|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
arialende@yahoo.com |
|
|
arialende |
|
aryanto0674@yahoo.co.id |





Ahad, 6 September 2009 pukul 15:20 WIB
Penulis : Aryanto Abdul Latif
Pak Imam, biasanya dia dipanggil, seorang laki-laki yang sudah berumur, salah satu jama'ah masjid Abu Shaleh yang berada di lingkungan rumah saya. Di mata saya, dia adalah orang yang sangat rajin dan tekun beribadah. Sebelum adzan subuh berkumandang, dia sudah berada di masjid, menunaikan shalat sunnah dua rakaat, sering pula dia mengumandangkan adzan subuh. Bukan hanya shalat subuh, shalat wajib yang lain, bahkan shalat-shalat sunnah pun dia sangat antusias mengerjakannya.
Suatu pagi setelah melaksanakan shalat subuh, saya dan pak Imam pulang bersama-sama. Ketika melewati perempatan jalan, terlihat ada seorang ibu penjual gorengan sedang sibuk mengoreng, kemudian pak Imam menyapanya.
“Assalamu’alaikum, ibu,” pak Imam memberi salam.
“Wa’alaikumussalam, pak,” ibu penjual gorengan menjawab salamnya pak Imam.
Itulah salah satu kebiasaan pak Imam, yang sering memberi salam kepada orang yang dijumpainya, walaupun orang itu tidak kenalnya.
“Gorengannya, pak?” ibu itu menawarkan gorengannya.
“Terima kasih, bu, kami langsung pulang saja. Permisi, bu,” jawab Pak Imam.
“Silahkan, pak,” ibu penjual gorengan mempersilahkan kami.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Belum lama berjalan, terlihat ada seorang pemuda yang sedang duduk di teras rumahnya. Melihat pemuda itu, lagi-lagi pak imam memberikan salam.
“Assalamu’alaikum, dek,” pak Imam mengucapkan salamnya.
“Wa’alaikumussalam,” pemuda itu membalas salam.
Saya tak mau ketinggalan dengan pak Imam, saya turut mengucapkan salam yang hampir bersamaan dengan pak Imam.
“Baru pulang, dek?” tanya pak Imam.
“Iya, pak,” jawab pemuda itu.
Setelah menyapa dan berbasa basi dengan pemuda itu, kami melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa langkah, pak Imam bertanya, “Kenapa ya mereka nggak shalat? Padahal mereka Islam, mereka menjawab salam kita.” Saya terdiam, tidak tahu harus jawab apa, seketika itu juga saya merenungi pertanyaan pak Iman tersebut.
Saya membenarkan pertanyaan pak Imam itu. Dari saya berangkat ke masjid sampai saya dan pak Imam pulang dari masjid, saya melihat ibu penjual gorengan sibuk dengan dagangannya. Begitu juga dengan pemuda itu, ketika saya berangkat ke masjid, saya sudah melihatnya duduk di beranda rumahnya sambil menunggu pintu rumahnya dibukakan.
Itulah contoh kecil dari realita yang sering ditemui di sekeliling kita. Banyak orang yang mengaku beragama Islam, banyak juga yang di kartu tanda penduduknya tercantum beragama Islam, tapi biasa meninggalkan shalat. Ada yang melaksanakan shalat sehari sekali, itu pun kalau ingat. Ada juga yang hanya melaksanakan shalat Jum’at. Bahkan yang lebih parah lagi, ada yang hanya melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Lewat firman-firmanNya, Allah mewajibkan shalat bagi umat Islam.
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari pebuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari Ibadah-ibadah yang lain dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Ankabut [29] : 45).
“Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan.” (QS. Al-Hajj [22] : 77).
Sepakat kalau dikatakan bahwa hampir semua umat Islam mengetahui jika shalat itu wajib dan perintahkan oleh Allah, tapi kenapa masih ada yang tidak mau (baca :malas) melaksanakannya?
Lihatlah Ibu penjual gorengan, dia lebih tahu kewajibannya sebagai penjual gorengan daripada kewajibannya sebagai seorang muslim. Seorang pelajar lebih tahu kalau belajar adalah kewajibannya daripada kewajibannya sebagai seorang muslim. Seorang pejabat lebih cepat memenuhi panggilan rapat dari pada panggilan Allah. Jika melihat kondisi umat Islam seperti itu, sungguh sangat memprihatinkan.
Kemalasan dalam melaksanakan shalat, boleh jadi karena ketidakmengertian tentang arti shalat. Kenapa sih saya harus shalat? Apa sih yang saya dapat dari shalat? Apa sih manfaat dari shalat? Dan juga ada yang punya anggapan bahwa shalat nggak shalat sama saja. Na’udzubillahi min dzalik.
Di lain waktu, setelah melaksanakan shalat subuh, saya dan pak Imam sedang duduk di teras masjid. Ketika itu, saya menjadi pendengar yang baik, dia bercerita tentang keluarganya, termasuk anak-anaknya.
“Dek Ari (begitu dia memanggil saya), anak-anak saya dari kecil sudah saya ajarin shalat. Saya biasakan, setiap mendengar adzan, saya lebih dahulu untuk berwudhu dan shalat daripada anak-anak saya. Kemudian saya suruh anak-anak saya segera wudhu dan shalat. Itu saya lakukan setiap hari dari mereka kecil. Awal-awalnya mereka malas dan sering nggak mau. Namanya juga anak-anak, kalau nggak di motivasi, nggak mau shalat. Kalau nggak disuruh shalat, mereka malah main. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang, ketika mereka sudah dewasa, mereka rajin shalatnya. Insya Allah shalat lima waktu nggak pernah mereka tinggalkan, seakan-akan shalat itu menjadi kebutuhannya. Saya benar-benar bersyukur, dikasih sama Allah anak-anak yang penurut dan mau menjalankan shalat," pak Imam bercerita tentang anaknya.
Setelah mendengar cerita sederhananya, saya jadi tahu dan mencoba menganalisa, salah satu faktor yang menyebabkan seseorang malas melaksanakan shalat. Boleh jadi sumbernya dari keluarga, tidak adanya didikan dari orangtua mengenai shalat dan tidak adanya tauladan dari orangtua dalam melaksanakan shalat, membuat seorang anak menjadi tidak tahu tentang shalat dan pengetahuan seorang anak mengenai shalat sangat minim sekali. Di sinilah perlunya pengetahuan shalat kepada anak diberikan sejak kecil. Selain itu, ketauladanan orangtua dalam melaksanakan shalat sangat diperlukan, agar anak mencontoh apa yang orangtuanya lakukan. Paling tidak, jika pendidikan shalat diberikan sejak dini, berarti kita telah mencoba mengenalkan keberadaan Allah, Sang Pencipta semesta alam, dan ini merupakan awal dari penanaman tauhid kepada anak.
Benarlah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa suruhlah anak-anakmu melakukan shalat ketika berusia 7 tahun. Ketika anak menginjak usia 10 tahun dan belum juga melaksanakan shalat, maka pukullah dia, tentu dengan pukulan yang mendidik dan tidak melukai anak. Ini artinya penanaman kebiasaan shalat kepada anak memerlukan waktu yang lama sebelum anak menginjak usia baligh (usia disaat anak wajib shalat).
Jika dimisalkan usia baligh bagi anak adalah disaat anak berusia 14 tahun, maka dengan membiasakan anak untuk shalat di usia 7 tahun, berarti penanaman kebiasaan shalat kepada anak memerlukan waktu sekitar 7 tahun, waktu yang sangat lama bagi orangtua untuk mendidik dan membiasakan anaknya shalat sebelum anaknya menginjak usia baligh. Hal ini kebanyakan orangtua tidak menyadarinya. Jadi, jangan menyalahkan anak jika kurang memperhatikan shalat atau malas dalam melaksanakan shalat pada usia balighnya, karena penanaman kebiasaan shalat pada anak terlambat bahkan tidak sama sekali dilakukan oleh orangtuanya. Kalau anak sudah dibiasakan shalat di usia 7 tahun, Insya Allah di usia balighnya pun, anak akan terbiasa dalam melaksanakan shalat dan menjadikan shalat sebagai kebutuhannya sehari-hari.
Maka, sangat penting sekali didikan dan tauladan dari orangtua mengenai shalat pada anaknya yang berusia dini, agar kelak anaknya mau melaksanakan shalat di usia balighnya. Lalu bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan anak-anak kita? bagaimana dengan keluarga kita? Belum terlambat untuk menjadikan semuanya isitiqamah dalam menjalankan Ibadah shalat.
Wallahu a’lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aryanto Abdul Latif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.