|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|





Rabu, 6 April 2011 pukul 14:14 WIB
Penulis : Marsahid Agung S
Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di Bumi Khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kegiatan kajian keislaman yang diadakan hampir di seluruh tempat, terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang 'makan bangku' pendidikan.
Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya 'westlife' ini, kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. Apalagi invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam lewat berbagai cara telah berhasil dan sangat mewarnai kehidupan bangsa kita yang mayoritas adalah muslim. Karenanya sebagai khairu ummah kita harus melawannya dengan cara yang sama. Seluruh potensi yang kita miliki harus dioptimalkan. Dan pondasi awal untuk bisa mengoptimalkan potensi Al-Insaan yang ada dalam diri kita adalah Tarbiyah.
***
Pentingnya Tarbiyah
Tarbiyah sangat penting sebagai imunitas dalam menghadapi serangan musuh, selain sebagai sarana penguat aqidah. Karena Tarbiyah adalah sebuah sarana untuk membentuk pribadi dambaan ummat hingga mampu membentuk komunitas Islami menuju terwujudnya kembali sebuah peradaban ideal.
Tarbiyah yang merupakan sebuah kemestian, keharusan bagi para da'i Islam memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya 'begitu indah'. Rabbaniyah, sebagaimana karakter Islam itu sendiri, Tarbiyah pun bersumber dan bertujuan hanya kepada Allah. Lalu tadaruj atau bertahap. Dakwah adalah sebuah proses dan tahapan, sehingga Tarbiyah pun dilakukan dan berjalan secara bertahap, step-by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan meski juga tidak ringan. Selain itu, dalam Tarbiyah juga berlaku tawazun alias seimbang. Artinya menempatkan segala sesuatu pada haknya. Dan juga syaamil atau universal, menyentuh seluruh lini dan sisi kehidupan. Karena Tarbiyah –sebagai pondasi dakwah Islam yang rahmatan lil-‘alamiin– 'memanusiakan' manusia. Terakhir, dalam Tarbiyah tidak mengenal kata cukup atau berhenti, ia berkesinambungan (istimror) sepanjang hidup. Atau yang disebut life education alias Tarbiyah madal hayah.
***
Proses Tarbiyah
Tarbiyah dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga pendekatan; idealis, taktis, dan operasional.
Pendekatan idealis adalah jalan bagi para da'i Islam, tidak ada jalan lain karena jalannya adalah jalan tarbawi yang memiliki tiga karakter mendasar. Pertama, sulit tapi hasilnya berkualitas. Proses Tarbiyah ibarat menanam pohon jati, yang senantiasa harus dijaga dan dipelihara sehingga akarnya tetap kuat dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencang. Karenanya jalan Tarbawi merupakan proses pembentukan pribadi dambaan.
Kedua, proses yang panjang tapi terjaga kemurniannya. Dakwah adalah jalan panjang yang tidak hanya dilalui oleh satu generasi. Akan tetapi, meski terkadang untuk mencapai target dan sasaran tertentu harus melalui sekian banyak generasi, Ashalah-nya tetap terjaga dan hamasah tetap terpelihara. Tarbiyah membentuk pribadi yang telah teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah serta pribadi yang tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan.
Ketiga, lambat tapi hasilnya terjamin. Dakwah ibarat kompetisi dan bukan perlombaan, untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dengan 'staying power' untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas terjamin. Kompetisi memang terlihat lama dan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kesuksesan di akhir kompetisi. Watak perjalanan dakwah yang lambat harus dilihat dari proses dan tahapannya, bukan dari perangai para pelakunya (oknum da'i), karena perangai yang lambat adalah sebuah kelalaian. Dan salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah lahirnya kepribadian yang integral, tidak mendua, dan tidak terbelah, yang akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.
Setelah ketiga faktor idealis di atas terealisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetakan langkah-langkah taktis, untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader serta menyelaraskan dukungan massa dengan potensi Tarbiyah.
Terakhir adalah langkah strategis, dan dalam hal ini yang sangat penting dalam sebuah perjalanan dakwah adalah fokus untuk menyusun barisan kader inti serta untuk menghindari terjadinya "lose generation", perlu dirumuskan strategi untuk membina kader-kader baru. Semakin banyak jumlah kader inti di samping kader baru, baik secara kualitas maupun kuantitas, akan banyak membentuk dakwah dalam menghadapi berbagai permasalahan dan ancaman.
***
Saat terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa di masa Abu Bakar RA, di sepertiga jazirah Arab yang selamat, kader inti dakwah di wilayah itu dijaga dan dipelihara. Lalu pembinaan terhadap kader-kader baru – yang kebanyakan adalah tawanan perang Riddah – terus dijalankan hingga masa Umar bin Khattab RA. Pada saat perang Qadisiyah, kader-kader baru yang dibina mayoritas berada di garis terdepan bahkan tak jarang di antaranya kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan Islam. Dan itulah hasil Tarbiyah (QS. Ali Imran: 146).
Dari berbagai sumber.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Marsahid Agung S sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.