|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://www.abisabila.com |
|
http://facebook.com/abi.sabila |
|
http://twitter.com/AbiSabila |





Rabu, 17 Agustus 2011 pukul 08:00 WIB
Penulis : Abi Sabila
Aku masih memilih durian mana yang akan kupetik untuk berbuka saat seseorang mengetuk pintu, memutus mimpiku. Masih dalam keadaan setengah sadar, samar kudengar suara kakak ipar, memberi tahu bahwa Pak Anton - salah satu tetangga kami - baru saja meninggal.
Innalillahi wa inna Ilaihi rajiun. Rasa kantukku sirna seketika. Baru kemarin sore aku membezuknya, tapi hari ini beliau telah pergi untuk selamanya.
Subhanallah! Inilah salah satu kepastian yang sebagian masih Allah rahasiakan. Mahakuasa Dia untuk mematikan yang hidup dan menghidupkan kembali yang mati. Alhamdulillah, aku masih bisa melihat dunia lagi. Kerja malam telah membuatku tidur begitu pulas selepas Dzuhur tadi.
Usai mandi dan shalat Ashar, bersama kakak ipar, kami segera menuju kediaman keluarga Pak Anton, bergabung dengan beberapa tetangga yang sudah lebih dulu datang. Tak banyak yang bisa kami lakukan, berbagai peralatan memandikan jenazah sudah disiapkan, tinggal menunggu kedatangan mobil jenazah yang sedang dalam perjalanan.
Aku, di antara para pelayat lainnya, duduk dan saling diam, tak banyak bicara. Diliputi rasa duka, kami larut dalam pikiran masing-masing. Tentang sesuatu yang membuat kami berkumpul saat itu. Tentang kematian. Kematian yang menyebabkan seorang istri menjadi janda, seorang suami menjadi duda, anak menjadi yatim atau piatu, atau bahkan keduanya, dan seorang saudara atau orangtua menjadi sebatang kara.
Tak ada satu ayatpun dalam Al-Qur'an yang menyebutkan, mengisyaratkan bahwa yang usianya lebih tua akan lebih dulu menghadap penciptanya. Yang ada adalah bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kematian ibarat pintu, dan kita semua akan melewatinya. Yang tidak kita ketahui secara pasti adalah kapan, di mana, dan dengan cara atau dalam keadaan bagaimana kita bertemu dengannya.
Ingatanku kembali kepada kematian yang menjemput beberapa tetangga, juga yang terjadi pada istriku. Di usia, tempat, dan penyebab berbeda, kematian datang menjemput mereka, membawa kembali kepada Sang Penciptanya.
Bapaknya si A, meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di ruang ICU karena kecelakaan di jalan sepulang kerja. Kemudian ibunya si B, nyawanya tak tertolong setelah berobat ke sana ke mari, mengupayakan kesembuhan dari serangan kanker payudara. Juga almarhumah istriku, hanya mampu bertahan tak lebih dari tujuh puluh hari semenjak dokter menvonisnya gagal ginjal, meninggalkan kami yang mencintai dan dicintainya, menghadap Sang Maha Pemilik Segalanya, termasuk Cinta.
Empat puluh hari sebelum Ramadhan, bapaknya si C juga meninggal karena sebuah kecelakaan di jalan saat akan berangkat kerja. Dan yang terakhir, yang menggerakan jari-jari ini menulis lagi, mengingatkan diri sendiri atas satu kepastian yang dirahasiakan, dokter dan paramedis tak mampu menyelamatkan nyawa bapaknya si D dari penyempitan pembuluh darah, meskipun berbagai upaya telah mereka usahakan.
Setelah ini, siapa yang akan menyusul mereka? Entahlah! Bisa jadi aku, atau yang membaca tulisanku. Aku tak bermaksud menakut-nakuti, hanya mengingatkan, terutama diri sendiri, bahwa kematian adalah suatu kepastian yang masih dirahasiakan; kapan, di mana, dan dengan cara apa atau bagaimana, tak ada satupun manusia yang mengetahui, namun pasti akan bertemu dengannya.
Mati itu pasti. Tapi ketika ditanya, bagaimana pendapat kita tentang kepastian yang satu ini, dengan alasan berbeda, sebagian besar akan mengaku sama. Takut! Takut yang dimaksudkan tidaklah selalu sama, bisa saja berbeda. Ada yang merasa takut karena membayangkan nasibnya di akhirat, tapi ada juga yang takut karena kematian akan memisahkan ia dengan dunia, keluarga, harta, dan ataupun jabatannya. Na’udzubillah!
Ada yang karena takut, mendorongnya tekun beribadah, mempersiapkan segala sesuatu, perbekalannya untuk kehidupan selanjutnya yang abadi. Tapi ada yang menjadikan takut sebatas di bibir saja. Takut mati tapi ibadah mereka abaikan, maksiat justru diteruskan. Na’udzubillah!
“Mobil jenazahnya sudah datang!”
Sebuah suara mengejutkanku, membuyarkan lamunanku. Aku tak beranjak dari bangku ketika puluhan pelayat bergerak maju, berusaha melihat kedatangan jenazah dari jarak terdekat. Selain akan menggangu, juga terlalu penuh untuk berdesakan dengan mereka, jadi aku memilih duduk saja.
Saat orang-orang dewasa saling menjinjitkan kaki untuk melihat kedatangan jenazah lebih jelas lagi, aku melihat beberapa bocah lari terbirit, menjauh dari kerumunan. Ada ketakutan di wajah mereka. Aku berkesimpulan bahwa mereka juga mempunyai rasa takut terhadap kematian, hanya saja untuk alasan yang berbeda. Bagaimana dengan Anda? Apapun jawabannya, ijinkan aku mengingatkan kembali bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, namun sebagian masih dirahasiakan. Karena itu, siapkanlah perbekalan seolah kematian akan datang sesaat lagi.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.