QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Integral Garis Shalat
5 Februari 2011 pukul 22:22 WIB
Cara Mati
1 Februari 2011 pukul 17:31 WIB
Obama, oh Obama
12 April 2010 pukul 16:09 WIB
Kesulitan Itu ...
12 Februari 2010 pukul 16:30 WIB
Logika Perang
28 Desember 2009 pukul 15:50 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 22 April 2011 pukul 10:15 WIB

Jalan Orang yang Kembali

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Di persimpangan jalan, ketika siang hari yang terik, motor dan mobil berjajar di belakang garis putih. Lampu lalu lintas menyala merah, dan semua harus menunggu. Di atas aspal itu, dua orang bersebelahan dengan motornya masing-masing bergulat dengan pikirannya.

"Aku pusing dengan hidupku. Kerja tak kunjung baik, gaji tak kunjung bertambah, siang ini pula, sebelum sampai di perempatan ini, tadi aku didamprat oleh atasan. Dipermalukan lantaran kerja tak pernah beres. Padahal aku sudah berusaha. Padahal aku sudah melaksanakan semua tugasnya," kata seorang pengendara sepeda motor di dalam hatinya.

Sementara seorang dengan sepeda motor di sampingnya, juga sedang membatin, "Aku senang dengan hidupku. Kuliah tak kunjung selesai, skripsi tak lekas membaik, dosen memarahiku, ibu membayangiku, menyindir-nyindir dengan nyinyir. Kapan selesai kuliah? Kapan segera lulus? Namun Allah tetap di hati, aku tahu, di jalan ini aku sedang melintas, di hidup ini aku sedang berjalan. Aku sedang menuju tempat kembali, dan tempat yang kutuju sangat indah."

Kedua orang itu berada dalam kondisi paling rumit dari hidupnya. Begitu juga mungkin kita, Namun bagaimana kita menyikapinya? Itulah yang membedakan. Kita dapat saja menganggap bahwa kerumitan itu telah begitu mencekik, sehingga tak ada lagi jalan yang dapat kita tempuh dalam kehidupan ini selain mengumpat dan mengutuk. Padahal cara kita memaknai hidup inilah yang menentukan akan ke arah mana kita berujung.

Orang yang sadar bahwa jalan ini memiliki sebuah tujuan, bahwa hidup yang ia tempuh memiliki arah, yang berpegang pada sebuah petunjuk yang hakikat, maka ia tak akan limpung. Ia memilih berjalan di jalan yang jelas, sementara orang yang tidak memiliki arah dan tujuan seperti berjalan di padang pasir tanpa petunjuk apapun.

"Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku." (Luqman : 15).

Mereka membaca petunjuk, melihat alam, dan lalu menyadari bahwa hidup ini adalah bagian dari perjalanan. Dan kondisi dimana mereka berada di dunia adalah titik dari lautan warna yang akan melukis keseluruhan hidup. Maka hatinya menjadi tenang mengingat itu, jiwanya menjadi tentram, dan tak ada kesulitan apapun yang ditempuh dalam hidup, karena ia selalu yakin bahwa ia sedang berjalan, dan menuju tempat kembali yang indah.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Al-Baqarah : 286).

Indah... Begitulah cara kerja iman di dalam hati seorang muslim. Dengannya ia menjadi tenang, dengannya hidup menjadi damai. Tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi, tak ada aral lintang tanpa ada sebuah arti. Dan pada arti itu, ia telah menggantungkan sesuatu yang hakiki. Allah. Ia menggantungkan seluruh logika, emosi, dan ikatan batin pada-Nya. Maka hanya kebaikan dan kebaikan yang ia peroleh.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al-Ikhlas : 2).

Pada perjalanan kehidupan selanjutnya, orang yang mengeluh hanya akan mendapatkan akibat dari keluhannya itu, yaitu gaung yang tajam dan dalam di sudut hati, lalu tempat kembali yang tiada arti. Sementara orang yang tersenyum mengingat-Nya, yang berserah diri, yang menghadapi rumitnya hidup dengan lembutnya dzikir dan do'a, ia akan selalu mendapat untung, ia mendapat balasan dari apa yang ia ucapkan. Ia merajut senyuman abadi dan menuai kegembiraan. Betapa indah tempat itu, betapa elok surga itu. Ia hadapi kehidupan dunia dengan sahaja, dan di akhirat, ia temui kesenangan tiada tara. Subhanallah...

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

salman dikz | Karyawan
KotaSantri.com... Ya Allah, kereeeen. Tooop daaaaah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1237 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels