|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
arialende@yahoo.com |
|
|
arialende |
|
aryanto0674@yahoo.co.id |





Selasa, 27 September 2011 pukul 09:15 WIB
Penulis : Aryanto Abdul Latif
Di awal bulan Mei 2010, di hari pertama setibanya saya di kampung, setelah hampir 23 tahun merantau di Ibukota, saya duduk santai di beranda rumah ditemani secangkir kopi dan sepiring alu (makanan khas kampung saya seperti wingko, tapi diolah dari tepung hasil endapan air dari singkong yang diperas). Keberadaan induk dan anak-anak ayam di halaman rumah menarik perhatian saya, terlintas dalam pikiran untuk memberinya makan. Memberi makan ayam adalah hal paling menyenangkan dan sering saya lakukan ketika saya masih kecil dulu.
Saya beranjak ke dapur untuk mengambil segenggam beras sebagai makanannya. Setelah beras ditebarkan, ayam-ayam itu saling berebutan, seakan-seakan satu sama lain tak mau mengalah. Saya hanya tersenyum melihat tingkah ayam-ayam itu. Setelah beberapa lama, seekor anak ayam karena keasyikannya, tidak menyadari kalau induknya telah beranjak ke tempat lain. Apa yang akan terjadi?
Benar dugaan saya, anak ayam akan kebingungan mencari induknya, berlari ke sana ke mari disertai dengan suara yang melengking menandakan kebingungan dan kepanikan yang luar biasa. Rasanya anak ayam itu tak kenal lelah mencari induknya. Saya merasa iba dan berusaha menolongnya supaya dapat menemukan kembali induknya. Ternyata induknya berada di balik tembok pagar dan akhirnya anak ayam itu kembali lagi ke induknya. Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum melihatnya, tiada lagi kebingungan dan kepanikan yang dirasakan olehnya.
Kejadian itu membekasi satu hal yang patut direnungi dan dijadikan pelajaran. Lihatlah hubungan antara anak ayam dengan induknya, betapa sangat tergantungnya anak ayam kepada induknya. Ketidakberadaan induknya membuat anak ayam seperti kehilangan hidupnya. Mengapa demikian? Karena keberadaan induk ayam dirasakan banyak manfaatnya oleh anak ayam, seperti melindunginya dari serangan binatang lain, membantu mencarikan makanan, penolong dalam setiap waktu, pengenyang di kala lapar, dan penghangat di waktu kedinginan. Karena begitu banyak kemanfaatan yang diberikan oleh induknya, sehingga anak ayam merasa ketergantungan yang sangat kepada induknya. Secara naluri bila ada yang merasa sangat tergantung pada sesuatu, maka secara otomatis akan selalu berusaha dekat dan tak ingin sedetikpun menjauh darinya. Nah, begitulah yang terjadi pada anak ayam itu.
Seharusnya hubungan manusia dengan Allah pun begitu. Manusia akan selalu merasa ketergantungan yang sangat kepada Allah karena Allah pencipta alam semesta, Allah memberi segala nikmat, Allah muara segala pinta, Allah satu-satunya penolong ketika manusia butuh pertolongan, Allah penguasa alam semesta, Allah pengatur hidup ini. Begitu banyak nikmatNya yang telah manusia rasakan selama hidupnya. Oleh karena itu manusia sangat membutuhkan kehadiranNya, butuh pertolonganNya, butuh kasih sayangNya, butuh petunjukNya, butuh tuntutanNya dalam melakoni hidup ini, dan semua yang dibutuhkan manusia ada di genggaman Allah. Dengan begitu seharusnya manusia selalu berusaha bersama dengan Allah di setiap detik kehidupannya, kedekatan denganNya satu hal tak bisa ditawar-tawar lagi. Jika manusia yakin di genggeman Allah semua kebutuhannya tapi tidak berusaha untuk bersama dan dekat dengan Allah, berarti ada yang salah dalam hubungannya dengan Allah.
Mari perbaiki hubungan kita dengan Allah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aryanto Abdul Latif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.