QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Sabar + Sadar = Lancar
17 Maret 2012 pukul 09:09 WIB
Kebaikan yang Menginspirasi
13 Maret 2012 pukul 09:30 WIB
Tak Perlu Tukar Kelamin
5 Maret 2012 pukul 09:00 WIB
Kita dalam Antrian
28 Februari 2012 pukul 09:00 WIB
Tidak Selalu Pintar, Tidak Selalu Benar
21 Februari 2012 pukul 08:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 22 Maret 2012 pukul 09:00 WIB

Alarm Surgawi

Penulis : Abi Sabila

Alarm surgawi. Demikian sebutan yang kuberikan kepada Pak Didi. Mungkin terkesan sedikit berlebihan, tapi sebenarnya tidak juga. Setiap hari, aku dan sebagian besar warga kampung terbangun setelah mendengar lantunan shalawat Pak Didi melalui pengeras suara mushala Baiturrohiim. Alhamdulillah, meski tidak semua warga akhirnya shalat berjama'ah di mushala, tapi lantunan shalawat Pak Didi menjadi awal yang indah untuk memulai hari.

Siapakah Pak Didi? Jika Anda pernah membaca tulisan berjudul 90 Langkah Menuju Mushala, Hafalan Pak Didi, Tasbih Pak Didi serta satu tulisan berjudul Rumah Kedua yang sekarang sudah dibukukan, pasti tahu Pak Didi mana yang kumaksudkan.

Pak Didi adalah salah satu jama'ah mushala Baiturrohiim yang istimewa di mataku. Meski kedua indera penglihatannya tak lagi berfungsi, tapi semangat ibadahnya tetap tinggi. Beliau yang menggunakan rumus 90 langkah untuk datang ke mushala setiap dini hari menjelang Shubuh karena tak mau merepotkan istri, anak, dan cucunya. Beliau yang tetap semangat menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an. Beliau yang tak pernah menyerah dengan keterbatasannya. Tasbih ‘aneh’ yang terbuat dari kepingan pipa paralon adalah salah satu buktinya. Beliau pula yang pertama hadir di mushala, melantunkan shalawat hingga masuk waktu Shubuh.

Tapi kemarin, hampir saja aku ketinggalan shalat berjama'ah. Aku terbangun pada saat adzan Shubuh berkumandang. Alhamdulillah, astaghfirullah! Aku mengucap syukur dan istighfar bergantian. Bersyukur karena Allah masih memberiku kesempatan bertemu pagi. Beristighfar karena hampir saja aku ketinggalan shalat Shubuh berjama'ah di mushala. Barangkali aku tidur terlalu lelap sehingga tak mendengar Pak Didi bershalawat. Tapi ternyata bukan aku tak mendengar, aku tak melihat Pak Didi di tempat favoritnya, ujung kiri shaf pertama. Kabar yang kudengar Pak Didi sakit. Sejak malam sebelumnya beliau sudah tak hadir di jama'ah shalat Isya. Aku kira tak hadirnya Pak Didi bukan karena sakit tapi karena ada kepentingan lainnya.

Innalillahi wa inna Ilaihi raji'un…

Ya Allah, di antara sekian banyak do'a dan pintaku, izinkan aku menambah satu permintaan lagi, sembuhkanlah Pak Didi. Apapun sakit yang kini diderita, angkatlah segera darinya, pulihkanlah kesehatannya.

Bukan semata karena beliau satu-satunya jama'ah yang paling dekat denganku di mushala. Bukan semata karena beliau satu-satunya orang yang pernah meminta ijin padaku untuk membacakan surah Yasin, mendo'akan almarhumah istriku beberapa hari menjelang setahun meninggalnya dulu. Bukan, bukan hanya karena itu.

Bukan pula semata karena beliau selalu peduli denganku, beberapa kali menyatakan bersedia membantu mencarikan pengganti almarhumah untukku. Lebih, lebih dari itu. Dengan lantunan shalawatnya, beliau adalah ‘alarm’ bagiku, yang membangunkanku sehingga aku bisa shalat Shubuh berjama'ah, tepat waktu.

Terlepas dari pendapat orang dengan masa lalu Pak Didi, bagiku beliau tetaplah istimewa. Banyak cerita pernah kudengar, tapi satu yang kukagumi adalah semangat beliau dalam memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Illahi.

Puluhan orang datang ke mushala untuk shalat Maghrib berjama'ah, tapi bisa dihitung dengan jari sebelah tangan jama'ah yang tetap tinggal, menunggu datangnya waktu Isya sambil membaca Al-Qur'an. Pak Didi salah satunya. Meski faktor usia mempengaruhi daya tangkap dan juga daya ingatnya, namun tak menyurutkan semangat Pak Didi untuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Dan hal lain yang aku kagumi, belum pernah sekalipun aku mendengar beliau berkeluh kesah terkait dengan penglihatannya. Justru beliau bersyukur karena dengan diambilnya kembali nikmat penglihatan darinya, setidaknya satu pintu maksiat telah tertutup untuknya. Dan meski beliau tak bisa melihat, langkah kakinya selalu mantap mendekat ke rangkulan Illahi. Tidak sepertiku yang seringkali masih tengok kanan dan kiri, terpesona gemerlap duniawi.

Ya Allah, hamba mohon dengan sangat, sembuhkanlah Pak Didi. Kembalikanlah ia di tengah-tengah kami untuk bersama-sama mendekat kepada-Mu. Meski matanya tak mampu lagi melihat indahnya dunia, tapi hatinya mampu melihat indahnya surga. Ya Allah, sembuhkanlah Pak Didi, sembuhkanlah. Amin ya Allah ya Rabbal ‘Alamin.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1097 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels