Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Welcome To Ramadhan
30 Juli 2011 pukul 12:00 WIB
Memilih Jenis-Jenis Amal Sukses Ramadhan
27 Juli 2011 pukul 12:00 WIB
Agar Gaul Banyak Ngaji
13 Juli 2011 pukul 11:55 WIB
Jangan Sembunyikan Keharuman Al-Qur’an
1 Juni 2011 pukul 11:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 3 Agustus 2011 pukul 11:25 WIB

Gunakan "Mesin" Tarawih

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Selama di Ramadhan, setiap malam kita dianjurkan untuk mengisinya dengan beraneka ibadah sunnah. Di antara ibadah yang hampir semua umat Islam melakukannya adalah salat tarawih. Ibadah yang kerap disenangi umat Muhammad SAW di awal-awal Ramadhan. Saat di tengah dan di akhir mulai ditinggalkan. Kesenangan itu menjadi bukti bahwa awalnya semua orang yang berpuasa menyenangi kehadiran Ramadhan. Tapi, kesenangan itu tak dapat ditetapkan untuk terus menerus ada. Semuanya tergantung pada orang yang berpuasa.

Jika diibaratkan, kesenangan bersama Ramadhan mirip seperti memiliki mobil baru. Hampir setiap saat diperhatikan dan diingat mobilnya. Berjalannya waktu, sikap manusia pun berubah. Ada yang terus memperhatikan dan mengontrol bagaimana agar mobilnya tetap bisa kelihatan seperti aslinya dan ada pula yang mulai cuek serta membiarkan mobilnya kelihatan kurang rawat.

Sebenarnya, fenomena ini juga berkaitan dengan pembentukan karakter hidup : Mau sukses atau tidak. Tepatnya, saat berada di kehidupan yang baru, seperti kantor baru, pekerjaan baru, dan lain-lain, ada orang yang bersemangat di awal kerja, namun di pertengahan mengalami penurunan, bahkan ada yang drastis menurun dan bahkan mengundurkan diri. Ada juga yang makin giat hingga menuntunnya untuk naik pangkat. Bahkan, terkadang pekerjaan sama tapi perilaku orang yang memiki pekerjaan itu berbeda-beda. Anda tahu sebabnya?

Hanya dua sebab. Orang yang dapat meraih kesuksesan hanya berpedoman pada kepercayaan dan ingat tujuannya hanya kebahagian masa depan. Percaya bahwa pekerjaan ini adalah tempatnya mengais rezeki agar bisa meraup masa depan cemerlang. Kepercayaan telah menyulapnya menjadi sukses. Karena kepercayaan tak membuatnya mudah menyerah. Kesulitan dan kekurangan yang ditemukan akan segera diubah menjadi kenyamanan. Cukupkah dengan keyakinan saja?

Tidak cukup. Itu harus ditambah dengan ingat bahwa kebahagiaan adalah tujuan masa depan. Apa motivasi mengingat masa depan? Dengan ingat masa depan berarti mengingat akan adanya masa di mana tenaga dan kemampuan kita tidak seperti sekarang ini. Mengingat ada masa untuk hidup bersantai tanpa perlu bersusah payah lagi. Selain itu, kita pun sudah mempersiapkan laporan pertanggungjawaban di hadapan Allah bahwa umur yang diberi telah kita maksimalkan untuk meraih kesuksesan dan kecemerlangan masa depan.

Lantas, apa hubungan keterkaitan shalat Tarawih dengan kesuksesan? Shalat tarawih itu adalah potret bagaimana kita mengevaluasi diri untuk merebut kesuksesan esok hari. Karena di dalam tarawih kita dibina untuk meningkatkan amal ibadah sebagai bekal ‘tambahan’ selain ibadah di siang hari. Bukankah arti tarawih itu bersantai? Santai di sini bukan hanya senang-senang. Sebenarnya, tarawih adalah ibadah yang lebih fokus dilakukan dengan santai sembari menerungkan apa aktivitas ibadah kita di siang hari sudah apik atau belum? Bahkan, malam tarawih saatnya kita gunakan untuk menyusun strategi agar puasa esok hari bisa lebih baik dan lebih ditingkatkan aktivitas ibadahnya. Karena Rasul menyatakan, “Siapa yang mendirikan malam-malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, akan diampuni Allah dosa-dosanya yang lalu.”

Ingat, hanya orang yang punya ‘mesin’ penuh keimanan dan keikhlasan yang bisa meraih janji Allah. Bukankah janji Allah di atas kesuksesan? Sukses yang bisa memberikan pertanggungjawaban bahwa malam-malam Ramadhan kita digunakan untuk ibadah. Sukses yang membuktikan bahwa masa depan kita cemerlang, dijamin masuk surga dan bebas menikmati segala kenikmatan. Ya, dengan ‘mesin’ penuh keimanan dan keikhlasan mampu mentakdirkan kita sukses berpuasa.

Demikian juga dengan kesuksesan dunia. Hanya bisa diraih dengan kepercayaan dan senantiasa mengingat adanya masa depan. Anda tak akan ragu lagi dengan kenikmatan yang ada di masa depan. Anda bisa tinggal pilih dan nikmati karena anda sekarang punya kuasa. Kekuasaan hanya bisa diraih dari kesuksesan anda. Bagaimana dengan ‘mesin’ sukses anda saat ini? Apakah sudah anda miliki?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mutiara | Swasta
Alhamdulillah, senangnya udah bisa bergabung dengan KotaSantri.com. Jazakumullah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1280 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels