Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://rey.kotasantri.com
Bergabung
24 Juni 2010 pukul 20:21 WIB
Domisili
mojokerto - jawa timur
Pekerjaan
tukang bersih bersih makanan
gak jelas
http://www.lailysyuhadak.blogspot.com
mabrur_46@yahoo.com
mabrur_46@yahoo.com
mabrur_46@yahoo.com
mabrur_46@yahoo.com
Tulisan Reihana Lainnya
Jangan Sampai Pak Seno Terlambat Latihan
17 Desember 2010 pukul 15:50 WIB
Inspirasi
22 Oktober 2010 pukul 19:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 19 Oktober 2010 pukul 16:09 WIB

Bagaimana Yanto Berangkat Sekolah?

Penulis : reihana

Siapa ya namanya? Suparjo? Itu kan nama bapak yang jaga Sahada Corner, toko kecil deket masjid kampusku. Sumanto? Lah itu mah korban krisis ekonomi negara kita yang terpaksa harus menyambung hidupnya dengan makan bangkai manusia. Suparno? Itu guru pelatih tim marching band di SMP-ku dulu. Trus siapa dong? Lupa. Loh? Maklum udah lama banget, sekitar 8 tahun yang lalu, itupun kita gak pernah satu kelas, dia kan adek kelasku waktu SMP dulu. Gini aja, anggap aja namanya Yanto, bukan nama sebenarnya. Tidak penting membahas siapa namanya, yang terpenting adalah motivasi yang kudapatkan dari adek kelasku ini.

Dengan kondisi ruang kelas yang tersedia hanya sedikit sedangkan siswa yang terdaftar melebihi kapasitas, maka SMP-ku membuat kebijakan jam belajar dengan sistem shift. Siswa kelas 1 dan 2 unggulan dan seluruh siswa kelas 3 masuk pagi, sisanya masuk siang. Yanto duduk di kelas 1C saat aku duduk di kelas 2 unggulan. Satu jam sebelum kelasku bubar, kita bisa menemukan Yanto berdiri di depan gerbang sekolahku, tempat tongkrongan favorit para siswa laki-laki menghabiskan waktu sambil menunggu jam pelajaran tiba. Kenapa yanto datang secepat itu? Padahal jam pelajarannya baru dimulai 1,5 jam kemudian.

Dari cerita teman-temanku yang satu desa dengannya, ada cerita menarik dari cara Yanto berangkat ke sekolah yang jaraknya sekitar 10 Km dari kediamannya. Siswa lain yang punya rumah dengan jarak cukup jauh seperti Yanto bisa berangkat sekolah dengan menggunakan fasilitas angkutan umum atau membawa kendaraan pribadi. Berbeda dengan Yanto, dia berjalan kaki dari rumahnya menuju sekolah. Jarak yang cukup melelahkan untuk ukuran anak jaman sekarang. Apalagi untuk menuju sekolah, Yanto harus melewati pematang sawah, menyebrang sungai, dan berjalan di atas jalan yang cukup menanjak meskipun beraspal. Selain itu, perjalanan ini harus ditempuh di siang bolong dimana matahari tepat di atas kepala kita. Bisa dibayangkan? Gak usah ngos-ngosan gitu dech! Kan cuma ikut bayangin, bukan ikut ngerasain.

Tiap bertemu Yanto saat tiba di sekolah, dia selalu terlihat membawa tas kresek merah. Tahukah kalian apa isinya? Kalau tidak salah di dalam kresek itu ada sandal jepit. Buat apa? Begini ceritanya. Tiap kali Yanto berangkat dari rumah, selain buku pelajaran yang dia masukkan ke dalam tas bututnya, Yanto juga menenteng sepasang sepatunya yang berwarna abu-abu kecokelatan saking usangnya. Di dalam tasnya juga ada baju seragam yang akan dipakai ketika sampai di sekolah. Yanto sadar diri jika dia berangkat dari rumah sudah memakai seragam, pasti teman-teman di sekolahnya akan protes dengan keringatnya yang mengucur deras dan aroma matahari dari badannya. Maka demi kemaslahatan bersama, bajunya disimpan dengan rapi di dalam tas selama perjalanan dan bajunya baru akan di pakai sebelum masuk ke kelas. Selain itu, agar sepatunya tidak cepat jebol, Yanto berjalan menuju sekolah dengan memakai sandal jepit.

Kenapa yanto tidak seperti siswa yang lain? Tanpa perlu repot-repot cukup datang ke sekolah dengan menggunakan kendaraan umum. Karena Yanto ingin badannya sehat dan bugar? Sepertinya bukan. Tiap pagi Yanto selalu membantu kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai buruh tani. Pekerjaan menggarap sawah itu sudah cukup melelahkan dan menguras energi, sehingga Yanto tidak perlu berjalan kaki untuk berangkat ke sekolah. Karena Yanto tidak punya uang saku? Penghasilan yang didapatkan Yanto dari hasil buruh tani masih cukup kalau hanya untuk membayar angkutan. Yanto bisa saja menggunakan uang hasil memeras keringatnya untuk keperluannya sendiri.

Tapi Yanto punya cara berfikir yang berbeda. Bagi yanto, Allah sudah memberikan banyak rejeki padanya dengan upah yang dia dapatkan, dan kesempatan untuk bisa terus sekolah. Tapi dia pun sadar bahwa keluarganya tidak tergolong berkecukupan, bahkan bisa dibilang tidak mampu. Dia masih punya beberapa adik (aku tidak tahu persis berapa jumlah adiknya). Semua penghasilannya ia tabung untuk keperluan sekolah dan sebagian disisakan untuk biaya sekolah adik-adiknya.

Ya Rabb, jadikan usahanya Barokah.

http://www.lailysyuhadak.blogspot.com

Suka
Imam Setiawan menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan reihana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1375 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels