|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Rabu, 16 November 2011 pukul 11:22 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Siapa tak kenal Ashabul Kahfi? Kisah yang menceritakan tentang tujuh pemuda beriman kepada Allah, dan mengasingkan diri untuk menyelamatkan imannya ke sebuah gua. Mereka tertidur selama 309 tahun, tapi ajaibnya kondisi fisik mereka tidak berubah sama sekali.
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi [18] : 9).
“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS. Al-Kahfi [18] : 10).
“… Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb-nya dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18] : 13).
Kisah yang diberitakan dalam Al-Qur'an ini sarat dengan hikmah. Tak hanya menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah, namun juga secara gamblang mengabarkan bagaimana karakter seorang pemuda Islam (pemuda Kahfi).
***
Jadilah Pemuda Kahfi
Peradaban Islam pun tak lepas dari kiprah para pemuda. Dalam lembar-lembar sejarah kita temukan bagaimana seorang pemuda berusia 18 tahun dipercaya memimpin pasukan besar Islam. Ia adalah Usamah Bin Zaid bin Haritsah. Panglima perang termuda kesayangan Rasulullah SAW.
Padahal, dalam pasukan perang yang hendak diberangkatkan untuk memerangi pasukan super power Romawi terdapat sahabat-sahabat senior seperti Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain. Namun, Rasulullah lebih memercayakan pasukan kepada seorang remaja, daripada sahabat lainnya yang lebih tua dan berpengalaman.
Lalu, sosok pemuda penakluk Konstantinopel. Suatu kota yang pada masa itu (abad ke-15 M) merupakan salah satu pusat kebudayaan dunia. Konstantinopel terletak di Selat Bosphorus, dan merupakan ibu kota dari kekaisaran Romawi Timur (Byzantium).
Pesona Konstantinopel amat memikat. Membuat banyak bangsa berupaya menaklukannya. Mulai dari bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, hingga Pasukan Salib meskipun tujuan awalnya menguasai Jerusalem. Bangsa Muslim pun terdorong ingin menguasai Konstantinopel. Tak hanya karena nilai strategis dan historis dari kota yang didirikan oleh Kaisar Constantin itu, tapi juga atas kepercayaan kepada perkiraan Rasulullah SAW.
Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah berkata, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad
bin Hanbal Al-Musnad 4/335).
Janji Rasulullah itu pun jadi kenyataan. Delapan abad kemudian, seorang hamba Allah terpilih, Muhammad II Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun. Penantian umat muslim berabad-abad pun berbuah indah. Dan itu melalui kiprah seorang pemuda.
Karenanya tak berlebihan jika disebutkan setiap peradaban dunia pasti dibangun oleh para pemuda. Kucuran keringat mereka berpadu dengan pemikiran fundamental untuk mendobrak kejumudan berpikir masyarakat tempat mereka hidup. Bermodalkan landasan keimanan lilahi ta’ala dan visi rahmatan lil ‘alamin, mampu menjadikan sebuah impian jadi kenyataan.
Merekalah, sosok pemuda yang memiliki karakter pemuda Kahfi. Mereka ada di setiap generasi. Menjadi sumbu peradaban yang dibangun untuk menyempurnakan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah semata.
***
Kalimat Tauhiid
Lalu, seperti apa karakter dari pemuda Kahfi? Pemuda Kahfi adalah sosok pemuda yang teguh memegang keyakinan diri hanya untuk Rabbnya. Menentang ketidakadilan dan berupaya mengubahnya semata-mata karena ketundukan kepada illahnya manusia. Cinta dan harap ditujukan hanya untuk sang kekasih, Allah azza wa jalla.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18] : 28).
Pemuda Kahfi adalah mereka yang meletakkan keimanan kepada Allah sebagai ruh dalam kehidupannya. Meyakini kebenaran hanya datang dari Allah, yang disampaikan lewat utusan-Nya, Rasullah SAW. Bukan kebenaran versi pemikiran manusia (isme) atau warisan nenek moyang (tradisi/kultural). “Dan katakanlah : Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” (QS. Al-Kahfi [18] : 29).
Inilah karakter pemuda Kahfi. Sosok yang dalam jiwanya bersemayam kalimat tauhid “Laa Ilaaha llallah”. Kalimat ini merupakan pengakuan mutlak seorang muslim yang hanya menjadikan Allah SWT sebagai Tuhannya. Ia adalah hamba dan Allah adalah Rabb.
Implikasinya, ia hanya mau diatur oleh aturannya Allah, bukan aturan buatan manusia. Ia meletakkan Allah sebagai satu-satunya yang mutlak dicintai dan ditakuti, bukan makhluk ciptaannya. Dan ia memperjuangkan kekuasan Allah saja yang harus tegak di muka bumi ini, bukan kekuasaan dari thagut (sesembahan selain Allah).
Adakah pemuda bermental seperti para pemuda Kahfi itu? Jika ada, di manakah ia kini? Insya Allah, para ‘pemuda Kahfi’ akan selalu terlahir di setiap zaman. Semoga, salah satunya adalah kita. Pemuda Islam yang melepaskan ketergantungan dari makhluk dan menisbatkan diri dan hidupnya hanya kepada Allah.
Karya Suhendri Cahya Purnama - Swadaya Oktober 2011
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.