|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://kotasantri.com |





Kamis, 28 Juni 2012 pukul 15:15 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Setelah sepuluh tahun berislam, Yosephine kini tak memiliki keraguan tentang Islam. Ia menikmati kehidupannya sebagai Muslim yang, baginya, selalu berlimpah rahmat dan keberuntungan hidup. Di atas itu, sebagai Muslim, ia merasa Allah selalu ada untuknya.
Jika awalnya ia bertemu dengan Islam sebagai sebuah ‘pertaruhan’, Yosephine kini menjadikannya ‘bisnis’ antara dirinya dengan Allah. “Kita diperintahkan untuk meminta kepada Allah. Dan pada saat yang sama, kita diperintahkan untuk menaati aturannya,” katanya. “Itu mengajarkan kita pamrih kepada-Nya.”
Karena itu, Yosephine menjadikan Allah solusi atas berbagai permasalahan dan kesulitan hidup. Manusia bisa meminta pertolongan apapun dengan memberikan jaminan, seperti berbisnis. “Ketika usahaku sedang sulit misalnya, aku mencoba mengimbangi do'a-do'aku dengan sedekah.”
Selain itu, yang terpenting bagi Yosephine adalah bahwa pamrih pada Allah juga berarti selalu waspada atas pengawasan-Nya. “Itu membuat kita menerima segala macam kondisi, baik atau buruk, sebagai bukti keberadaan Allah untuk kita, agar kita selalu berserah diri kepada-Nya dan mengharap imbalan hanya dari-Nya,” ujarnya.
Ditanya tentang hal lain yang diperolehnya dari Islam, Yosephine menjawab lugas, “Islam itu mudah dan memudahkan. Kita bisa meminta apapun kepada Allah, kapanpun, di manapun.”
republika.co.id
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.