QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Bara Disangka Permata
31 Maret 2012 pukul 08:00 WIB
Kerabatmu Dulu, Baru Sahabatmu
26 Maret 2012 pukul 10:00 WIB
Alarm Surgawi
22 Maret 2012 pukul 09:00 WIB
Sabar + Sadar = Lancar
17 Maret 2012 pukul 09:09 WIB
Kebaikan yang Menginspirasi
13 Maret 2012 pukul 09:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 4 April 2012 pukul 09:30 WIB

Rahasia Rejeki

Penulis : Abi Sabila

Jika belum rejeki, jangankan baru dihidangkan, nasi yang sudah di tanganpun belum tentu dapat dimakan dan ditelan. Kesadaran ini kembali aku dapatkan dari kisah Ihsan, Firman, Iqbal, dan Irwan.

Tidak aneh dan tidak pula ada yang heran bila tahun ini Ihsan akan mendapatkan promosi jabatan. Ia salah satu dari beberapa karyawan unggulan. Hampir semua karyawan tahu dan mengakui prestasi Ihsan.

Tapi belakangan, ketika agenda promosi tinggal menghitung hari, sebuah kabar tersiar, mengejutkan seluruh karyawan, tak terkecuali Ihsan. Tahun ini, dengan beberapa pertimbangan, pihak manajemen perusahaan mengeluarkan satu kebijakan, tidak ada promosi jabatan. Promosi jabatan ini akan ditunda hingga setahun kedepan.

Jika beberapa karyawan protes dengan keputusan manajemen, Ihsan justru tidak terlalu kagaet dengan kabar ini. Ia telah mempersiapkan separuh hatinya untuk kemungkinan yang kini benar-benar terjadi.

“Ini sudah menjadi keputusan final manajemen perusahaan, karenanya kita harus menerimanya. Dan insya Allah, aku ikhlas. Kalau tidak kusiapkan separuh hatiku untuk kemungkinan ini, mungkin aku akan sangat kecewa. Jujur, separuh hatiku memang mengharapkan, tapi separuh lainnya telah kusiapkan untuk sebaliknya. Kita harus realistis. Boleh jadi aku termasuk salah satu karyawan yang dinominasikan mendapatkan promosi, tapi tentu saja bukan satu-satunya. Apalagi ternyata aku bukan tidak terpilih, tapi memang tidak ada promosi jabatan tahun ini,” Ihsan mencoba menenangkan kegundahan rekan-rekan dekatnya.

“Apa rencanamu selanjutnya?” salah satu rekan bertanya.

“Rencana?” Ihsan balik bertanya.

“Tidak ada rencana baru kecuali bekerja sebagaimana biasa. Meski tak ada promosi, aku kan tetap bekerja di sini, dan tentu saja masih mendapatkan gaji. Iya, tho?” jawab Firman tertawa ringan.

Lain Ihsan lain lagi si Firman. Firman memang tidak termasuk karyawan unggulan. Namanya tidak tercantum di daftar pengajuan promosi karyawan. Tapi atasannya menilai Firman layak untuk dipertahankan. Jumlah penjualan yang tidak mencapai target memaksa manajemen perusahaan melakukan pengurangan karyawan. Dan secara nilai, Firman berada di posisi yang aman. Karenanya, atasan Firman menyuruhnya membuat tools box khusus untuk menyimpan peralatan kerja miliknya.

Butuh waktu satu minggu untuk Firman membuat tools box-nya sendiri. Jika tugas utamanya selesai ia kerjakan, Firman kembali menyelesaikan proyek tools box-nya. Dan ia melakukannya dengan semangat. Tapi jangankan tahun depan, apa yang terjadi esok haripun tak ada manusia yang bisa memastikan. Begitupun Firman. Tak disangka sebelumnya, di keputusan final manajemen nama Firman justru muncul di antara karyawan yang tidak bisa dipertahankan.

“Semestinya hari ini Firman mulai menggunakan tools box-nya,” ucap atasan Firman prihatin. Ia telah mencoba bernegosiasi ulang, tapi keputusan manajemen tetap tak bisa dirubah atau dibatalkan.

Setahun lalu, satu pelajaran juga kudapatkan dari Lukman. Prestasi kerjanya tak lagi diragukan. 90% promosi jabatan sudah mengarah kepadanya. Bahkan Iqbal ditunjuk sebagai salah satu anggota tim yang mempersiapkan beberapa karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan. Tapi manusia hanya bisa berencana dan berusaha, sedang hasil akhirnya Allah-lah yang berkuasa menentukannya. Di hari-hari terakhir menjelang promosi, satu kabar sangat mengejutkan beredar dari mulut ke mulut. Dengan alasan yang tak dijelaskan, pihak manajemen membatalkan promosi Iqbal dan tetap memberikan promosi kepada beberapa karyawan lainnya.

Masih ada satu lagi, beberapa minggu yang lalu, satu kejadian juga menggugah kesadaranku. Menjelang batas akhir penyerahan SPT tahun 2011, yaitu 31 Maret 2012, pihak manajemen membagikan bukti pemotongan PPh pasal 21 untuk diserahkan ke kantor pajak terdekat, baik secara perorangan maupun kolektif, tapi yang jelas pihak manajemen tidak memfasilitasi penyerahan SPT ini secara kolektif. Dengan berbagai pertimbangan, beberapa karyawan termasuk aku akhirnya meminta bantuan Irwan untuk menyerahkan SPT ke kantor pajak secara kolektif, dengan kesepakatan akan memberikan sejumlah uang sebagai pengganti ongkos dan sekedar uang lelah tentunya.

SPT sudah dikumpulkan, termasuk sejumlah uang yang telah disepakati. Tapi tanpa tahu apa sebab pastinya, pihak manajemen menarik kembali bukti pemotongan PPh pasal 21 yang sudah dibagikan, termasuk milik kami yang sudah dibawa Irwan. Merasa belum melakukan apa-apa, Irwan mengembalikan uang yang telah masuk ke dompetnya. “Belum rejeki saya,” ucapnya sambil tertawa.

Demikianlah, seringkali kenyataan berbeda dari apa yang kita rencanakan, harapkan. Tak jarang kita meyakini bahwa keberuntungan, rejeki akan menjadi milik kita, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Begitulah Allah menetapkan, dengan satu tujuan, yang tentu saja adalah ketetapan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Kalau memang rejeki kita, walau di seberang lautan, selalu ada jalan, ada alasan. Entah kita yang akan menjemputnya, atau justru dia yang akan mendatangi kita. Begitupun sebaliknya seperti yang disebutkan di awal tulisan, jangankan baru dihidangkan, yang sudah di tangan saja belum tentu dimakan dan ditelan.

Kita, manusia, hanya wajib berdo'a dan berusaha, tapi tidak wajib menentukan hasilnya. Setelah meluruskan niat, berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan dibarengi dengan do'a yang tiada putus, serahkanlah hasil akhirnya pada Allah SWT. Apapun hasil akhirnya, kita harus ikhlas menerimanya, karena keputusan Allah adalah yang terbaik untuk kita.

* Nama-nama dalam tulisan ini bukan nama sebenarnya.

http://www.abisabila.com

Suka
Luluk Khumaidah menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Saeful Arif | Dagang
Saya senang membaca di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1768 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels