Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Repotnya Mudik, Indahnya Silaturrahim
10 September 2010 pukul 16:00 WIB
Lebaran = Bermaafan, Silaturrahim = Berbagi
2 September 2010 pukul 16:05 WIB
Tiket Mudik, Tiket Balik
29 Agustus 2010 pukul 15:40 WIB
Puasa Itu Menahan, Bukan Menunda
25 Agustus 2010 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 29 September 2010 pukul 15:40 WIB

Catatan Lebaran 1 : Persiapan Lebaran

Penulis : Abi Sabila

Bulan suci Ramadhan, bulan penuh kemuliaan telah berakhir, ditandai dengan hadirnya Idul Fitri atau lebaran, hari penuh kemenangan. Dan perlahan lebaran pun berlalu, menyisakan banyak kenangan, pengalaman sekaligus pelajaran. Di antaranya yang pertama adalah tentang persiapan yang dilakukan menjelang datangnya hari lebaran.

Putri misalnya. Remaja modis ini melakukan persiapan menyambut datangnya lebaran dengan berburu pakaian ke pasar Tanah Abang. Lebaran kurang seminggu, lima setel baju baru telah berpindah ke dalam lemari pakaiannya. Putri begitu semangat menyambut lebaran, apalagi lebaran kali ini adalah lebaran pertama semenjak ia memutuskan untuk berjilbab.

Begitu pun Putra. Meski koleksi celana jeansnya sudah berjejal di lemari, dengan uang THR yang diterimanya Putra membeli dua buah celana jeans, satu baju batik, kaos, dan sebuah jacket warna hitam, warna kesukaannya. Tak lupa pula, Putra membeli sepasang sepatu baru, sama seperti Putri yang juga melengkapi koleksi sepatu sendalnya khusus untuk lebaran.

Bila Putra dan Putri serta anak-anak remaja lainnya sibuk dengan baju dan sepatu baru untuk lebaran, maka berbeda halnya dengan bu Siti. Sejak pertengahan Ramadhan, bu Siti mulai membuat aneka kue kering untuk lebaran. Tak kurang dari sepuluh toples kue hasil buatannya sendiri tersimpan rapi dalam lemari. Selain itu, beberapa kaleng biscuit dengan merk-merk terkenal dan beberapa botol sirup aneka rasa juga telah menjadi penghuni baru di dalam lemari, siap untuk dijadikan kepada para tamu yang bersilaturrahim di hari lebaran.

Tak mau ketinggalan, pak Anto juga melakukan persiapan menyambut datangnya hari lebaran dengan mengecat ulang tembok rumahnya agar terlihat lebih cerah. Beberapa perabot seperti sofa dan lemari hias dijemur dan dibersihkan. Bahkan pak Anto membeli lagi satu setel sofa baru untuk memastikan bahwa semua tamunya yang datang bisa mendapatkan tempat duduk. Setiap tahun, keluarga mereka memang selalu mengadakan open house, dan tamu-tamu yang datang bukan saja para tetangga, tapi juga rekan bisnis dan kerabat mereka yang tinggal di lain kota.

Berbeda dengan persiapan yang dilakukan oleh si Adi. Bujangan yang setiap harinya berkerja sebagai operator di sebuah perusahaan ini tidak begitu repot dengan baju baru atau juga sepatu. Baginya baju dan sepatu baru tidaklah begitu penting. Begitu pun dengan makanan, minuman, dan juga perabotan, tak masuk dalam daftar yang ia persiapkan. Jauh lebih penting baginya adalah memastikan bahwa sepeda motornya siap untuk dibawa mudik ke kampung halaman, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ketika ia bekerja sore, pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke bengkel, ikut antri dengan puluhan orang yang men-service motornya untuk mudik lebaran.

Persiapan mudik juga dilakukan oleh bu Ani dan keluarganya. Sebagai keluarga yang sangat sederhana, mereka memilih mudik dengan naik kereta api. Awal sepuluh hari ketiga, bu Ani mengajak anak-anaknya pulang kampung untuk menghindari kemacetan dan tingginya ongkos perjalanan. Resiko anak-anak bolos sekolah dan tertinggal pelajaran terpaksa mereka abaikan, yang terpenting bagi mereka adalah bisa berlebaran dengan keluarga di kampung dengan biaya yang terjangkau kantong mereka yang tipis.

Hampir senada dengan persiapan yang dilakukan oleh keluarga pak Karyo. Suami istri yang berstatus karyawan kontrak sebuah perusahaan kecil, jelas tidak bisa pulang lebih awal sebelum hari libur perusahaan tiba. Sebagai solusinya, mereka rela antri tiket sejak subuh guna mendapatkan tiket bus ekonomi yang paling murah. Tak apalah berdesakan asalkan anggaran mudik dan balik nanti bisa mereka selamatkan.

