Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Aku Akan Memanggilmu Ibu, Selamanya
13 Maret 2009 pukul 20:04 WIB
Berita Lelayu
11 Maret 2009 pukul 22:15 WIB
Titik Perubahan
11 Maret 2009 pukul 15:15 WIB
When Silent is Gold
4 Maret 2009 pukul 15:38 WIB
Talk Less Do More
2 Maret 2009 pukul 00:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 23 Maret 2009 pukul 16:30 WIB

Well-Dying

Penulis : Setta SS

Hwang Yu-jin terbaring dalam peti mati di ruangan temaram. Insinyur Mesin berusia 29 tahun itu belum mati. Prosesi kematian bohong-bohongan di kantor pusat Korea Life Consulting Co. di Chungju, Korsel, tersebut merupakan bagian dari tren warga Korsel untuk menikmati suasana kematian. Di tengah kemajuan Korsel yang pesat, terapi nyeleneh itu dinilai bisa menentramkan jiwa.

Ya, kalau hidup sehat dalam bahasa Inggris disebut well-being, di sana trennya well-dying alias sakaratul maut yang nyaman.

Untuk beberapa jenak, mata saya tak beralih dari baris-baris kata yang tepat berada di pojok kanan bawah harian Jawa Pos beberapa waktu lalu itu.

Di sana tampak foto Hwang Yu-jin terbaring dengan dandanan khas dalam prosesi kematian mereka yang non-muslim; rapi, cantik, dan wangi. Sambil memegang setangkai bunga di atas dadanya. Tidak seperti lazimnya jenazah seorang muslim yang hanya terbungkus beberapa lembar kain kafan putih.

Saya tidak tahu pasti apa definisi menentramkan jiwa yang menjadi tujuan dari prosesi kematian bohong-bohongan di atas. Apakah hanya sebatas menikmati suasana kematian secara fisik-jasadiyah semata, atau sampai pada hakikat kematian itu sendiri yang hakiki?

Bahwa kematian adalah akhir dari episode perjalanan hidup seorang manusia di dunia yang fana ini dan merupakan pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat sana. Kehidupan kedua di mana setiap kebaikan dan keburukan yang kita perbuat akan mendapatkan balasannya yang setimpal. Seperti apa yang saya imani sebagai seorang muslim.

Terlepas dari apa motif sesungguhnya, tidaklah salah jika kita juga mencobanya. Tidak harus masuk ke dalam peti mayat sungguhan, tentu saja. Tidak pula harus dengan cara menggali tanah seukuran liang lahat kemudian masuk dan berbaring di dalamnya seperti yang dilakukan oleh para salafush-shaleh saat jiwa mereka terasa bebal dan malas beribadah.

Tapi cukup dengan berbaring seperti layaknya posisi jenazah yang dikubur saat akan berangkat tidur, misalnya. Karena intinya adalah dzikrul maut, yaitu membayangkan saat-saat kehidupan terakhir kita sebelum ruh keluar dari raga ini.

Apa yang paling sering menggoda manusia dari kehidupan dunia dan membuatnya mudah terlena, salah satunya ialah karena ajalnya juga tidak dia ketahui. Karena akhir dari hidup ini tidak pernah terdefinisi sebelumnya.

"Dan tiada satu pun jiwa yang mengetahui apa gerangan yang akan ia lakukan esok hari dan di belahan bumi mana kelak ia akan meninggal." (QS. Luqman [31] : 34).

Oleh karena itu, nikmat kesehatan dan nikmat kemudahan seringkali membuat orang tidak menyadari bahwa kelak hidup ini akan berakhir.

Tetapi jika kita melihat berkali-kali, Al-Qur’an menekankan masalah ajal. Dan Rasulullah SAW juga berkali-kali menekankan tentang masalah kematian. Sesungguhnya yang diinginkan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul SAW ialah agar setiap saat kita menyadari titik terakhir ke mana kita menuju. Atau kita menyadari visi dan misi kehidupan kita.

Sesungguhnya yang disebut dengan keimanan itu selalu bermula dari titik kesadaran ini. Bermula dari apa yang disebut oleh Ibnul Qoyyim dengan Al-Yaqallah. Saat dimana jiwa kita terhenyak oleh kenyataan bahwa kita akan memiliki second life. Kehidupan kedua setelah kehidupan di dunia ini.

Maka, bagian yang paling menyentuh dan paling menggugah keimanan kita ialah kesadaran yang kuat tentang waktu. Karena kesadaran tentang waktu ini bagian yang paling kuat membentuk gaya hidup seseorang. Oleh karena kesadaran tentang waktu merupakan bagian dari kesadaran tentang hidup itu sendiri.

Yaitu apabila kita mampu merasakan setiap detik dari perjalanan waktu kita. Merasakan keberartian pada setiap detik yang kita lalui. Menyadari bahwa pohon kehidupan kita daun-daunnya setiap hari mulai berguguran. Sehingga ingatan kita tentang titik akhir dari kehidupan ini selalu kuat mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita merasa dan cara kita bertindak.

"Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan menghadapi kematian itu." (HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya).

Jadi, pertanyaannya sekarang ialah, “Sudahkah kita mengingat saat-saat kematian kita hari ini?”

***

19 Januari 2oo8 o3:o2 p.m

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mashalli | karyawan
Alhamdulillah... Meski baru bergabung di KSC, semakin nambah wawasan dan berbagi pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0768 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels