Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Skenario Terindah
31 Oktober 2010 pukul 17:30 WIB
Ketika Sumpah Menjadi Sampah
28 Oktober 2010 pukul 16:06 WIB
Dosa Pertama
7 Oktober 2010 pukul 15:45 WIB
Catatan Lebaran 1 : Persiapan Lebaran
29 September 2010 pukul 15:40 WIB
Repotnya Mudik, Indahnya Silaturrahim
10 September 2010 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 2 November 2010 pukul 18:00 WIB

Dan Mbah Maridjan pun Meninggal

Penulis : Abi Sabila

"Tiap-tiap yang yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu kembali." (Surah Al-Ankabut : 57)

Sudah menjadi sunatullah, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, apapun dan siapapun termasuk mbah Maridjan, orang yang dikenal publik sebagai juru kunci gunung Merapi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu." (QS. Ali Imran : 185).

Mbah Maridjan, sosok yang fenomenal karena ‘dianggap’ berhasil menunda letusan gunung Merapi beberapa tahun yang lalu ditemukan sudah tak bernyawa di dalam rumahnya (kabarnya) dalam keadaan bersujud. Wallahu a'lam.

Beberapa hari setelah meninggalnya tokoh yang identik dengan gunung Merapi – hingga saat menyebut gunung Merapi maka yang teringat selanjutnya adalah nama mbah Maridjan, begitu pun sebaliknya – muncul berbagai komentar di masyarakat, termasuk komentar teman-teman kerja yang sempat saya dengar langsung. Bagi yang simpatik dengan mbah Maridjan berpendapat bahwa meninggalnya mbah Maridjan di tempat kediamannya dalam keadaan bersujud merupakan sesuatu yang membanggakan, pengabdian yang sempurna. Tapi berbeda dengan pandangan beberapa orang lainnya yang menganggap tindakan mbah Maridjan dan beberapa tetangga serta pengikut setianya merupakan sebuah tindakan ‘konyol’ bahkan mengarah pada perbuatan bunuh diri. Wallahu a'lam, Allah-lah Yang Mahatahu segalanya.

Terlepas dari berbagai komentar dan pandangan tentang meninggalnya mbah Maridjan dan musibah yang terjadi di Indonesia saat ini, saya lebih memilih untuk tidak memberikan penilaian berlebih. Saya tidak ingin memberikan sebuah penilaian yang seperti menghakimi, padahal tidak ada pengetahuan akan hal itu. Saya lebih melihat semua kejadian termasuk musibah yang melanda negeri ini terjadi atas izin dan kehendak Allah, dengan tujuan tertentu.

Banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai, meletusnya gunung Merapi, serta beberapa musibah yang terus melanda negeri ini, tidak bisa dikatakan seluruhnya sebagai sebuah hukuman, meskipun ada keraguan jika ini masih kita anggap sebagai ujian atau teguran. Segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah, dengan maksud dan tujuan tertentu. Dan orang yang beruntung adalah yang bisa mengambil hikmah serta pelajaran dari setiap kejadian untuk kemudian memperbaiki diri. Andaikan ini bermakna ujian, jalani ini dengan sabar dan ikhlas. Ambil hikmah dan jadikan ini sebagai pelajaran agar tak terulang kesalahan yang sama jika ini bermakna teguran. Dan benahi diri, perbanyak istighfar, serta lakukan taubatan nasuha jika ini bermakna hukuman.

Kembali ke masalah meninggalnya mbah Maridjan yang bagi sebagian orang masih asyik dijadikan perbincangan dibanding mengambilnya sebagai pelajaran. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, itu pasti. Siapapun orangnya, apapun pangkat, jabatan, serta kedudukannya dalam masyarakat tetap akan bertemu dengan kematian. Entah kapan, di mana dan dengan cara apa kematian akan menjemput kita, tak ada yang tahu pasti. Yang pasti terjadi adalah kita akan mati. Mati itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi dipersiapkan. Takut atau tidak, kematian akan datang dan rasa itu tidak akan mempengaruhi ‘nasib’ kita selanjutnya di akhirat kelak. Jika takut akan kehidupan setelah mati, semestinya kita mempersiapkan diri dengan bekal sebaik mungkin, sehingga kapanpun, di manapun, dan dalam keadaan apapun kita siap dijemput maut. Ingat, siap tidak siap, kematian akan tetap datang, selanjutnya tergantung pada amal dan perbuatan pribadi masing-masing.

Mbah Maridjan, juga korban bencana alam lainnya, sudah ditetapkan takdirnya semenjak masih dalam kandungan. Kapan akan meninggal, di mana, dan karena atau dalam keadaan bagaimana sudah ditetapkan, tak ada yang bisa merubah, menggeser, atau menunda, kecuali atas kehendak Allah sendiri. Sayang, jika ada sebagian orang yang menanggapi kematian dengan masih menyalahkan pihak-pihak tertentu, atau malah berangan-angan seandainya si fulan begini begitu pasti tidak mati sekarang, seandainya, seandainya, dan seandainya. Astaghfirullah, pemikiran seperti ini jelas tidak benar dan tidak akan membawa perubahaan, yang mati tetap mati, bahkan yang masih hidup pun akan mati.

Duka mereka yang menjadi korban bencana adalah duka kita semua. Mereka saudara sebangsa, ada juga yang seagama. Mereka berhak atas do’a kita, semoga Allah menerima mereka, menerima iman dan Islamnya, menerima amal dan ibadahnya, mengampuni salah dan dosanya, serta memberikan tempat yang layak untuk mereka. Amin.

Mari, kita sama-sama belajar dari setiap kejadian. Kita baca pesan dan pelajaran yang Allah berikan dalam setiap kejadian – termasuk musibah. Semua terjadi atas izin dan kehendak Allah dengan sebuah maksud dan tujuan. Kalaupun musibah itu terjadi sebagai balasan atas perbuatan beberapa orang, yakinlah bahwa Allah yang mengizinkan dan berkehendak. Dan meski yang dirasakan sama, sesungguhnya maknanya berbeda. Apakah musibah ini sebuah ujian, teguran, atau hukuman, mari kita bertanya pada diri sendiri, dan jawab dengan hati.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1425 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels