|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
|
|
http://www.lailysyuhadak.blogspot.com |
|
mabrur_46@yahoo.com |
|
|
mabrur_46@yahoo.com |
|
mabrur_46@yahoo.com |
|
mabrur_46@yahoo.com |


Jum'at, 17 Desember 2010 pukul 15:50 WIB
Penulis : reihana
Murid-murid biasa memanggilnya Pak Seno, seorang guru bahasa Indonesia di salah satu SMA di kotaku. Umurnya 33 tahun, badannya atletis, kulitnya sawo matang. Ada satu hal yang istimewa dari Pak Seno, bagi penggemar tim sepak bola Mojokerto Putra (MP) pasti tak asing dengan pria ini. Ya, selain berprofesi sebagai guru beliau juga salah satu pemain andalan MP, klub sepak bola daerah di kotaku. Tidak tanggung-tanggung, beliau sudah bergabung dengan MP sejak duduk di bangku SMA.
Kalo melihat Pak Seno yang sekarang, kita tak akan menyangka bahwa Pak Seno hanya seorang anak tukang becak dan penjual es keliling. Pak seno adalah anak ketiga dari 3 bersaudara. Sejak Pak Seno lahir, dia tak pernah merasakan nikmatnya punya rumah sendiri. Dia bersama dua kakak dan kedua orangtuanya tinggal di rumah keluarga pengusaha berkebangsaan Taiwan. Apakah mereka saudara Pak Seno? Bukan. Mereka adalah majikan orangtua Pak Seno.
Suatu hari, Pak Seno berpesan pada kakakku, rekan seprofesinya juga orang yang mengenalkanku pada Pak Seno. "Jangan mau kalo diajak kerja sama dengan orang Taiwan, Buk. Orang Taiwan itu pelit-pelit, suka semena-mena dengan orang yang ada di bawahnya." Bukan tanpa alasan Pak Seno menyampaikan hal ini. Pengalaman pahitnya dulu membuatnya mantap membuat kesimpulan seperti itu.
Sebenarnya orangtua Pak Seno bisa saja meninggalkan pekerjaan sebagai pembantu orang Taiwan itu. Namun ekonomi mereka yang memprihatinkan dan belum punya rumah untuk berteduh membuat mereka harus berpikir ulang. Yang paling mereka khawatirkan adalah masa depan ketiga anak mereka. Dengan profesi tukang becak dan pedagang asongan, mereka tidak yakin anak-anaknya dapat menempuh pendidikan yang layak.
Orangtua Pak Seno menawarkan diri mereka menjadi pembantu orang Taiwan tersebut dengan imbalan mereka bisa tinggal di rumah orang tersebut dan sekolah ketiga anak mereka dibiayai sampai mereka dapat lulus dari jenjang sarjana. Sepertinya cukup menguntungkan bagi keluarga Pak Seno. Ternyata tidak, menjadi pembantu orang Taiwan bukan pekerjaan yang layak sebagaimana pembantu biasanya. Keluarga Pak Seno diperlakukan benar-benar seperti budak, tidak dibiarkan istirahat sedikit pun, bahkan tempat tidur yang mereka berikan untuk Pak Seno adalah satu ruangan dengan anjing peliharaan mereka. Orangtua pak seno mau menjalaninya dengan ikhlas demi masa depan pendidikan ketiga anaknya.
Saat duduk di bangku SMA lewat seleksi yang cukup ketat, Pak Seno mendapatkan tawaran bergabung dalam tim MP. Tawaran yang diidam-idamkan Pak Seno sejak dia masih duduk di bangku SMP. Pak Seno sangat disiplin mengatur waktu belajar dan latihannya. Tiap hari Senin dan Rabu, Pak Seno selalu meminta ijin ke luar kelas lebih awal. Hal ini dia lakukan agar dia tidak telat mengikuti latihan sepak bola. Jarak Mojokerto - Surabaya tidak membuatnya gentar untuk berlatih. Telat datang 1 menit saja, pelatihnya akan memberikan hukuman lari keliling lapangan sampai latihan selesai. Pak Seno tentu tidak rela mengorbankan jatah latihannya hanya dihabiskan untuk lari keliling lapangan karena keterlambatannya. Beberapa guru sempat gondok berat dan protes karena kebiasaan Pak Seno minta ijin pulang awal tiap jadwal latihan. Namun, kemarahan mereka bisa ditepis Pak Seno dengan prestasi yang diraihnya. Meski jadwalnya padat, Pak Seno tidak pernah absen belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan di sekolah.
Kedisiplinan yang mengagumkan untuk seorang siswa SMA dengan jadwal yang padat ditambah dengan tugas rutin membantu kedua orangtuanya menjadi pembantu rumah tangga.
Kini pak seno dan kedua kakaknya sudah menjadi orang sukses. Tepat setelah Pak Seno lulus sarjana, orangtuanya mengundurkan diri dan menjalani kehidupan bebas. Meskipun ketiga anaknya sudah menjadi orang sukses, mereka tidak pernah mau menggantungkan diri pada anak-anaknya. Ayah dan ibu Pak Seno hidup mandiri dengan menjadi tukang becak dan pedagang asongan, mereka pun sudah bisa membangun sebuah rumah kecil di pinggiran kota surabaya.
Pengalaman hidup ini diceritakan dengan bangga oleh Pak Seno pada siapa saja. Beliau tidak pernah malu dengan kondisinya dulu, tidak pernah malu punya orangtua yang hanya tukang becak dan tukang asongan. Perjuangan orangtuanya tidak bisa digantikan dengan apapun. Orangtuanya sudah menorehkan sejarah indah yang bisa dia banggakan pada siapapun, termasuk anak-anaknya sekarang. Dan kisah Pak Seno ini mampu menginspirasiku untuk lebih mensyukuri hidup dan lebih bersemangat meraih mimpi.
http://www.lailysyuhadak.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan reihana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.