Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Cerdas Berbagi
25 Februari 2011 pukul 08:45 WIB
Jangan Asal Ikut
21 Februari 2011 pukul 09:35 WIB
Karena Aku Memang Sudah Berkeluarga
17 Februari 2011 pukul 09:09 WIB
Bude
14 Februari 2011 pukul 12:21 WIB
Senangnya Bepergian Bersamanya
13 Februari 2011 pukul 09:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 1 Maret 2011 pukul 09:00 WIB

Kenali yang Kau Yakini

Penulis : Abi Sabila

Miris. Barangkali itu pula yang akan anda rasakan apabila kebetulan melihat tayangan ini. Saya tidak akan membahas tayangan yang saya tidak tahu pasti masuk dalam kelompok mana, apakah reality show, berita, ataukah yang lainnya. Saya juga tidak tahu persis kapan saja acara ini ditayangkan. Yang saya tahu, sang host atau pembawa acaranya sekilas mirip dengan seorang da’i kondang negeri ini. Saya kebetulan melihat tayangan ini beberapa waktu yang lalu, saat sarapan pagi.

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, keluarga kami memang belum bisa sepenuhnya meninggalkan televisi. Kami baru bisa mengurangi, memilah dan memilih tayangan mana yang layak untuk kami tonton.

Yang ingin saya bahas di sini adalah setelah melihat tayangan ini, saya baru tersadar bahwa banyak fakta tentang umat Islam saat ini yang cukup memprihatinkan, menyedihkan, mengkhawatirkan, atau apalah, saya tidak tahu sebutannya.

Dalam episode kali itu, sang host - yang sudah saya bilang wajahnya sekilas mirip dengan seorang da’i terkenal - mewawancarai masyarakat dari berbagai kalangan di beberapa tempat keramaian. Tema yang diambil adalah mengenai sejarah nabi Muhammad SAW. Yang menjadi sasaran tentu saja umat muslim. Bukan pertanyaan yang sulit, namun ternyata tidak semua responden bisa menjawabnya dengan benar.

Di awal tayangan, sang host bertanya pada dua orang gadis remaja, siapa ibunda nabi Muhammad? Ragu, salah satu dari mereka menjawab Siti Hajar (sambil tertawa). Sang host kembali mengulangi pertanyaannya, namun mereka benar-benar tidak tahu. Itu terbukti dari jawaban mereka yang berganti-ganti, dari Siti Fatimah sampai Siti Aisyah.

Kepada responden yang lain, sang host menanyakan siapa ayahanda nabi Muhammad? Kali ini dijawab dengan benar, meskipun ada responden lainnya yang menjawab Abdul Mutholib, bahkan Abu Tholib.

Dari beberapa responden yang ditanya, tidak semuanya bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar. Seperti ada yang menjawab Muhammad diangkat menjadi rasul pada usia dua puluh tiga, ada juga yang menjawab tiga puluh tahun. Juga dimana nabi Muhammad wafat dan dimakamkan? Ada yang bisa menjawab di Madinah, namun ada pula yang menjawab di Mekkah, bahkan ada yang asal-asalan menjawab di Arab.

Apa pendapat anda terhadap hal ini? Awalnya saya tidak langsung percaya pada ‘kejujuran’ tayangan ini, sebab bisa saja hanya sebuah rekayasa, ilustrasi semata sebelum masuk pada inti acara mereka.

Penasaran, saya coba menanyakan empat pertanyaan itu pada seorang anak sepuluh tahun yang duduk tak jauh dari saya. Dengan cepat dan tepat, anak itu bisa menjawab keempat pertanyaan yang saya ajukan. Tapi saya masih belum puas, bisa saja ia menjawab dengan cepat karena ia anak sekolah dan pelajaran di sekolah memang sedang membahas hal serupa.

Untuk membuktikan bahwa tayangan yang saya lihat bukan sekedar rekayasa (sebenarnya saya akan merasa lega justru bila tayangan itu hanya rekayasa sebab sangat memalukan, menyedihkan bila seorang muslim tidak tahu sejarah nabinya, bahkan untuk hal yang paling sederhana sekalipun). Saya simpan empat pertanyaan tersebut untuk kemudian saya tanyakan kepada orang lain, mulai dari keluarga, tetangga, hingga rekan kerja. Tentu saja, saya tidak bertanya seperti sang host bertanya pada para responden. Juga tidak seperti saya bertanya pada bocah sepuluh tahun yang duduk di sebelah saya.

Saya maklum ketika beberapa di antara mereka merasa heran dengan pertanyaan saya. Namun, keadaan segera menjadi terbalik, saya ‘shock’ dengan kenyataan yang saya temui. Ternyata, tayangan itu tidak (sepenuhnya) direkayasa. Tayangan itu benar dan nyata.

Benar bahwa banyak umat ini yang ‘tak kenal ‘dengan seseorang yang mereka akui dan yakini sebagai seorang nabi dan rasul. Nyata bahwa belajar sejarah nabi Muhammad tidaklah lebih menarik dibanding mempelajari sejarah tokoh-tokoh kafir yang di dunia saja sedikitpun tidak bisa diharapkan pertolongannya, apalagi di akhirat kelak. Benar dan nyata, meski tidak semua, banyak umat ini yang lebih hafal dengan sejarah tokoh-tokoh kafir dibanding sejarah nabi yang telah merubah dunia dari kegelapan menjadi terang benderang, yang sangat kita dambakan syafaatnya di akhirat kelak. Astaghfirullah.

Kekhawatiran ini terus meluas. Jangan-jangan, saya sendiri pun tidak begitu tahu sejarah manusia paling mulia ini, kecuali hanya pengetahuan yang paling luar dan standar saja. Jangan-jangan keluarga, tetangga, sahabat, kerabat, dan orang-orang di sekliling saya juga tidak begitu kenal dengan (sejarah) nabinya sendiri.

Tidak berlebihan rasanya, bila kecemasan ini muncul. Apa yang ada dalam tayangan di televisi yang secara kebetulan saya lihat saat sarapan pagi, juga saya dapati di sekeliling saya. Banyak umat ini yang tak kenal dengan sejarah sosok yang mereka yakini.

Tidak ada salahnya bila kita membuat daftar pertanyaan untuk kemudian kita jawab sendiri, segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi kita, nabi Muhammad SAW. Mulai dari kelahirannya, keluarga terdekatnya, sahabat-sahabatnya, apakah kita mampu menjawab semuanya dengan cepat dan tepat? Jika semua bisa kita ingat, coba untuk menggali lebih dalam lagi, seberapa dekat kita mengenal beliau. Dan, tak ada salahnya pula pertanyaan itu kita ajukan kepada orang-orang di sekitar kita. Jangan-jangan, dalam diam kita mulai lupa dengan sejarah nabi yang kita mengaku menjadi umatnya. Menyedihkan bukan, bila belajar sejarahnya saja dianggap tak menarik lagi?

Mari, kita benahi kembali, mulai dari diri kita, keluarga kita. Kita kenali lebih dekat lagi seseorang yang kita yakini sebagai utusan Allah, yang sangat kita harapkan syafaatnya kelak, dengan jalan mempelajari sejarahnya. Tak ada alasan bahwa kita tak lagi sekolah, banyak tempat untuk bertanya, banyak buku yang bisa dibaca. Semua kembali pada kemauan kita, apakah kita ingin mengenali sosok yang kita yakini, ataukah cukup dengan berucap kita yakin dan percaya, lalu berharap mendapat syafaatnya.

http://www.abisabila.com

Suka
Nisya Anisya, Saeful Arif, dan Aryanto Abdul Latif menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

UmmuRaihanah | IRT, Wiraswasta
Inspiratif, banyak ilmu. Tampilan webnya sudah banyak berubah. Maju terus, tetap istiqomah. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1297 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels