HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://ardadinata.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciamis - Jawa Barat
Pekerjaan
Penulis dan PNS
Arda Dinata adalah Penulis, Motivator, dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.ardadinata.web.id
http://facebook.com/ardadinata
http://twitter.com/ardadinata
Tulisan @ Lainnya
Maju, Meningkat, Berprestasi
14 Desember 2012 pukul 13:00 WIB
Menjalin Persahabatan dengan Alam Semesta
12 Desember 2012 pukul 12:00 WIB
Kenapa Suami Marah dan Berkata Kasar?
8 Desember 2012 pukul 10:00 WIB
Membangun Remaja Berwawasan Kependudukan
1 Desember 2012 pukul 18:00 WIB
Menulis Membiasakan Menulis
30 November 2012 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 16 Desember 2012 pukul 13:00 WIB

Hidup untuk Memberi

Penulis : @ Arda Dinata

Di suatu sore pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik. Seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak, diayunkannya sepeda berwarna biru muda. Sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang. Dari tukang koran, penyapu jalan, tuna wisma, sampai polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik. Pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya. Apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan, apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau?

Untuk membunuh rasa penasaranku, akupun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di sebrang jalan. Setelah itu, aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.

"De, boleh kakak bertanya?"

"Silakan, kak."

"Kalau boleh tahu, yang barusan adik bagikan ke tukang koran, tukang sapu, peminta-minta, bahkan polisi, itu apa?"

"Oh, itu bungkusan nasi dan sedikit lauk, kak. Memang kenapa, kak?"

Dengan sedikit heran, aku kembali bertanya, "Oh, tidak! Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu. Kelihatannya kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?"

Lalu, adik kecil ini mulai bercerita, "Dulu, aku dan ibuku sama seperti mereka, hanya seorang tuna wisma. Setiap hari bekerja hanya mengharapkan belas kasihan banyak orang. Dan seperti kakak ketahui, hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan. Waktu siang hari, kami kepanasan. Dan waktu malam hari, kami kedinginan. Ditambah lagi pada musim hujan, kami sering kehujanan.

Apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih. Namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik. Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu. Jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.

Yang ibuku selalu katakan, 'Hidup harus berarti buat banyak orang, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta, tidak ada yang kita bawa. Hanya satu yang kita bawa, yaitu kasih kepada sesama serta amal dan perbuatan baik kita. Kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda?'

Karena menurut ibuku, umur manusia terlalu singkat. Hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta. Apa yang kita bawa?"

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hatiku. Saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya, dibandingkan adik kecil ini.

Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini. Aku malu dan sangat malu. Ya Tuhan, ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan, dan jabatan tidak mengantarku kepada-Mu.

Terima kasih, adik kecil, kamu adalah malaikatku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku.

"Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri kita sendiri."

http://www.ardadinata.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Moh. Iwan Ihyak Ulumuddin | Pelajar
Ingin sekali gabung, sharing ilmu, and so on.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1236 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels