|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |



Selasa, 6 September 2011 pukul 10:30 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Dalam situs bbc.co.uk, diberitakan mengenai Jhamak Kumari Ghimire, seorang penderita cerebral palsy menjadi juara penulis puisi Nepal. Cerebral palsy yang membuat perempuan satu ini kehilangan kemampuan untuk menulis menggunakan tangannya. Keterbatasan tidak menghalanginya untuk tetap menulis bahkan menjadi sang juara. Dia keluar sebagai juara dengan judul bukunya “Is life a thorn or a flower?”
Sebuah essay tentang perjalanan hidupnya yang kehilangan kemampuan bicara dan menggunakan kedua tangannya. Kebahagiaan yang sangat luar biasa ketika dia bisa menuliskan satu kata dengan kakinya di tanah dan dengan bangga mengatakan bahwa dia bisa melafalnya dengan hati. Semangat yang sangat luar biasa.
Ghimire dianggap sebagai beban dalam kehidupan keluarganya. “Ms Ghimire’s father, Krishna Prasad Ghimire, has described how a neighbour suggested that he kill his disabled daughter when she was seven by throwing her in a river.” Sungguh sangat menyedihkan.
Tapi Ghimire betul-betul menunjukkan bahwa dia ada di dunia ini bukan sebagai sesuatu yang tidak berguna, tapi bisa membuat orangtuanya bangga dan sangat bernilai di mata dunia.
Suatu hal yang sangat memalukan ketika kita telah terlahir sebagai manusia sempurna namun belum bisa melakukan apapun. Bagaimana bisa melakukan sesuatu untuk orang lain jika belum mampu melakukannya untuk diri sendiri.
Terima kasih Ghimire, semangatmu hari ini telah memberikan secercah cahaya dalam hidup saya. Setidaknya telah terinspirasi untuk mencatat satu hal “keterbatasan tidak selamanya membatasi, justru karena keterbatasanlah seseorang bisa berprestasi”.
Satu hal yang menjadi catatan sangat penting untuk saya hari ini. jika selalu berada dalam kebebasan kita tidak akan pernah belajar bagaimana seandainya ketika kita berada dalam keterbatasan. Keterbatasan telah mengajarkan kebebasan.
Hari ini saya bangga dengan keterbatasan menulis yang saya miliki. Karena keterbatasanlah yang menuntut saya untuk terus belajar dan belajar. Menulis apapun untuk meninggalkan jejak kehidupan bahwa saya pernah hidup bukan untuk menjadi bagian dalam sejarah, tapi mengukir sejarah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.