Kesibukan-kesibukan seperti di atas dengan mudah kita dapati di masyarakat menjelang datangnya hari lebaran. Bahkan, barangkali kita salah satu yang melakukannya. Meski tak ada tuntunan atau ketentuan agama yang mengharuskan melakukan itu, namun begitulah faktanya. Orang-orang begitu berantusias, bersemangat melakukan berbagai persiapan untuk menyambut datangnya Idul Fitri, hari yang sangat dinanti-nanti. Hari penuh ampunan, hari kemenangan setelah sebulan penuh melakukan puasa, menahan dan mengendalikan hawa nafsu.
Semakin mendekati hari lebaran, persiapan yang dilakukan pun semakin terlihat nyata. Hampir setiap orang, di setiap tempat melakukan aktifitas yang berkaitan dengan hari lebaran. Seolah-olah, apapun yang dilakukan bisa dipastikan untuk lebaran. Apa-apa untuk lebaran, semuanya untuk lebaran. Begitulah nyatanya. Namun semestinya persiapan yang dilakukan janganlah sampai dipaksakan, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

Tanpa mengecilkan makna serta keagungan hari lebaran, perlu diingat bahwa kemeriahan hari lebaran hanya akan berlangsung satu atau dua hari saja. Hari ketiga dan selanjutnya, kemeriahan lebaran akan terus berkurang, berganti dengan kelelahan dan juga kesibukan baru, seperti persiapan balik ke kota dan tempat kerja masing-masing. Begitulah adanya. Berhari-hari persiapan dilakukan, beratus ribu bahkan berjuta uang dibelanjakan, semua untuk melengkapi kebahagiaan di hari lebaran. Tidak sepenuhnya salah, selama dilakukan dalam batas wajar dan tidak melanggar aturan agama.

Melihat ‘kehebohan’ orang-orang dalam melakukan persiapan menjelang lebaran, timbul sebuah pertanyaan yang agak mengkhawatirkan. Bagaimana dengan persiapan untuk masa depan di akhirat kelak, apakah ‘seheboh’ persiapan ketika menyambut hari lebaran. Kita tentunya tidak ingin mendapatkan kemenangan, kebahagiaan di dunia saja, tapi di akhirat kelak kita ingin mendapatkan kemenangan, kebahagiaan yang abadi. Semestinya persiapan yang kita lakukan jauh lebih matang dibanding dengan persiapan untuk kebahagiaan sesaat di dunia.

Sangat disayangkan jika persiapan yang dilakukan masihlah berorientasi pada kenikmatan dunia saja. Sangat rugi bila kita hanya sibuk dengan sesuatu yang terlihat oleh mata, sesuatu yang dapat dirasakan di dunia, padahal sifatnya hanya sementara.

Untuk meraih kemenangan, kebahagiaan di akhirat yang kekal, sangat dibutuhkan persiapan yang matang bahkan juga panjang. Bukan pakaian, makanan, minuman, dan bukan pula perabot serta kendaraan, tapi amal ibadah yang harus dibenahi dan dicukupi. Semestinya, di tengah-tengah kesibukan persiapan lebaran tidak kemudian menjadikan lupa akan persiapan dan perbekalan untuk kemenangan di akhirat kelak.

Jika sudah cukup pakaian, makanan, dan minuman, untuk apa harus menambah lagi, membeli lagi. Dengan rizki yang kita miliki, semestinya kita berbagi dengan orang lain. Jika kendaraan kita masih lega, mengapa tidak mengajak saudara yang terpaksa berebut tiket, berdesakan dalam kendaraan umum yang jauh dari rasa aman dan nyaman. Alangkah indahnya bila persiapan menyambut datangnya lebaran juga diorientasikan sebagai persiapan untuk menyambut kemenangan, kebahagiaan di akhirat.

Bagaimana dengan persiapan yang anda lakukan kemarin, masihkah sebatas untuk yang terlihat mata, terasa di dunia saja, ataukah sudah mengarah pada persiapan untuk sebuah kemenangan dan kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak? Jika bisa dua-duanya, mengapa hanya mengambil salah satunya? Jika yang diambil hanya untuk dunia saja, tentu sangatlah rugi. Semoga kita bisa meraih kemenangan, merasakan kebahagian bukan saja di dunia, tapi juga di akhirat, di dalam syurga selamanya. Amin.

Catatan : Nama-nama di atas bukanlah nama yang sebenarnya.

http://www.abisabila.com

Suka
Anna Fathimah Zakaria menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ridwan | Mahasiswa
Mari kita jalin silaturahmi dan ukhuwah di KSC ini. Mudah-mudahan kita semua dapat tambahan ilmu dan manfaat. Aamiin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1523 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels