|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |


Kamis, 25 Agustus 2011 pukul 12:21 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Jika orang-orang menyebut masa SMA adalah masa-masa terindah, maka bagiku masa kecil adalah surga dunia. Terlalu berlebihan mungkin, tapi tidak bagiku, aku bebas mengungkapkan apa yang aku rasa. Masih ingatkah bagaimana kita melalui masa kecil? Seperti berada di surga. Setiap hari yang ada hanya keceriaan. Tidak ada tuntutan untuk berpikir. Kalaupun ada, hanyalah berpikir permainan apa yang akan dimainkan hari ini. Atau sebatas memikirkan dengan siapa hari ini aku akan bermain dan di mana.
Tidak ada hal yang harus menguras tenaga untuk berpikir. Hanya dengan diimingi permen atau es krim saja, sudah cukup untuk mengikuti apa yang diinginkan orangtua. Itu hanya masa kecil dan telah berlalu.
Tidak selamanya kita hidup sebagai anak kecil. Seiring pertumbuhan, keinginan untuk melanggarpun tumbuh membesar. Waktu kecil penurut, naif, dan tulus. Lalu bagaimana jika telah tumbuh dewasa? Kedewasaan dan hipokrit adalah sahabat karib. Orang dewasa itu munafik, begitu kasarnya.
Melanggar adalah sifat manusia yang telah ada sewaktu manusia pertama diciptakan. Adam dan Hawa nenek moyang kita telah mewariskan sifat melanggar ini. Dan ternyata ini adalah tipu dayanya setan yang selalu berusaha untuk menyesatkan manusia.
Ketika kita merindukan masa kecil, apa sebenarnya yang kita rindukan? Kebebasan, keindahan, ketulusan? Ketika kita merindukan kebebasan, itu juga yang kurasakan. Kebebasan yang berbalut dengan keindahan tanpa ada kebohongan. Mungkin hanya sedikit orang yang merindukan ketulusan karena sifat hipokrit yang begitu melekat pada orang dewasa.
Biarlah aku diolok-olok jadi anak kecil, asalkan tetap bisa menjadi manusia tulus dengan caraku sendiri. Daripada jadi manusia dewasa hipokrit dengan jiwa anak kecil. Kedewasaan tidak selamanya terletak pada bilangan umur, tapi tersemai dalam sikap.
Jika Adam dan Hawa manusia suci bertaubat atas kelalaiannya, lalu bagaimana dengan kita? Berapa pelanggaran yang telah kita lakukan hari ini, kemarin, seminggu lalu atau sebulan yang lalu, bahkan setahun yang telah lewat? Tidak terhitungkah? Atau sama sekali tidak ada, lalu bagaimana jika menghitung pelanggaran yang telah kita lakukan selama kita hidup?
Kita bukan lagi anak kecil dan bangga dengan menjadi manusia dewasa untuk terus menyadari apa yang telah kita lakukan sebagaimana Adam dan Hawa sadarkan tipu daya setan yang terkutuk itu. Benahi diri setiap hari agar menjadi manusia dewasa sekalipun dianggap anak kecil.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.