|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Jum'at, 10 Mei 2013 pukul 22:30 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Saya tergabung di beberapa grup BBM dan Whatsapp, banyak di antaranya komunitas yang orang-orangnya memang sudah saya kenal dekat. Seringkali jika kita semua lagi senggang, kita saling adu celotehan galau di grup tersebut. Istilah galau ini memang lagi senang-senangnya dibahas oleh orang-orang seumuran saya. Sampai ada temen saya yang bilang, “Gile di grup ini cuma Arry doang yang belum pernah gue liat galaunya. Lo kok bisa begtu Ry? Pernah stress ga sih lo? Kalo ada yang pernah liat Arry galau gue traktir kebab.”
Wuah, saya ketawa-ketawa saja di grup itu. Memang benar, aktivitas saya memimpin dua unit bisnis, komunitas nasional, penulis, dan mahasiswa tingkat akhir sebenarnya cukup bisa dijadikan alasan bahwa saya ‘layak galau’ atau bahkan ‘layak stres’. Namun akan saya beri tahu bocorannya, kegalauan atau rasa stres saya hilang dengan menulis. Ya, menulis. Jika Anda ingin tahu kenapa, silakan baca tulisan ini lebih lanjut.
Dulu, saya adalah orang yang sering sekali sakit. Sewaktu SMP hingga awal masuk SMA, sudah tidak terhitung berapa kali saya sakit saat sedang banyak pikiran. Ketika saya mendapat banyak tugas, saya ingin sekali tugas itu sempurna saya kerjakan. Namun, apa daya. Tugas itu tidak ada habisnya, hubungan saya merenggang dengan orang terdekat, yang pada akhirnya sayapun menjadi makin stres adanya. Semakin banyak pikiran, ternyata membuat fisik pun menjadi sakit. Jika sudah seperti ini, saya seringkali demam dan tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
Sampai akhirnya ada seorang kakak kelas saya yang bilang bahwa, cobalah menuliskan segala apa yang kita rasakan di sebuah kertas. Tuliskanlah emosi kita di kertas tersebut. Buatlah cerita, tulis apa saja yang harus dilakukan, tuliskan targetnya, tuliskan perasaan, tuliskan saja. Tidak ada benar-salah. Biarkan mengalir dan terus mengalir.
Hal ini saya lakukan awalnya seminggu sekali setiap akhir pekan. Kemudian saya lakukan lagi, lakukan lagi, dan lakukan lagi. Ternyata, memang rasanya menjadi lebih baik dan lebih lega! Pada waktu itu, mungkin karena semua yang harus saya kerjakan tercatat dengan rapi. Kemudian di sana saya membuat sebuah cerita di mana saya berhubungan baik dengan orang-orang, prestasi saya cemerlang, dan lain sebagainya. Setiap membaca tulisan itu, saya semangat kembali. Pola berpikir sayapun berubah, yang tadinya banyak hanya berpikir, namun sekarang langsung action dan tidak menunda-nunda pekerjaan lagi (karena semua tertulis, tercatat). Hidup saya lebih produktif, stress-free, dan akhirnya merasa lebih jarang atau bahkan dalam setahun hanya sekali saya sakit.
Beberapa tulisanpun saya publikasikan di blog atau media massa. Banyak tanggapan positif dan ucapan terima kasih terhadap isi dari tulisan saya. Tahukah Anda, ternyata saat kita tahu kita bisa menolong seseorang memperbaiki hidup mereka melalui serangkaian kata yang kita tuliskan, hal tersebut dapat memunculkan kebahagiaan yang tak terhingga. Inilah hal lain kenapa menulis bisa mengurangi stres, karena kita bisa merasakan bahwa diri kita bisa bermanfaat bagi orang banyak. Yes, the real happiness!
Kebiasaan menulis itu terbawa hingga sekarang. Jika saya galau atau stres, umumnya dengan menulis satu atau dua artikel di blog ini, maka tingkat stres saya bisa anjlok dengan sangat cepat. Sayapun bersemangat lagi, dan saya merasa hidup saya jauh lebih indah. Bukan berarti tulisan di blog ini adalah bentuk kegalauan saya semua loh.
Kajian ilmiah tentang hal ini juga sudah diteliti oleh James W. Pennebaker, pengajar dari Souther Methodist University, USA. Bahkan sang profesor menyarankan 4 hari terapi pemulihan jiwa dengan menulis segala emosi yang kita rasakan selama 20 menit saja secara konsisten. Hasilnya ternyata positif, bahwa menulis bisa menjadi salah satu sarana mengurangi stres, bahkan menyembuhkan penyakit kanker!
Nah, menarik bukan? Ternyata menulis itu bukan hanya bisa memberikan manfaat untuk orang lain, namun juga manfaat kesehatan untuk diri kita sendiri. Jadi, tunggu apalagi? Untuk bisa hidup sehat, mengurangi galau, mencegah stres akut, dan meningkatkan kebahagiaan, mulailah menulis dari sekarang!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.