|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|





Sabtu, 3 Desember 2011 pukul 08:00 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Untuk adikku yang sedang mencari jalan menuju Allah.
Bagaimana kabarmu? Suratmu terakhir membuat kakak terkejut, dik. Benarkah adik sudah tidak percaya pada Allah? Benarkah adik bosan dengan kepura-puraan syariat? Apakah adik berpikir kalau shalat, jilbab, dan semuanya adalah paksaan? Benarkah adik tidak suka orang-orang yang beragama itu menyebut di luar agamanya sebagai pendosa? Dan kenapa pula, dik, kenapa Al-Qur’an itu adik sebut berantakan? Adik bilang itu kesimpulan dari hasil analisa adik. Benarkah demikian?
Dik, kakak menulis ini sebagai pribadi kakak sendiri, bukan mewakili orang-orang yang adik sebutkan dalam surat terakhir adik. Iman itu percaya, dik, percaya pada sesuatu yang jelas kita agungkan dan pahami kebenarannya. Seperti saat kita memilih untuk percaya bahwa kita punya jantung. Adik merasa punya jantung? Apakah adik pernah melihatnya? Tidak kan. Apakah kita pernah juga menyentuh matahari? Apakah kita juga pernah ke luar angkasa naik roket dan menyaksikan secara utuh bahwa bumi bulat bukan kubus? Semua itu kita percaya dari orang, dari buku, dari pendapat orang lain yang kita sudah pahami kebenarannya.
Dan apakah kita juga menyaksikan saat ibu kita melahirkan kita, dik? Apakah kita bertanya, "Kamu bener ibuku bukan sih?" Itu tidak mungkin kan, dik. Kita mengetahuinya dari kasih sayang ibu, cintanya, betapa ia memelihara kita dari kecil, dan kita berpikir kalau ia benar-benar ibu kita, kita memilih untuk berpikir itu, dik. Bahkan saat orang datang bilang itu bukan ibumu, kita dengan sekuat tenaga menolaknya.
itu juga yang kakak rasakan tentang agama, ada ikatan kuat antara ilmu, perasaan, dan kepasrahan. Apakah kita harus melihat dari dekat waktu Allah membuat big bang dan bumi dibentuk? Apakah kita juga harus tahu dulu seperti apa bentuk Allah dan malaikat? Tidak kan, dik. Karena waktu melihat dunia ini, melihat keteraturannya, kita sadar bahwa itu kasih sayang Allah. Lalu kita baca Al-Qur'an, lalu kita memilih untuk meyakini dan pasrah menjalankan aturan. Bukan berpura-pura mempercayainya, kita pasrah dan tunduk. Bukan berpura-pura pakai jilbab, baca Al-Qur'an, shalat, atau berusaha membuktikan itu secara rasional. Karena itu bukan definisi Islam. Definisi Islam adalah tunduk, berserah diri.
Dan meskipun kita sudah memahaminya dan mempercayainya, bukan berarti kita boleh sombong dan lalu menganggap yang tidak mempercayainya itu kotor dan pendosa, dik. Prinsip untuk ini jelas dalam Islam bahwa masing-masing menanggung akibat perbuatannya, lakum dinukum waliyadin. Agama itu petunjuk dan tuntunan bagi orang yang mempercayainya, yang tidak percaya tidak wajib. Masing-masing orang berproses menuju Allah. Bahkan diri kita sendiri, dik. Bahkan Nabi pun tak mampu menjamin orang mendapat hidayah. Ingat cerita Nabi yang memberi makan seorang Yahudi buta di pasar? Kita diminta berkasih sayang pada siapapun, berbuat adil, sambil tetap menunjukkan bahwa kita ini berserah pada Allah.
Dik, jangan kira kakak tak pernah mendengar apa yang adik sampaikan. Kakak tahu ada orientalis yang bilang bahwa Al-Qur'an berantakan, bahwa al Quran ditulis oleh seorang yang buta huruf dan mengidap epilepsi, bahwa Muhamad sperti ayan waktu menerima wahyu, dan para sahabat adalah pengikut yang fanatik dan bodoh. Ah. Itu sangat sadis dik. Itu seperti waktu ada orang yang bilang bahwa ibumu bukan ibumu. Sementara kakak juga tahu kalau Muhammad adalah orang yang santun jujur dan amanah. Kakak mendengarnya bukan dari satu dua orang, tapi dari matan, perkataan banyak orang yang jelas runtutan penyampaiannya.
Kakak juga tahu meski menurut adik berantakan, Al-Quran adalah kitab yang paling banyak dibaca, dihafal, ditafsirkan dan ia menciptakan budaya ilmiah dan merubah dunia jadi landasan peradaban modern. Bahkan sampai sekarang, dik. Sudah banyak desertasi yang dtulis tentang Al-Quran, yang bicara tentang keserasiaan Al Qur’an, salah satunya, professor Indonesia, Pak Quraish Shihab namanya. Apakah dengan itu kita bisa mengatakan Al Qur’an berantakan dik? Haruskah kita naik mesin waktu dan ketemu Muhammad untuk mempercayai Al Qur’an?
Ada banyak hal yang tidak terlihat dengan mata kepala telanjang, dan bahkan seluruh usaha sains rasional tidak dapat meraih kulitnya saja. sementara terhadap ayat-ayat Allah di alam maupun di kitab manusia diberi kehendak untuk memilih, lalu diberi balasan di akhir sesuai pilihannya. Itu narasi besar kehidupan, dik. Apakah ini doktrin? Ya memang. Karena dalam hidup ini kita butuh sesuatu yang pasti, pegangan hidup, sementara sains dan rasio manusia bersifat relatif, dan selalu berubah.
Memang benar kita sudah lama banget tidak ketemu dik. Dan tahu siapa yang paling terkejut: itu kakak!
Seperti disampaikan seorang sahabat tentang agnostik*. Semoga bisa menjadi perenungan untuk kita semua...
Taichung, 11202011
*An agnostic is a person who believes that the existence of a greater power, such as a god, cannot be proven or disproved; therefore an agnostic wallows in the complexity of the existence of higher beings. (urbandictionary.com)
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.