|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Selasa, 21 Mei 2013 pukul 20:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Dalam sebuah sesi sharing di sebuah seminar kepenulisan, saya pernah mengatakan bahwa dalam setahun saya menghasilkan sekitar 500 tulisan yang tersebar di berbagai media massa. Di sana kemudian saya share dan menantang peserta yang ingin menjadi seorang penulis. “Berapa artikel tulisan kamu dalam setahun ini?” Banyak dari mereka yang menjawab, “20, 10,″ bahkan belum sama sekali. Saya kemudian menantang, “Saya bisa menulis 500 tulisan dalam setahun, kamu pasti juga bisa.”
Beberapa saat setelah seminar, saya dihampiri oleh seorang yang ingin bicara dengan saya. “Mas Arry, saya hanya ingin mengingatkan, bahwa jangan pernah ujub atas semua prestasi yang mas Arry torehkan. 500 tulisan itu belum ada apa-apanya, hati-hati menjadi sombong, mas.”
Saya tertegun saja, kemudian hal ini menjadi sebuah diskusi yang sangat menarik. Saya akan menceritakannya pada tulisan kali ini.
Saya tertarik dengan kata ujub. Buat saya, dan memang arti secara umum dijelaskan bahwa ujub adalah suatu sikap bangga akan diri sendiri. Takjub pada diri sendiri, yang nantinya berpotensi membuat diri kita merasa lebih tinggi dari yang lain.
Saya langsung berintrospeksi, mungkin ada yang salah dengan cara pembawaan saya. Hmm... Padahal kalau boleh jujur, saya merasa diri saya ini belum ada apa-apanya dan tidak hebat sama sekali. Saya hanya share dan melakukan sesuatu yang saya sukai. Baiklah, ini mungkin bisa menjadi intropeksi secara pribadi buat diri saya. Namun, saya juga ada beberapa catatan khusus terkait hal ini.
Bagaimana Cara Kita Berpikir, Maka Menentukan Bagaimana Kita Bertindak
Banyak saya menemukan teman atau sahabat saya yang memiliki potensi besar untuk menjadi orang hebat, namun memilih untuk menjadi orang bisa dengan alasan “takut ujub, takut riya’, dan takut menjadi sombong”. Tahukah Anda, sampai detik inipun orang yang menasihati saya tentang ujub, belum pernah mengirimkan tulisan yang pernah dia janjikan ke saya sebagai bentuk action setelah pelatihan. Semoga bukan karena takut ujub ya.
Saya hanya mendo'akan buat teman saya yang seperti itu. Bukankah Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan potensi? Mengapa kita mengerdilkan diri kita sendiri? Mengapa kita menghancurkan diri kita sendiri dengan berkata, “Biarlah gue menjadi biasa, yang penting gue gak ujub, gak sombong, gak riya’.” Lah, bukankah merasa diri gak ujub itu justru malah termasuk ujub? Apa yang akan terjadi kira-kira dengan orang yang berpikir seperti ini? Mereka pasti tidak akan bergerak, karena mereka menganggap apa yang namanya prestasi bisa membuat orang menjadi sombong. Padahal, dengan berprestasi, kita bisa dengan mudah mengajak orang untuk melakukan hal yang sama. Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya, berkarya nyata, dan tetap rendah hati. Bukankah begitu?
Tidak Ada Prestasi, tidak Ada Inspirasi
Seringkali mungkin kita iri dengan mereka yang seumuran dengan kita, namun capaian mereka lebih besar dari diri kita. Saya pun pernah mengalami hal ini. Namun, ujung dari rasa ini hanya ada dua :
Pertama, mereka mencari alasan dan pembenaran untuk tetap pada kondisi saat ini.
Kedua, mereka memutuskan untuk bisa (minimal) menyamakan atau bahkan mengalahkan prestasi orang yang membuat iri itu.
Mana yang lebih baik? Jelas yang kedua. Orang yang pertama, seringkali berkata, “Terang saja dia begitu, dia kan…; Pantas saja dia sukses, dia kan….” Dan yang paling parah adalah, “Gue milih biasa aja, gue gak mau sombong, bro.” Ini namanya bunuh diri dan logikanya terbalik. Merasa diri tidak sombong otomatis akan merasa bahwa diri ini lebih baik dari yang lain.
Intinya, ujub atau tidak, itu diri kita sendiri yang menentukan. Saya berterima kasih kepada teman dan rekan saya yang selalu mengingatkan saya untuk tidak ujub, riya’, dan sombong. Berat memang untuk menjaga niat, namun gerakan menebar kebaikan tetap harus jalan.
Pesan yang saya terima dari kritik ujub kepada saya satu, "Don’t Think Others Smaller than You."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.