|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|





Ahad, 1 Desember 2013 pukul 18:00 WIB
Penulis : Syaifoel Hardy
Jalan-jalan di beberapa tempat di kota kami, saya terkadang heran melihat sejumlah rumah yang memasang papan nama pemilik rumah dengan menyantumkan sederetan gelar si empunya rumah. Ada yang menyertakan predikat 'haji'nya pula.
Meski nama-namanya sendiri, rumah-rumahnya sendiri, juga papan dan gelarnya sendiri, yang membuat saya ingin tahu adalah, kira-kira maksudnya apa?
Kalau hanya ingin dihormati, pada dasarnya bukan karena gelar atau titelnya yang membuat mereka dihormati. Terlebih karena sikap, tutur kata, sopan santun, dan perilaku sehar-hari, terhadap lingkungan, masyarakat, sosial, dan sekitarnya.
Jadi bukan gelar itu sendiri yang membuat mereka dihargai atau disegani. Memang, produk sebuah pendidikan adalah menelorkan orang-orang yang pintar, dalam artian pengetahuan, keterampilan serta sikap. Orang-orang yang berhasil menunjukkan kualitas pemikiran, hati, perasaan, dan keterampilan ini mendapatkan penghargaan di masyarakat, sejatinya bukan lantaran gelarnya. Tetapi hasil konkrit yang diperoleh sesudah menempuh pendidikannya.
So, betapapun mereka tidak menyelesaikan pendidikan hingga wisuda, bukan berarti tidak mendapatkan penghargaan dari masyarakat.
Suatu hari, saya pernah dititipi seorang teman, untuk menyebutkan 'gelar' dokternya, pada saya yang bertugas sebagai MC. Dia bilang, sebaiknya jangan hanya panggil nama sebagaimana biasa saya lakukan saat komunikasi dengannya. Permintaan seperti ini bikin saya heran, kok ya ada orang-orang yang meminta gelarnya disebutkan di depan publik.
Hemat saya, konotasinya negatif, karena terkesan dia 'memelas, meminta, dan memohon' untuk dihormati, lewat gelar.
Pelajaran berharga yang ingin saya sampaikan adalah, orang tidak perlu tahu gelar di depan dan di belakang nama anda. Sebaliknya, cukup dengan performance yang anda tunjukkan lewat pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang anda sumbangkan, mereka akan menilai, pantas tidaknya kita menyandang predikat SMK, D1, D3, S1, S2, S3, atau tidak pernah sekolah!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.