Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Umat dan Padi di Sawah
16 Agustus 2011 pukul 11:40 WIB
Malaikat Ada di Mana?
26 Juli 2011 pukul 12:00 WIB
Tugas Manusia
27 Mei 2011 pukul 11:35 WIB
Jalan Orang yang Kembali
22 April 2011 pukul 10:15 WIB
Integral Garis Shalat
5 Februari 2011 pukul 22:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 5 November 2011 pukul 10:00 WIB

Tazkiyah Pak Karso

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Pak Karso adalah seorang tukang becak. Setiap hari ia mengayuh becaknya, mengantarkan orang ke pasar dan sekolah. Rambutnya tipis, kantongnya tipis, tubuhnya tipis. Namun pak Karso tabah.

Tiap melihat anaknya yang berumur 4 tahun tersenyum, lalu memeluknya, pak Karso ikut tersenyum, teringat ibu anak itu yang telah pulang lebih dulu saat melahirkannya. Pak Karso ayah yang baik. Juga suami yang sangat mencintai istrinya. Ah, Pak Karso pejuang yang gigih.

Tiap hari, menjelang berangkat kerja, Pak Karso shalat dhuha. Dalam doa dhuhanya, Pak Karso memohon untuk dilapangkan rizkinya, agar ia bisa membeli susu untuk anaknya. Juga agar ia bisa menabung, untuk menyekolahkan anaknya suatu hari kelak hingga sarjana. Hingga tamat S2. Dan ia memohon sama Allah untuk bertemu dengan istrinya di surga. Begitu cita-cita Pak Karso. Simpel. Ringkas. Seperti juga hidupnya.

Di belahan bumi lain, hiduplah Andrea. Ia adalah seorang profesor biologi. Temuannya di bidang rekayasa genetika menggunung. Papernya bertebaran.Namanya dicungkil tiap kali mahasiswa biologi bikin skripsi. Tapi ia meninggalkan agama. Meninggalkan segala yang telah ayah ibunya beri. Ia bilang tak ada yang mutlak di dunia ini. Tak ada yang baik dari kepercayaan yang mengikat. Itu berbahaya, katanya sambil memeluk tangan di dada.

Namun jauh di lubuk hati, ia mengiris-iris memori tentang kepedihan rumah tangganya. Dan berlari dari kebenaran adalah hal lain yang membuatnya terbebas. Sebenarnya, ia tak bisa memungkiri kehebatan Pencipta, rekayasa Allah dalam tiap kali papernya selesai ditulis. Namun ia bungkam pada itu. Bungkam seperti batu.

Di bumi lain, hiduplah Fahri. Fahri adalah seorang cendekiawan muslim yang cerdas. Lulusan Timur Tengah. Ia kerap diundang jadi pembicara seminar di kampus-kampus megah. Ia juga kerap muncul di tivi tiap ada diskusi yang melibatkan agama dalam topiknya. Pemikirannya kerap ditulis dan masuk media masa. Banyak pengamat bilang ia pembaharu. Anak muda di kampus suka membicarakannya.

Namun sayang, yang baru yang disampaikan Fahri adalah bahwa jilbab tidak wajib. Bahwa tidak perlu bikin ribet dengan dandanan ala Arab. Baju koko bukan budaya negeri sendiri. Dan pacaran itu boleh asal jangan kelewatan. Betapa sayangnya, karena Fahri sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang ia sampaikan. Ia hanya sedang bergurau, dan sesekali menikmati gurauannya dengan ketenaran.

Boleh anda percaya pada cerita tiga orang ini. Namun memang mereka hanya ada di negeri khayalan. Kalaupun ada dalam tulisan ini adalah untuk mempertegas apa yang disampaikan Imam Ghazali dalam kitabnya yang tak mati, ihya ulumuddin, bahwa misi utama para rasul adalah tadzkir, ta’lim, dan tazkiyah. Pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannnya dan menunaikan hak-hak Allah padanya, bukan setengah-setengah.

Jarang sekali ketiga hal ini berhimpun pada seseorang, begitu kata sang Imam. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasehat tetapi tidak banyak berilmu, atau ada seorang yang berilmu tapi tidak piawai dalam menyampaikan nasehat –seperti Andrea. Ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasehat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah –seperti Fahri.

Sesiapa yang memiliki ketiga hal ini, maka dia telah memiliki obat mujarab kehidupan. Jika tidak, maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya. Termasuk bagi Andrea dan Fahri. Juga mungkin anda dan saya.

Memang Pak Karso tidak memiliki ketiga hal itu secara langsung. Ilmunya tak banyak, ia juga tak pandai bicara. Pak Karso hanya seorang muslim yang baik, yang melakukan tazkiyah. Dan meskipun hidupnya penuh kesulitan, ia terus bahagia. Karena hatinya bersih, karena tazkiyah membuatnya selalu optimis pada hidup. Ia tidak terbelakang, ia maju. Kelak, ia benar-benar mendidik anaknya jadi menteri, dan ia pulang ke surga, bertemu dengan istrinya.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Al-Baqarah : 143).

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mutiara | Swasta
Alhamdulillah, senangnya udah bisa bergabung dengan KotaSantri.com. Jazakumullah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2569 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels