Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Karakter No Action Talk Only
8 April 2011 pukul 09:25 WIB
Wahai Pemimpin, Punya Nuranikah Engkau?
28 Februari 2011 pukul 11:11 WIB
Kabar dari Meulaboh
22 Februari 2011 pukul 09:25 WIB
Ibu dan Uang Infak
15 Februari 2011 pukul 08:30 WIB
Bulan Sabit di Masjid Al-Aqsa
9 Februari 2011 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 14 April 2011 pukul 08:40 WIB

Komplain Seorang Guru

Penulis : Eko Prasetyo

Pada 16 September 2008, Indonesia berkabung atas tewasnya 21 orang yang antre zakat di rumah H. Syaikhon di Pasuruan. Demi mendapatkan Rp. 30 ribu, mereka rela berdesakan, pingsan, bahkan hingga kehilangan nyawa. Bersamaan dengan kejadian itu, saya menerima e-mail tentang pendapat seorang guru SMP swasta di Surabaya.

Beliau menyampaikan keprihatinannya bahwa banyak guru di sekolah swasta atau negeri yang bukan berasal dari jalur kependidikan (SPd). Secara tegas, beliau mengatakan tidak setuju (bisa disebut tidak rela) bila guru berasal dari non kependidikan.

"Bedakan antara mengajar dan mendidik. Pokoknya, guru harus dari sarjana pendidikan," tuturnya.

"Iya, saya tahu esensinya, Pak. Tapi, banyak kita temukan bahwa kompetensi seorang guru lulusan non kependidikan tidak kalah dengan mereka yang bergelar SPd," jawab saya.

Saya lantas berkisah tentang dua rekan saya. Si A adalah lulusan pendidikan (SPd), sedangkan si B seorang sarjana sastra. Kedua-duanya memiliki pengetahuan dasar dan skill mengajar hampir sama baiknya. Saat melamar di sebuah sekolah internasional di Surabaya, si A tidak diterima. Sedangkan kawannya (si B) diterima meski dia tidak memiliki akta mengajar. Alasannya, selain dinilai mampu, si B menguasai bahasa Inggris, inilah yang tidak dikuasai oleh si A.

Saya pikir, guru dari sarjana pendidikan bukan harga mati. Artinya, seseorang yang bukan berasal dari jalur kependidikan pun bisa menjadi seorang guru. Jangan jadikan sarjana pendidikan atau bukan sebagai jurang pemisah. Meski demikian, perlu kebijakan dalam menyikapi masalah tersebut.

Jika saya ingin menjadi guru tapi tak punya akta mengajar, apakah saya akan putus asa dan meratapi mengapa dulu tidak mengambil jurusan kependidikan? Tidak!!! Mungkin, Anda tahu alasannya.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1598 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels