Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Jika Dia Ibumu
10 Maret 2011 pukul 09:15 WIB
Kenali yang Kau Yakini
1 Maret 2011 pukul 09:00 WIB
Cerdas Berbagi
25 Februari 2011 pukul 08:45 WIB
Jangan Asal Ikut
21 Februari 2011 pukul 09:35 WIB
Karena Aku Memang Sudah Berkeluarga
17 Februari 2011 pukul 09:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 17 Maret 2011 pukul 09:09 WIB

Bukan Itu yang Kumau

Penulis : Abi Sabila

"Kami berteman cukup lama. Bahkan, kedekatan kami sudah seperti saudara."

Rasanya, kita – saya dan anda – memiliki pendapat yang sama, sebuah nilai plus bagi mereka yang bisa melakukan, menjaga persahabatan layaknya saudara.

"Kami selalu berbagi. Apa yang aku rasa, diapun merasakannya. Begitupun sebaliknya."

Kembali kitapun sepakat, bahwa kita ingin menjalani persahabatan seperti mereka. Bersama, berbagi dalam suka maupun duka.

Tapi akankah anda tetap ingin seperti mereka, setelah mereka menjelaskan 'berbagi rasa' yang mereka maksudkan? Sepertinya yang akan terjadi justru sebaliknya.

Bagaimana mungkin kita ingin seperti mereka, bila kebersamaan mereka ternyata dalam 'segala' hal, di luar yang kita bayangkan.

"Kami pulang lewat tengah malam. 'Alhamdulillah' rejekiku sedang lancar, giliranku mentraktir teman-teman. Tapi payah, baru beberapa gelas mereka sudah mabuk! Tidak seperti minggu kemarin, waktu si xx yang bayarin, sampai habis lima gelas mereka masih bisa joget-joget dengan penyanyi yang seksi-seksi itu!"

Astaghfirullah! Inilah kebersamaan yang mereka maksudkan. Jika salah satu dari mereka mendapatkan rejeki, bersama mereka nikmati di tempat hiburan, mabuk-mabukan, dan memuaskan nafsu bejat mereka. Na'uzubillah!

***

Manusia adalah makhluk sosial, saya tahu itu. Saya menyadari bahwa saya tak bisa hidup sendiri. Saya butuh keluarga, tetangga, sahabat, kerebat, pasangan, dan juga teman. Tapi teman seperti apa yang saya inginkan? Tentu saja bukan teman seperti itu yang saya mau.

Saya menginginkan teman yang ada saat suka maupun duka, bukan teman yang ada hanya saat suka tapi menghilang ketika duka melanda. Saya menginginkan teman yang merasa saling membutuhkan, bukan teman yang hadir saat dia butuh dan berlalu saat saya membutuhkannya. Saya menginginkan teman yang berani meluruskan bila saya keliru. Mengingatkan ketika saya lupa, melarang ketika saya salah melangkah, bukan membiarkan saya tersesat atau bahkan mengajak untuk bermaksiat. Dan, sayapun ingin menjadi yang seperti itu untuk teman-teman saya. Bukan seia sekata, seiring sejalan dalam 'segala hal', termasuk bermaksiat kepada Allah SWT.

Tak ingin karena alasan persahabatan, muncul rasa tak enak hati untuk mengingatkan teman yang terlena tipu daya dunia. Jangan karena alasan kedekatan, lalu tak berani melarang teman yang mulai menyimpang jalan. Jangan karena alasan kebersamaan, ke manapun dan apapun yang mereka inginkan, kitapun mengiyakan. Ke manapun mereka pergi, kita ikuti. Di manapun mereka berada, di situpun kita ada. Tak peduli bermaksiat sekalipun, asalkan tetap bersama-sama. Bukan, bukan teman seperti itu yang kumau.

Manusia tidaklah sempurna, pernah lupa, pernah khilaf, dan mempunyai berbagai kekurangan lainnya. Sayapun mengakui hal itu. Barangkali apa yang saya harapkan dari seorang teman terlalu berlebihan, terutama bila dibandingkan dengan apa yang bisa saya lakukan dan berikan. Bukan bermaksud untuk mencari keuntungan, tapi memilah dan memilih teman adalah sebuah keharusan. Berapa banyak fakta di lapangan, orang-orang jauh dari agama, dari keluarga karena salah memilih teman dan pergaulan. Banyak orang-orang terjerumus ke lembah dosa bermula dari rasa setia kawan dan solidaritas yang membabi buta.

Sudah semestinya bahwa sebagai saudara, tetangga, sahabat, kerabat, pasangan, maupun sebagai teman, kita saling mengingatkan, menguatkan, dan mendo'akan. Karena kita tak luput dari khilaf dan lupa, tak lepas dari salah dan dosa, maka kita butuh untuk diingatkan. Karena kita lemah, karena ada kekurangan di balik kelebihan yang kita miliki, maka kita butuh dukungan dan juga bantuan. Karena iman di dada sering naik turun, karena hati kita sering berubah tak pasti, maka kita perlu saling mendo'akan.

Ya Allah, aku mohon dekatkanlah aku dengan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku kepada-Mu. Termasuk orang-orang yang dekat dengan-Mu. Dan jauhkanlah aku dari segala sesuatu yang bisa menjauhkanku dari-Mu. Termasuk orang-orang yang jauh dari-Mu. Amin, Ya Rabb.

http://www.abisabila.com

Suka
Puspita , Luluk Khumaidah, dan Nisya Anisya menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

M. Hilmy | Wiraswasta
Insya Allah... Isinya ringan seperti kapas, berbobot seperti baja, dan dalam seperti samudera.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1275 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels