HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Pernak-Pernik Ujian
23 November 2010 pukul 20:00 WIB
Cinta Terindah
20 November 2010 pukul 18:45 WIB
Yang Terbaik
6 November 2010 pukul 15:00 WIB
Dan Mbah Maridjan pun Meninggal
2 November 2010 pukul 18:00 WIB
Skenario Terindah
31 Oktober 2010 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 25 November 2010 pukul 16:05 WIB

Karena Sesal Tak Pernah di Awal

Penulis : Abi Sabila

Menyesal tak pernah di awal
Slalu saja hadirnya belakangan
Setelah terjadi barulah sadar
Ku menyesal....*

Sebuah lagu yang mengalun dari salah satu komputer di ruang kerjaku, membawa ingatanku pada kejadian yang dialami si Fulan, enam bulan yang lalu. Dibanding teman dan tetangga, dalam mencari pekerjaan si Fulan termasuk beruntung. Baru dua minggu merantau di Tangerang, Fulan langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan otomotif milik pengusaha asal Jepang. Namun sayang, belum genap dua bulan, si Fulan dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja justru ketika rasa betah mulai ia rasakan.

Berawal dari pertemuan tak sengaja dengan teman sekelasnya di salah satu pusat perbelanjaan, Fulan kemudian mendapatkan sebuah pekerjaan melalui bantuan sebuah yayasan penyalur tenaga kerja. Sesuai bidang keahlian yang ia miliki, Fulan ditempatkan di bagian produksi.

Ini adalah pengalaman pertama Fulan memasuki dunia kerja. Minggu pertama bekerja adalah hari-hari yang berat bagi Fulan. Sering, hampir setiap hari Fulan pulang kerja dalam keadaan lelah dan tak bersemangat. Bahkan memasuki minggu kedua, Fulan mulai mengeluh kepada saudara sepupunya, tempat Fulan menumpang selama ini. Fulan berniat akan mengundurkan diri dari perusahaan. Beban kerja yang tak sesuai dengan yang ia bayangkan selama sekolah terasa semakin berat ketika ia membandingkan dengan teman seangkatannya yang kebetulan ditempatkan di bagian yang ringan dan bersih. Dengan penuh kesabaran, sepupun Fulan pun menasihati dan menyemangati Fulan agar tetap bertahan.

"Semua orang yang baru pertama bekerja akan merasakan hal yang sama. Harus banyak melakukan penyesuaian. Bahkan, orang-orang yang sebelumnya pernah bekerja, ketika pindah ke tempat yang baru harus tetap melakukan penyesuaian. Mungkin tidak dengan pekerjaannya, tapi dengan lingkungan dan rekan kerja lainnya. Kamu termasuk beruntung diterima bekerja di sana. Kesejahteraan karyawannya cukup diperhatikan, bahkan dibandingkan dengan aku yang sudah bekerja lebih dari lima tahun, gaji yang bakal kamu terima jumlahnya lebih besar. Cobalah untuk bersabar. Insya Allah, setelah sebulan dan kamu menerima gaji pertama, kamu akan merasa betah. Perlahan kamu akan menguasai pekerjaanmu, mengenal banyak orang, menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan pekerjaan tidak lagi terasa sebagai beban. Semuanya akan berubah menjadi menyenangkan," panjang lebar sepupu si Fulan memberikan pengarahan.

Dan si Fulan membuktikan kebenaran omongan saudara sepupunya. Sebulan bekerja, si Fulan pun mendapatkan gaji pertamanya. Segala beban dan keluhan Fulan sirna sudah, paling tidak begitulah yang terlihat saudara sepupu Fulan. Berangkat kerja, Fulan tak lagi merasa beban. Begitu pun sepulang kerja Fulan lebih sering terlihat ceria. Dan jika sedang libur, Fulan menyempatkan diri untuk bergabung dalam grup volley teman-teman kerjanya. Hampir tak terdengar lagi keluh kesah keluar dari mulut si Fulan.

Namun tanpa sepengetahuan sang sepupu, diam-diam Fulan menemui atasannya dan meminta untuk pindah bagian karena ia merasa beban kerjanya terlalu berat. Dengan sedikit didramatisir, Fulan menyampaikan segala keluhan yang ia rasakan, termasuk kaitannya dengan kesehatan. Secara tidak langsung, Fulan ingin ditempatkan di bagian yang sama seperti teman seangkatannya, ringan dan bersih. Sebuah permintaan yang tidak semestinya diajukan oleh seorang karyawan yang sedang menjalani masa training.

Telak. Permintaan Fulan ‘dipenuhi’ secara kontan. Hanya selang beberapa hari, Fulan mendapatkan panggilan dari pihak yayasan yang menyalurkannya bekerja. Sejak saat itu, Fulan diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja dengan beberapa alasan, salah satunya adalah tidak memenuhi perjanjian bahwa Fulan bersedia ditempatkan di bagian manapun. Penempatan kerja adalah hak dan wewenang perusahaan. Di mata sang atasan, permintaan Fulan menunjukan ketidaksungguhan Fulan untuk bekerja.

Kecewa, Fulan benar-benar kecewa. Fulan diberhentikan bekerja secara tiba-tiba justru ketika Fulan mulai merasa betah bekerja di sana. Fulan menyesal, mengapa ia bertindak bodoh seperti itu, menunjukkan kelemahan justru pada pihak yang sedang menilainya. Semua sudah terlambat, nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tak bisa diubah menjadi nasi kembali, sedangkan Fulan sama sekali tak menginginkan bubur. Kekecewaan Fulan merambat pada pihak lain. Dan orang yang Fulan salahkan kemudian adalah bapaknya.

"Bapak yang mendukung penuh saya meminta pindah bagian pada atasan. Bapak bilang akan bantu dari jarak jauh. Bapak akan bacakan do'a dari rumah. Tak sampai tiga hari, bapak bilang atasanku akan menuruti semua yang aku mau. Sengaja aku tidak menceritakan ini sebelumnya, karena yakin bapak akan berhasil," lirih suara Fulan menjawab pertanyaan saudara sepupunya.

Astaghfirullah! Belum hilang shock mendengar Fulan diberhentikan dari pekerjaannya, sepupu Fulan kembali dibuat terkejut dengan pengakuan Fulan. Dia tak menyangka bahwa diam-diam Fulan melakukan tindakan ‘konyol’ atas dukungan bapaknya. Dia memang pernah mendengar bahwa bapak si Fulan dipercaya beberapa orang memiliki kemampuan lebih, seperti menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk mempengaruhi pikiran orang lain. Ya, banyak orang mengatakan bahwa bapak Fulan memiliki kemampuan layaknya paranormal atau dukun. Astaghfirullah, rupanya yang selama ini ia anggap kabar burung adalah benar adanya. Dan sang bapaklah yang menjerumuskan Fulan dalam kemusryikan. Fulan adalah ‘korban’ dari keyakinan sang bapak pada yang selain Allah.

Mencari, mempertahankan pekerjaan atau jabatan dengan cara menukar keimanan dengan kemusyrikan? Na'udzubillah! Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Fulan yang begitu beruntung karena telah mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus dengan proses yang cepat dan mudah, tiba-tiba mengambil jalan pintas untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tak disangka jika sang bapak tega menjerumuskan Fulan dengan membawa kemusyrikan dalam mencari penghasilan. Na'udzubillah, summa na'udzubillah!

Siapa yang pandai bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan, maka Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, siapa yang kufur, maka sesungguhnya siksa Allah sangatlah pedih. Begitulah yang dirasakan oleh Fulan. Dia kehilangan pekerjaannya justru ketika ia mulai mencintainya. Berantakan sudah harapan dan cita-citanya, termasuk memiliki sebuah kendaraan yang menjadi impiannya. Fulan harus memulai dari nol lagi, dan ia ragu apakah akan segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya.

Sesal memang tak pernah berada di awal. Karenanya, berpikirlah dengan matang sebelum memutuskan dan mengambil tindakan. Bekerja adalah termasuk ibadah, janganlah menjalankan ibadah (bekerja) dengan menyertakan kemusyrikan di dalamnya. Percaya pada kemampuan diri sendiri, berusaha keras, disiplin, amanah adalah yang semestinya dilakukan untuk bertahan dalam pekerjaan dan jabatan. Berdo’a dan tawakal semata kepada Allah agar apa yang diusahakan mendapatkan hasil dan keberkahan seperti yang diinginkan. Bukan meminta bantuan paranormal, dukun, atau apapun sebutannya untuk menambah kepercayaan diri, mempengaruhi, serta menarik simpati atasan demi meraih dan mempertahankan pekerjaan dan atau jabatan.

Setiap yang dimakan, yang diminum, dan harta yang dimiliki akan diminta pertanggungjawabannya. Di dapat dari mana, dengan cara bagaimana, dan dipergunakan untuk apa, semua akan ditanya di akhirat kelak. Bila pekerjaan atau jabatan diperoleh dengan cara menggadaikan iman, bagaimana bisa dikatakan penghasilan yang didapatkan adalah harta yang halal. Keberkahan tak ubahnya mimpi belaka. Jangan berikan keluarga makanan dan minuman yang lezat, harta yang melimpah, namun sesungguhnya bara neraka. Untuk apa karir cemerlang, pekerjaan mapan, jabatan tinggi bila diperoleh bukan karena kemampuan, kejujuran, dan tanggung jawab, tetapi karena ada bantuan dari kaki tangan syetan. Na'udzubillah!

Untuk Fulan, aku selau mendo'akan semoga cukup sekali kau lakukan kesalahan ini. Dan semoga ini menjadi pengingat dan pelajaran bagi kita semua bahwa sesal tak pernah berada di awal, selalu datangnya belakangan dimana terkadang tak ada lagi kesempatan untuk mengulang. Murnikan iman dari sekecil apapun kemusryikan. Berpikirlah dengan matang sebelum bertindak. Seribu kata sesal tak akan menjadi merubah keadaan, kecuali mengambil hikmah dan menjadikannya pelajaran berharga agar tak terulang di masa-masa yang akan datang.

* Syair diambil dari lagu berjudul Menyesal, karya Melly Goeslaw.

http://www.abisabila.com

Suka
Tin Tina dan H. D. kuroichi menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mundzakir | Teknisi Printer
Wah, udah beberapa tahun ane gak masuk KSC, sampe lupa account lama, akhirnya buat lagi. Tapi sekarang fasilitasnya dahsyat.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1456 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels