Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Wahai Pemimpin, Punya Nuranikah Engkau?
28 Februari 2011 pukul 11:11 WIB
Kabar dari Meulaboh
22 Februari 2011 pukul 09:25 WIB
Ibu dan Uang Infak
15 Februari 2011 pukul 08:30 WIB
Bulan Sabit di Masjid Al-Aqsa
9 Februari 2011 pukul 10:00 WIB
Antara Teman dan Sahabat
3 Februari 2011 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 8 April 2011 pukul 09:25 WIB

Karakter No Action Talk Only

Penulis : Eko Prasetyo

"Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them."
(Anak-anak tidak pernah pandai mendengarkan apa yang dikatakan para orangtua atau guru, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru mereka.)
~James Baldwin~

***

Sebuah buku lawas –agak butut karena sebagian sampulnya sobek– menarik perhatian saya. Sampul depannya didominasi warna merah dan ilustrasi seorang lelaki dengan topi khas Rusia memegang pistol. Jika beruntung, buku jadul seperti itu bisa didapatkan di toko buku bekas.

Judulnya Mati Ketawa Cara Rusia. Buku berisi banyolan khas Negeri Kamerad itu disunting oleh Zhanna Dolgopolova. Di Indonesia, buku tersebut diterjemahkan dan diterbitkan kali pertama pada 1983 oleh Grafiti Press dari Grup Tempo.

Sayang, buku itu kini jarang ditemukan di toko-toko buku. Padahal, isinya sangat bagus. Bahkan, bisa dikatakan cukup relevan dengan kejadian terkini di Indonesia. Berikut salah satu kutipannya.

Alkisah di Rusia (saat masih bernama Uni Sovyet), seorang tokoh Partai Komunis Sovyet selalu berorasi untuk mengedepankan gotong royong dan bahu-membahu dalam mendorong kemajuan partai.

Suatu hari dia berkunjung ke sebuah daerah di pedalaman Siberia. Namun, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan mobil yang ditumpanginya terperosok ke dalam sebuah genangan lumpur.

Kebetulan ada beberapa penduduk di dekat tempat kejadian. Mereka segera mengerumuni mobil tersebut.

"Kalian kenal saya kan?" tanya sang politikus.
"Kenal, Kamerad."
"Kalian sering mendengar pidato saya, kan?"
"Benar, Kamerad."
"Nah, sekarang kalian menunjukkan apa yang kalian pelajari dari pidato saya."
"Baik, Kamerad."

Dengan tetap sambil mengerumuni mobil tersebut, para penduduk pun berteriak. "Dorong... dorong..." Namun, mereka tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa hanya berteriak saja tanpa melakukan apa-apa?" tanya sang politikus heran.
"Kami hanya melakukan apa yang Kamerad contohkan kepada kami," jawab para penduduk serempak.

***

Cerita tersebut menyiratkan seorang pemimpin yang hanya bisa melontarkan wacana, tanpa bisa mencontohkan dengan tindakan. Hal ini pula yang dikhawatirkan terjadi –dan sudah terjadi– di beberapa aspek, terutama pemerintahan kita.

Banyak pihak yang berkoar-koar menyuarakan tindakan antikorupsi, tapi justru terlibat kasus korupsi. Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan kita. Larangan merokok digemakan di lingkungan sekolah, namun justru ada guru yang merokok kebal-kebul di ruang kelas.

Sebagaimana ditekankan Ki Hadjar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional sekaligus pendiri Taman Siswa, pendidikan merupakan salah satu penentu kemajuan dan karakter bangsa. Karena itu, guru hendaknya tidak hanya piawai menyampaikan teori dalam kegiatan belajar mengajar, tapi juga memberikan contoh yang baik kepada para anak didik.

Guru merupakan profesi mulia yang kedudukannya sangat tinggi, meski –tak jarang– pengorbanan mereka tak sebanding dengan penghargaan yang didapatkan. Maka, sudah sepantasnya pemerintah serius meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di negeri ini. Termasuk, kompetensi para guru.

Sebab, di tangan merekalah nanti akan lahir generasi pemimpin bangsa. Generasi yang diharapkan memiliki karakter tegas yang mampu membawa bangsa ini lebih maju dari berbagai bidang. Jangan sampai anak didik kita berkarakter no action talk only, yang hanya bisa berwacana tanpa dapat memberikan contoh nyata. Semoga!

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1471 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels