HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Tak Seringan Mengerjakannya
5 Februari 2011 pukul 08:45 WIB
Masa Lalu Fulan
30 Januari 2011 pukul 08:30 WIB
Masih Ada Dusta di Hatiku
26 Januari 2011 pukul 09:30 WIB
Gratis, Benarkah?
20 Januari 2011 pukul 13:30 WIB
Kalianlah yang Menolong Saya
14 Januari 2011 pukul 15:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 13 Februari 2011 pukul 09:00 WIB

Senangnya Bepergian Bersamanya

Penulis : Abi Sabila

Lelaki yang ingin kuceritakan ini usianya baru 31 tahun, seusia denganku. Sebut saja dia Dimas, meski bukan itu nama yang diberikan orangtuanya saat dia lahir dulu. Dia sudah berumah tangga dan dikaruniai seorang anak, sama juga sepertiku. Kami berbeda tempat kerja dan tempat tinggal. Dia bekerja di sebuah perusahaan farmasi, sedang aku di perusahaan yang memproduksi kabel. Dia tinggal di RT 04, sedang aku di RT 02, sama-sama di RW 06. Pertemuan pertama kali terjadi di Mushala Baiturrahim saat mengikuti acara Yasiinan malam Jum'at, empat tahun yang lalu. Semenjak itu, hampir setiap hari kami bertemu, dan terkadang kami malah pergi bersama untuk suatu urusan.

Dimas bekerja sebagai operator produksi di perusahaan farmasi. Dia hanya lulusan SLTA, sama sepertiku. Dimas adalah sosok seorang sahabat yang sederhana, sopan, dan sangat menghargai persahabatan. Meski lulusan sekolah umum, namun Dimas memiliki pengetahuan agama yang luas. Sempat aku mengira dia alumni sebuah pondok pesantren. Setiap aku bertanya soal agama yang belum kupahami, selalu saja dia bisa menjawabnya dengan benar dan lancar.

Dimas memiliki hobi membaca dan rajin mengaji. Koleksi buku-buku Islaminya lumayan banyak, tak seperti diriku. Setiap hari, bada’ shalat Maghrib dia mengaji sampai waktu Isya tiba. Dia masih belajar mengaji, layaknya sepertiku padahal kutahu dia sudah berkali-kali khatam Al-Qur'an. Setiap malam Rabu dia hampir tak pernah absen mengikuti pengajian di rumah Haji Nurdin. Juga setiap Minggu, pagi selama dia tidak masuk kerja dia selalu datang di pengajian yang diadakan di sebuah pondok pesantren di Pasar Kemis. Singkatnya, Dimas adalah sosok seorang hamba yang taat beribadah. Setiap aku datang ke mushala untuk shalat berjama'ah, dia selalu sudah ada di sana. Bahkan, saat aku tak shalat berjama'ah di Mushala karena hujan misalnya, aku yakin Dimas tetap shalat berjama'ah di sana.

Banyak kelebihan yang ada pada diri Dimas yang juga ada pada sahabat-sahabatku yang lain, tapi rasanya ada satu keistimewaan yang hanya kutemui pada diri sahabatku yang memelihara jenggotnya dengan rapi ini. Aku senang jika bepergian bersama dengannya. Dia orangnya penuh perhitungan dan pertimbangan.

Perhitungan yang kumaksud di sini bukan perhitungan dalam arti pelit, sebab jika bepergian dengannya dia tak segan-segan mengeluarkan uang untuk ongkos dan jajan padahal aku yang mengajaknya jalan. Pertimbangan yang kumaksudkan di sini bukan berarti orangnya ragu-ragu dan cenderung tidak tegas. Sebelum memutuskan untuk pergi, dia akan mempertimbangkan, manfaat-mudharatnya, baik buruknya, dan kapan waktunya yang tepat.

Ciri khas dia adalah jika akan bepergian dia lebih senang dengan menyebut sebelum atau sesudah shalat. Jarang sekali dia mengatakan kita berangkat jam sekian atau jam sekian, kecuali untuk keperluan atau acara yang sifatnya resmi dan tak bisa diubah waktunya. Selagi hanya acara biasa apalagi tidak melibatkan banyak orang, dia selalu memberikan pilihan kita shalat di sini atau di tempat tujuan. Dia paling tidak suka jika waktu shalat tiba kami masih dalam perjalanan. Baginya, shalat tepat waktu secara berjama'ah harus diutamakan, baik di tempat asal maupun tempat tujuan. Jika dalam perjalanan, belum tentu bisa shalat berjama'ah tepat waktunya, di samping tentunya menjadi kurang khusyuk.

Itu keistimewaan pertama. Yang kedua, jika bepergian bersamanya, Dimas selalu bisa menjaga pandangan, ucapan, dan juga tingkah lakunya. Lirik sana sini, ngomentarin apalagi meledek cewek-cewek di jalan maupun di mall bukanlah tipe dia. Selama aku bersamanya, belum pernah sekalipun dia menunjukan sikap seperti itu. Dimas adalah tipe suami yang tak perlu dicurigai oleh istri, dia bisa menjaga diri dan hati jika sedang berada di luar rumah.

Keistimewaan selanjutnya adalah ke manapun kami pergi, tempat yang paling dicarinya adalah keberadaan mushala atau masjid. Bepergian bersamanya tak perlu khawatir mencari masjid atau mushala, karena tanpa diminta dia akan menemukan dengan feelling-nya yang tajam, aku tinggal mengekor di belakangnya.

Pernah satu kali kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta. Itu adalah kunjungan kami yang pertama. Ketika masuk waktu zhuhur, spontan dia memberikan kode agar aku menunda memilih-milih barang dulu. Seakan sudah hafal dengan daerah situ, dengan santainya dia berjalan. Aku sempat bingung dan bertanya-tanya dalam hati, sampai akhirnya pertanyaanku terjawab dengan sendirinya ketika kami sampai di mushala yang tersedia di lantai dasar. Yang aku bingungkan, bagaimana dia tahu padahal kami sama-sama baru sekali ke tempat ini. Dengan santai dia mengatakan bahwa sejak masuk ke mall ini dengan diam-diam dia mengamati papan petunjuk yang menunjukan arah mushala. Dan dia berhasil menemukan sebuah papan kecil bertanda panah bertuliskan mushala di lantai dasar pada saat aku asyik melihat-lihat barang-barang yang dipajang di etalase toko. Astaghfirullah! Sahabatku, kau telah sukses membuatku malu tanpa pernah kau bermaksud begitu.

Bercerita tentang Dimas, rasanya seakan-akan hanya sisi kebaikannya yang bisa aku berikan. Bukan tanpa cacat dan cela, bagaimanapun dia juga manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan di balik semua kelebihan dan keistimewaannya. Namun, sejauh aku mengenalnya, rasanya lebih banyak kebaikan dan kelebihan yang kutemukan, paling tidak dibandingkan denganku. Kalaupun ada kekurangannya, itu masih terbilang wajar, bahkan aku sendiri seperti itu, lebih sering malah.

Sahabatku, aku tak berharap kau berubah, merasa tinggi hati jika kau membaca tulisan ini, tapi aku berharap bahwa orang lain bisa mengambil contoh dari sisi kebaikanmu, terutama aku yang meski sekian lama mengenalmu tetap saja belum bisa mengikuti jejakmu apalagi menjadi sepertimu.

http://www.abisabila.com

Suka
yantie menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

fadhil | Mahasiswa
2 kata untuk situs ini, LUAR BIASA!!! Berharap bisa terus memberi manfaat pada para pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2856 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels