|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://www.abisabila.com |
|
http://facebook.com/abi.sabila |
|
http://twitter.com/AbiSabila |





Sabtu, 10 September 2011 pukul 11:00 WIB
Penulis : Abi Sabila
Awas! Menjelang Lebaran banyak beredar biskuit palsu! Begitu bunyi SMS yang kuterima dari beberapa sahabatku, pertengahan Ramadhan lalu. Astaghfirullah! Sudah sedemikian parahkah pemalsuan/pembajakan di negeri ini, sampai-sampai produk biskuit pun dipalsukan? Aku membatin, prihatin. Tapi keprihatinanku segera berakhir karena biskuit palsu yang mereka maksudkan ternyata tidak sama dengan yang aku bayangkan. Berbagai makanan ringan - khas Lebaran - seperti kerupuk, emping, dan rengginang dalam kaleng bekas biskuit itulah yang mereka maksudkan.
Selain SMS tersebut, beberapa sahabat blogger juga sempat menjadikan ‘biskuit palsu’ sebagai bahan tulisan mereka. Berbeda ketika pertama kali membaca SMS, saat membaca judul tulisan aku sudah bisa menebak ke mana arah tujuan mereka. Karena itu pula, saat silaturrahim ke rumah beberapa sahabat dan kerabat Lebaran kemarin, aku tidak lagi kaget melihat beberapa kaleng biskuit ‘palsu’ berjajar di meja. Yang membuat terkejut justru masih saja kutemukan silaturrahim ‘palsu’.
Masih ada orang yang memanfaatkan silaturrahim untuk sebuah tujuan yang sebenarnya tak lebih dari sekedar ajang untuk pamer. Baju yang indah, kendaraan yang mewah, perhiasan di leher, jari, dan pergelangan tangan hingga nyaris seperti toko berjalan. Sayangnya, setelah semua dipertontonkan, mereka berlalu begitu saja tanpa meninggalkan apapun untuk saudaranya nikmati, kecuali satu rasa manusiawi yang jika dituruti akan mendatangkan iri di hati.
Jika ada yang kecewa karena mendapati biskuit ‘palsu’, sebenarnya tidaklah terlalu. Meski isi yang ditemui tak sama dengan gambar yang tertera di kemasan, tetap saja masih ada yang bisa dinikmati. Tapi bila silaturrahim palsu, ini benar-benar membuat kecewa. Semoga kita terhindar dari melakukan hal yang semacam ini. Semoga pula, ketika tangan ini tergerak untuk menulis bukan karena terdorong rasa iri terhadap mereka yang berlimpah materi, tapi sebagai pengingat diri bahwa Idul Fitri bukan saja saat yang tepat untuk bersilaturrahim, saling memaafkan, tapi juga untuk berbagi. Dan memaknai Idul Fitri semestinya bukan saja harinya, tapi juga hatinya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.