lapang.

Begitulah jika hidup dipenuhi dosa dan semakin menjauh dari Allah, hasilnya adalah hidup yang teramat sempit. Seolah bumi ini begitu kecilnya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Achmad Fachrie | Pekerja IT
Subhanallah... KotaSantri.com makin lama makin berkembang, baik dari sisi content dan context. Semoga makin bermanfaat untuk para pembaca. Yang belum gabung, gabung aja... Barakallah :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1308 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels