QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Hutang Budi, Tidak Perlu Dibawa Mati
3 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Pamer Kertas Berharga, Paradigma Lama
28 Januari 2013 pukul 18:00 WIB
Entertainment of Life
5 Januari 2013 pukul 17:00 WIB
Mengusung Gelar, Menggulung Tikar
4 Januari 2013 pukul 11:00 WIB
Unlimited Ambitions
29 Desember 2012 pukul 13:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 9 Februari 2013 pukul 13:00 WIB

Mendayung Cinta di Samudera Seberang

Penulis : Syaifoel Hardy

Selembar kertas putih itu melekat di daun pintu keluar restoran, sudut jalan, di tikungan 100 meter menuju gedung tempat kami tinggal. Sebuah foto hitam putih, ukuran paspor tertempel jelas, di pojok kertas itu, di antara tulisan-tulisan padat dalam huruf Malayalam yang sulit diterka maknanya oleh orang yang tidak mengerti bahasanya.

Si empunya informasi tersebut, seorang warga India, tentu bukan dengan tanpa sengaja memasangnya di sana. Bagi kita yang pandai ‘membaca’ suasana, akan segera bisa menangkap, maksud di balik ‘edaran’ ini.

Rasa ingin tahu lebih jauh saya bergejolak. Saya tidak kuasa menahannya. Sambil mengulurkan uang pembayaran teh panas, penghangat di tengah suhu dingin yang mencapai 13 derajat celcius pagi itu, kepada sang kasir, saya mendapatkan jawaban singkat.

Anak muda, pemilik foto yang terpampang di lembaran kertas itu, tengah dilanda sebuah penyakit. Dia sedang membutuhkan uluran tangan dari orang lain yang, siapa tahu, tergerak ingin membantunya. Mohideen, si empunya nama, pemilik identitas di lembaran kertas itu, sedang berbaring di rumah sakit. Nun jauh, di seberang sana. Bernafas agak lega, karena kasus yang sama, tidak pernah saya temui terjadi di antara warga Indonesia yang berada di Qatar, kecuali lewat milis, atau perkumpulan tertentu. Itu bukan berarti tidak ada orang kita yang sedang sakit, tidak butuh uluran tangan-tangan kita.

Entahlah kenapa. Yang jelas, sedikitnya jumlah restoran Indonesia di Qatar, ditopang dengan minimnya jumlah warga kita, pengunjung setia restoran, menjadi faktor penentu, mengapa tidak ditemui tempelan-tempelan kertas serupa milik warga Indonesia.

***

Sepulang dari kerja, sekitar jam 3:30 sore, saya menjumpai seorang laki-laki muda, yang akhir-akhir ini selalu ‘berjemur’ di depan gedung kami. Masih di musim yang sama, dingin. Terpaan sinar matahari, dimanfaatkannya sebagai selimut, penawar hawa dingin ini.

Dari penampilan fisiknya, nampak seperti orang asal Bangladesh. Kali ini memang bukan yang pertama saya temui. Saya menangkap, anak muda ini sedang tidak punya kerjaan alias ‘menganggur’. Makanya sambil berjemur, saya kira dia sedang mengadu nasib. Siapa tahu, ada yang menawarkan jasa baik kepadanya, memberikan lowongan kerja.

Sambil sesekali menatap, rasanya kurang sopan kalau pandangan ini lantas dipalingkan ke arah lain. Saya kuatir akan terkesan sombong, meskipun bisa saja dia kurang begitu pedulikan sikap para ekspatriat yang sudah terbiasa acuh terhadap lingkungan sosial. Tapi saya tidak kuasa melakukannya. Kekuatiran dikatakan sombong saya perangi dengan sedikit senyuman, pertanda ‘ok’. Sayapun senyum. Selanjutnya, saya paksakan bibir ini untuk bergerak, “Hello!” sekedar menyapa, pelan.

Begitu tahu mobil yang saya tumpangi mendekat, mau parkir di depan gedung, dia dengan segera bergerak, mengalah. Menjauhkan diri, seolah-olah kuatir mengganggu sang pengendara mobil.

Beberapa kali pertemuan ini, membuat saya makin yakin, lelaki itu adalah salah seorang penghuni di villa depan gedung, yang sudah mau dirobohkan oleh petugas kota. Benar dugaan saya. Dia sedang mencari kerja.

Ternyata, dia tidak sendirian di sana. Sekelompok buruh kasar lainnya, ramai di dalamnya.

Diagnosa saya memastikan, dia salah seorang kerabat pekerja bangunan, yang berupaya mengadu nasibnya di negeri seberang.

