HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Sebuah Tafakur untuk Keluarga Kita
30 Juni 2012 pukul 10:30 WIB
Ketika Istri Salah
12 Juni 2012 pukul 12:30 WIB
Lebih Hemat dengan Berbusana Muslimah
7 Juni 2012 pukul 14:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 11 Juli 2012 pukul 10:00 WIB

Puasa : Syari'at, Tarekat, dan Hakikat

Penulis : Redaksi KSC

Alkisah, seorang muslim yang hidup setelah masa Khulafa ar-Rasyidun, sebut saja namanya Fulan. Ia pada masa itu dikenal ahli ibadah yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Ia hampir tiap hari melakukan i'tikaf, dzikir, shalat, dan ibadah lainnya. Ia jarang ke luar karena penglihatannya tidak normal alias buta.

Suatu hari, datang kabar bahwa temannya sakit keras. Kemudian ia menengoknya dengan diantarkan sahabatnya yang lain. Ketika tiba, temannya itu meminta ia untuk berdo'a demi kesembuhannya. Karena itulah setiap selesai shalat ia mendo'akannya. Ajaibnya, beberapa hari setelah kunjungan itu, temannya sembuh.

Atas kesembuhan itulah ia dinilai sebagai wali yang dapat menyembuhkan orang dengan do'a. Karena alasan itu pula banyak orang yang meminta dido'akan olehnya. Tiap orang yang meminta do'a kepadanya senantiasa terkabulkan. Sampailah suatu hari seorang teman berbicara kepadanya, "Fulan, do'a-do'amu itu sangat mujarab dan benar-benar dikabulkan Allah. Tapi aku heran kenapa engkau tidak berdo'a untuk kesembuhan matamu sendiri."

Ditanya seperti itu, Fulan menjawab, "Tidak, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diriku sendiri. Aku merasa beruntung karena kecacatanku ini telah mendekatkan aku kepada Allah. Dan kemungkinan besar bila mataku normal, pasti akan lebih banyak terjerumus dalam kemaksiatan dibandingkan ketaatan."

Demikian kisah yang cukup luar biasa. Penderitaan yang ada pada kisah di atas menjadi salah satu alat untuk memasrahkan diri kepada Allah. Sebuah cara pandang yang muncul atas nurani yang jarang kita temukan di lingkungan masyarakat. Di zaman modern ini, sangat jarang orang yang mau bersyukur dengan ketentuan yang ditetapkan sebagai takdir Allah. Banyak yang tidak bisa menerima keberadaan dirinya yang serba kurang, atau yang berbeda jauh dengan orang lain. Banyak orang normal, tapi lupa kepada Allah dan cenderung tidak menghiraukan perintah dan larangan-Nya.

Kita juga sering melihat banyak orang Islam yang tidak mengikuti aturan-aturan Allah, tidak berpuasa misalnya. Mereka sering menganggap bahwa dengan puasa dirinya sedang diperas, dihambat, dan diperdaya. Mereka tidak paham bahwa dengan puasa justru kita dibersihkan dan disehatkan dari berbagai penyakit lahir maupun batin. Dengan puasa, kita dilatih jujur dan disiplin serta dilatih untuk peka terhadap sesama saudara kita yang mustadhafin (dhuafa).

Bagaimana caranya supaya puasa kita mencapainya? Dalam literatur tasawuf, terutama al-Ghazali dan al-Qusyairi menyarankan berpuasa dalam tataran hakikat. Akan tetapi, tahapan hakikat ini tidak bisa begitu saja diraih, tapi harus bertahap dari fase syari'at, tarekat, dan hakikat. Pada fase syari'at ini, seorang muslim harus paham dalil-dalil syari` dan hukum batal dan sahnya puasa. Kemudian, ia diharuskan untuk meningkatkan ke tingkat selanjutnya, yaitu tarekat. Selain puasa secara lahiriah (syari'at), juga harus mempuasakan aspek batinnya. Seperti puasa mencela, memaki, bohong, bertengkar, atau tidak berimajinasi maupun berpikir tentang yang porno dan hal-hal nista atau yang dapat membuat rusaknya nilai puasa, serta tidak meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunnah yang rutin dikerjakan.

Jadi, pada fase tarekat, seorang muslim dituntut untuk lebih kreatif dan produktif dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya. Apabila seorang muslim tetap istiqamah dalam kedua fase tersebut, maka ia sedang menuju tangga hakikat. Karena itu, seseorang yang sedang menuju fase hakikat harus mampu merasakan dengan kesadaran penuh bahwa dengan puasa ia sebenarnya sedang berhubungan dengan Allah SWT. Sehingga apapun yang dikerjakan dan dilakukan, baik ketika berpuasa maupun saat di luar ibadah puasa, senantiasa merasa dijaga dan diawasi Allah. Inilah yang dimaksud berada dalam tataran hakikat.

Pendeknya, puasa secara syari'at adalah khidmatullah. Secara tarekat adalah qurbatullah. Secara hakikat ialah penggabungan diri dengan Allah (wushlatullah). Mereka yang bisa bergabung dengan Allah adalah mereka yang suci dan kembali pada fitrah Ilahi. Orang yang termasuk kategori tersebut layak disebut muttaqin (orang bertaqwa). Bukankah tujuan puasa Ramadhan agar manusia menjadi bertaqwa? Karena itu, puasa Ramadhan bukan hanya menjalankan syari'at, tetapi juga untuk mengembalikan kita pada fitrah kesucian. Bagi mereka yang mensucikan diri (tazkiyatun nafs) adalah yang pantas untuk sampai pada Idul Fitri.

Menjalankan aturan Allah dengan penuh keikhlasan akan meninggikan kita menuju menjadi manusia yang sempurna. Yakni manusia yang tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang lain -baik itu materi maupun jabatan sosial- karena segala keperluaannya telah dipenuhi dan dijamin Allah Yang Mahasempurna. Allah SWT berfirman, "Dia telah memberikan kepadamu segala keperluan dari apa-apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan ingkar." (QS. Ibrahim [14] : 34).

Ahmad Sahidin, Editor Penebit Salamadani Bandung dan Penulis Buku - DPU

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1152 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels