|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|





Jum'at, 31 Agustus 2012 pukul 09:30 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Merasakan hangatnya mentari pagi seperti merasakan secangkir teh pagi yang tiap kali disajikan oleh orang yang sangat aku cintai setulus lautan hatiku. Ibuku. Ya, ibukulah yang membuatnya setiap pagi di saat aku hendak bergegas berangkat bekerja.
Mengapa bisa begitu? Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi karenanyalah aku bisa mengetahui ketulusannya yang tiap kali dipancarkan dalam aroma teh yang ia sajikan untukku. Aku juga heran kenapa hal itu terus berlarut sampai saat ini. Ia begitu perhatian terhadap diriku. Padahal aku sebagai anak laki-lakinya tak begitu memperhatikan dirinya. Ya, itu aku sadari saat aku melihat rambutnya yang telah berubah menjadi abu-abu. Lagi-lagi aku tak mengetahuinya.
Hingga, akhirnya aku teringat pada suatu pagi saat ia mengatakan kepadaku dengan kata-kata yang membuat palung hatiku bergetar serta bulu kudukku merinding saat terlontar dari suara paraunya.
”Teh yang ibu sajikan tiap pagi untuk kamu anggaplah sebagai restu dalam perjalanan kamu dalam mengarungi hidup ini (dunia kerja).”
Ibu yang berkata seperti itu membuatku hanya bisa tergugu. Hanya kicauan burung-burung pagi yang bisa menjawabnya dengan kicauan merdunya. Dan aku sendiri hanya bisa bergumam, ”Duh, ibu, sungguh mulia hatimu dan begitu perhatiannya kepada anakmu ini hingga kau curahkan semua segala kasih sayangmu untukku. Anakmu ini.”
Begitulah relung hatiku mengungkapkan segala rasa ketakjuban cinta seorang ibu kepada anaknya. Tak lain adalah aku. Serta ketulusannya yang terpatri dalam jiwa besarnya. Halnya ketika saat ia menyajikan teh beraroma ketulusan setiap pagi untukku di saat aku belum bergegas mengarungi duniaku. Dunia yang sedang aku arungi bersama cita-citaku. Menjadi orang besar sesuai do'a tulus ibuku. Demikian pula dengan teh yang ia sajikan tiap pagi untukku.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.