***

Pembaca…

Hidup, bekerja, tinggal serta menjalani keseharian di luar negeri, bukannya tanpa masalah.

Penderitaan, kepedihan, kesengsaraan, kesakitan, dan atau kemelaratan, bukan monopoli negara-negara di benua Afrika atau Asia saja.

Dua contoh manusia di atas, berasal dari India dan Bangladesh, bukanlah manusia langka. Warga dari negara-negara lain pula tidak kurang jumlahnya. Bedanya, mereka tidak ‘menampakkan’ diri. Apakah itu dari Filipina atau Indonesia.

Akhir-akhir ini juga sering berseliweran dalam milis, e-mail group sejumlah komunitas Indonesia, laporan sumbangan tentang beberapa anggota warga kita yang tertimpa musibah. Banjir di Jakarta, hingga anak yang hilang. Pokoknya, selalu ada!

Ada pula yang akibat dipukulin majikan. Kecelakaan kerja. Kebakaran tempat tinggal di tengah-tengah camp. Penyakit menahun, kanker, tumor jinak sekujur tubuh. Dipecat dan tidak punya sangu untuk pulang ke Indonesia, serta setumpuk permasalahan lain yang andai saja Bapak Presiden kita tahu, pasti tidak bakalan mencalonkan diri lagi. Di Qatar, jumlah stranded housemaid, alhamdulillah mulai berkurang. Namun begitu, tetap masih rumit secara keseluruhan.

Jika ditilik lebih jauh, betapa rumit persoalan ketenagakerjaan yang dihadapi oleh warga kita di negeri seberang.

Sementara itu, keluarga kita yang di Indonesia, biasanya menyangka bahwa yang terjadi di seberang sana, OK-OK saja.

Mereka mengira bahwa hidup di luar negeri sarat dengan kenikmatan dan kesenangan dunia. Kantong tidak pernah kosong, duit selalu ada, serta siap setiap saat jika diminta. Makan enak, plus kaya akan aneka fasilitas hiburan lainnya.

Memang benar, banyak orang-orang yang bergelimang dengan kenikmatan dan harta. Sebagaimana banyaknya masyarakat kita yang kaya serta bermandikan Rupiah di Indonesia, baik di kota maupun desa.

Mereka tidak tahu, bahwa di antara warga kita, antara luar negeri dan di Tanah Air sana, yang berbeda sebenarnya hanyalah jarak dan tempatnya saja.

Banyak yang tidak bakalan percaya, jika di negeri seberangpun, kita bukanlah makhluk yang kebal terhadap apa yang disebut sakit, kehabisan dana, pengangguran, bahkan kadang harus hutang ke tetangga.

Ada yang mungkin terkejut, bila di antara warga kita yang di luar negeri, ada yang bahkan tanpa makanan sama sekali. Kulkas, selain bekas, juga tak berisi. Dengan kondisi seperti ini, sulit jika harus ditarik sumbangan atau membayar iuran lainnya, karena budget mereka memang benar-benar mepet.

Pembaca….

Bagaimana harus menjelaskan semua ini kepada mereka yang belum pernah merasakan, seberapa beratnya bekerja di luar negeri? Membanting tulang dan berjuang untuk senantiasa bisa membangkitkan bara cinta bagi warga kita di luar negeri, kadang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bukan hanya kepada keluarga tersayang di tanah tumpah darah semata, tetapi di ranah seberang, kepada orang yang tidak pernah dikenal.

Tadi pagi, lepas Salat Fajar, di depan sebuah masjid, di tengah perjalanan ke kantor, ada orang yang menunjukkan tiga kemudian dua jarinya, disertai ucapan, “Riyals!”, maksudnya, minta 2 atau 3 Riyals saja, buat beli teh panas, kepada saya.

Warga kita yang berada di luar sana, sebenarnya pula berjuang agar bisa selalu nampak prima. Baik di kala suka, ataupun duka. Mereka tidak semuanya pandai berperan ganda. Artinya, menyembunyikan suasana hati. Mereka bukan aktor!

Warga kita yang kurang beruntung di luar sana, tidak beda dengan warga kita yang malang di dalam negeri, juga butuh perhatian dan kasih sayang sesamanya. Jika warga Indonesia, lantas kepada siapa lagi yang diharap? Demikian pula warga negara lain yang tengah dilanda derita. Mereka mencoba mengekspresikan kepedihan dalam bentuk kesyukuran. Demi cinta dan harapannya kepada keluarga. Meski terkadang dengan sangat terpaksa, menggoreskan tinta dan nyetak fotonya, di atas lembaran kertas. Seperti yang saya temui di pintu kaca restoran, di sebuah sudut kota Doha.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1427 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels