Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Tiket Mudik, Tiket Balik
29 Agustus 2010 pukul 15:40 WIB
Puasa Itu Menahan, Bukan Menunda
25 Agustus 2010 pukul 16:00 WIB
Sahur, Bukan Sekedar Urusan Makan dan Minum
21 Agustus 2010 pukul 15:00 WIB
Semerah Agustusan, Seputih Ramadhan
17 Agustus 2010 pukul 15:00 WIB
Ujian Cinta
9 Agustus 2010 pukul 16:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 2 September 2010 pukul 16:05 WIB

Lebaran = Bermaafan, Silaturrahim = Berbagi

Penulis : Abi Sabila

Berlama-lama di dalam pusat perbelanjaan, bagiku bukanlah hal yang selalu menyenangkan, tapi malah menguji kesabaran dan juga keimanan. Betapa tidak, hanya untuk membeli satu dua kebutuhan, terkadang harus berdiri dalam antrian panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Kalau soal hemat - konon harga di pusat perbelanjaan lebih murah dibanding harga di warung sekitar rumah - rasanya tidak terlalu bisa dipastikan, sebab seringkali justru terpancing promosi hingga membeli sesuatu yang sebenarnya tidak atau belum terlalu dibutuhkan. Alasan yang sebenarnya mengapa kami sesekali berbelanja di supermarket hanyalah karena tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan aneka macam kebutuhan.

Tapi, saat itu aku bersyukur sekali berada di antara para calon pembeli yang berdiri dalam antrian panjang di depan kasir. Sebuah pelajaran berharga kudapat dari seorang laki-laki yang sederhana dan bersahaja.

“Belanjanya banyak sekali, Pak, persiapan untuk mudik?” tanyaku berbasa-basi pada laki-laki berbaju biru yang berdiri di depanku.

Sebelum menjawab, laki-laki itu tersenyum padaku. “Tidak kok, Mas. Tahun ini kami tidak mudik,“ jawabnya ramah. Di akhir jawaban, sebuah senyum ramah dan bersahabat kembali ia berikan.

“Kenapa, Pak?” tanyaku spontan. Sesaat kemudian aku merasa menyesal dengan kelancanganku menanyakan hal ini pada seseorang yang baru pertama kali bertemu, bahkan namanya pun aku belum tahu. Sungguh, aku tiada bermaksud memasuki area privaci-nya, pertanyaanku hanya reflek saja.

Aku ingin buru-buru meminta maaf, tapi laki-laki itu sudah lebih dulu menjawab. Dengan suara yang tak berubah - tetap ramah - laki-laki itu bercerita mengapa tahun ini dia dan keluarganya tidak merayakan Lebaran bersama keluarga besarnya di kampung.

Semula, laki-laki yang menurut perkiraanku umurnya belum sampai empat puluh tahun ini berencana merayakan Idul Fitri di kampung halamannya, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, seperti tahun sebelumnya. Namun, indah yang mereka bayangkan sepertinya kali ini tidak akan menjadi kenyataan. Sebuah ujian hidup baru saja mereka jalani. Ujian yang erat kaitannya dengan biaya, hingga rencana yang sudah dipersiapkan berubah semuanya. Dan keputusan untuk tidak mudik adalah keputusan yang terbaik bagi keluarga mereka. Aku mendengar penuturan laki-laki ini seperti mendengarkan ceritaku sendiri. Ada kesamaan antara aku dan dia. Ada kemungkinan tahun ini aku dan keluargaku juga batal merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung, dengan alasan yang senada.

“Kalau tidak mudik, tapi kok belanja kuenya banyak banget. Apa mau dikirim lewat jasa pengiriman?“ Aku kembali bertanya, dan lagi-lagi bukan maksudku untuk tahu terlalu jauh tentang laki-laki ini. Pertanyaanku muncul karena aku melihat dua kardus biskuit dalam trolley yang didorongnya.

Laki-laki itu mendorong keranjang belanjaannya, merapat pada calon pembeli di depannya. Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Posisi kami pun kembali berdekatan. Dengan tutur kata seramah yang pertama, laki-laki ini menceritakan untuk apa ia membeli biskuit sebanyak itu. Bukan untuk dikirim kepada keluarganya di kampung, melainkan untuk dibagi dengan saudara-saudaranya sebagai buah tangan saat mereka bersilaturrahim Lebaran nanti. Selain keluarga besarnya di kampung, laki-laki ini juga mempunyai banyak saudara sepupu yang kebetulan tahun ini tidak mudik. Ada juga yang sudah beberapa tahun tidak pernah Lebaran di kampung karena mereka sudah menetap di sini.

Ada satu yang menarik perhatianku saat laki-laki ini mengatakan bahwa kue-kue itu akan ia bagi-bagikan kepada saudaranya sambil bersilaturrahim nanti. Bukankah alasan dia tidak mudik karena masalah biaya, mengapa dia memaksakan diri membeli kue sebanyak itu? Bukankah silaturrahim tidak harus dengan membawa kue atau apapun sebagai buah tangan? Pastilah laki-laki ini seorang yang murah hati, senang berbagi.

“Kami memang tidak mudik tahun ini karena biaya yang tidak mencukupi, atau kalau sedikit dipaksakan sebenarnya sih bisa saja, hanya kami memiliki pertimbangan lain. Insya Allah, kami akan mudik setelah Lebaran, segera setelah kondisi keuangan kami normal kembali. Dan kalau untuk sekedar membeli kue-kue ini, dengan rezeki yang ada kami masih bisa membelinya. Kami ingin sekali-sekali tangan kami berada di atas,“ jawab laki-laki ini tanpa ada kesan sombong sedikit pun.

“Ada beberapa saudara sepupu kami yang tahun ini juga merayakan Lebaran di sini. Mereka mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Tak tega rasanya kalau kami datang tanpa membawa sesuatu buat mereka. Kalau dengan membawa buah tangan bisa membuat silaturrahim menjadi lebih berkesan, mengapa tidak? Bagaimana pun kami juga ingin berbagi rezeki, insya Allah kami ikhlas,“ dia melanjutkan.

Aku menyimak semua yang dikatakan laki-laki ini dengan rasa kagum. Tak kusangka, di balik kesederhanaanya, jiwa dan semangat berbaginya begitu tinggi. Jarang ada orang yang memikirkan orang lain sampai sejauh itu, apalagi ketika rencana-rencananya sendiri gagal karena masalah biaya.

Aku teringat dengan pak Karim dan istrinya yang berkeliling kampung demi mendapatkan sesuatu yang pantas mereka jadikan buah tangan saat silaturrahim Lebaran. Saat itu hari terakhir puasa, tapi mereka belum memiliki apapun yang bisa mereka bawa saat bersilaturrahim esok hari. Sebenarnya bisa saja mereka bersilaturrahim tanpa membawa apapun, toh silaturrahim tidak mengharuskan itu dan saudara-suadara mereka pun paham dengan kondisi keluarganya. Namun pak Karim dan sang istri bersikeras untuk membeli kue alakadarnya, meski harus mendatangi beberapa toko hingga ke pelosok kampung. Kalau mereka punya uang lebih, tentunya mereka tidak perlu mendatangi toko hingga ke sudut kampung. Mereka tinggal datang ke minimarket atau supermarket, pilih kue mana yang diinginkan. Tapi masalahnya adalah uang yang mereka miliki tidak cukup untuk kue berkelas semacam itu. Dalam keterbatasan, mereka tetap ingin berbagi, dengan cara mereka, sesuai dengan uang yang mereka miliki.

Bukan, sama sekali bukan karena gengsi. Apa yang mereka lakukan adalah sama, ingin sesekali merasakan tangan di atas. Mereka tidak mau keterbatasan ekonomi menghalangi mereka untuk memberikan rasa bahagia pada orang lain. Mereka memaknai Lebaran sebagai saat yang tepat untuk saling memaafkan sekaligus mempererat silaturrahim. Dan silaturrahim yang mereka inginkan adalah silaturrahim yang berkesan, salah satunya dengan memanfaatkan silaturrahim sebagai momen untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan, kebaikan, dan juga berbagi rezeki. Bagaimana menurut Anda?

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Meyla Farid | Guru
Isinya sangat bagus dan bermanfaat. Site favoritku untuk saat ini. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1486 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels