|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|





Selasa, 31 Agustus 2010 pukul 15:55 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Silaturrahim memperluas rezeki, memanjangkan usia dan raga. Tetirah menggiat orang tuk saling hangat menyambung rasa persaudaraan. Dan aku menemukan banyak kunci istimewa dari kata silaturrahim, di penghujung tahun lalu. Dua kali libur panjang. Dua kali dengan sengaja bersilaturrahim. Satu ekspedisi ke Lampung. Satu lagi ekspedisi belajar diri di area ‘asing’.
Tiap bulan Haji, sanak handai tolan Bani Abdul Qasim dan Muthmainah berkumpul. Aku menyeringai geli menatap tujuh lembar kertas berurai nama buyut, anaknya buyut, cucu buyut, dan cicit buyut terangkai di sana. Namaku tertulis dalam salah satu klan cicit buyut Bani Abdul Qasim. Celaka, aku baru tahu Abdul Qasim adalah nama ayahnya nenekku.
Hanya senyum sungging, diikuti anggukan kepala dan disambung bengong, ketika sanak saudara bertukar sapa. Ini siapa ya? Itu siapa? Duh, banyak nian saudaraku di Lampung ternyata. Mirip bedol desa.
Mereka yang mencoba mencari peruntungan hidup lebih baik di pulau lain. Rata-rata mereka memilih profesi saudagar dan beberapa di antaranya berhasil, termasuk Bu Lek tempat aku singgahi.
Aku tak bisa bercerita banyak karena di antaranya akan berisi tetek bengek masalah keluarga, problem hidup, hal-hal yang berkaitan rahasia keluarga, dan sukses story. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh mengayakan khasanah kosakata hidupku. Ada kata positif ada pula kata negatif. Secara pribadi segalanya layak dinilai positif.
Aku makin yakin di antara masalah-masalah itu, semua bisa terurai dan disederhanakan bila kita berpatok nilai agama. Agama yang sekarang itu dupayakan dianaktirikan, dibiaskan sesungguhnya obat mujarab. Sebab, ada timbangan baik buruk di dalamnya. Ada panduan bagaimana hak kewajiban suami, hak kewajiban istri, hak kewajiban ayah, hak kewajiban ibu, hak kewajiban anak, bertetangga, mertua, menantu, saudara, seorang hamba, pekerja, warganegara, dan sebagainya. Bukankah itu pula makna orang berkeluarga dan menikah. Menyempurnakan agama. Yaitu menggenapi seluruh label hak dan kewajiban manusia di dunia akhirat. Hal itu berarti pula ketika menapaki sebuah keluarga baru, seluruh hak kewajiban yang tertulis dalam kitab suci mulai dipikul sejak itu.
Membiaskan agama sama dengan membuang garisan jelas hak dan kewajiban, memburamkan timbangan baik buruk. Lalu kalau sudah begitu, manusia akan berjalan tanpa arah hingga terperosok jurang hina, sengsara selamanya.
Ah, saya kira aku telah berhasil menjawab pertanyaa saudaraku. Pertanyaan yang juga menggelayut dalam pikiranku, "Kenapa menikah disebut menyempurnakan agama?" Pertanyaan yang ia tanyakan padaku tepat detik-detik menunggu ’hari bahagia’nya. Aku kini berhasil menjawabnya dan ia berhasil memamahnya dengan baik hingga muncul Syah. Putranya. Ia genapi pula hak dan kewajibannya sebagai ibu.
Dan silaturrahim merupakan hak dan kewajiban dalam subbab berkeluarga. Apalagi jika itu terbesit dari undangan agar berkunjung. Aku datang ke Lampung atas ajakan dan undangan. Aku datang dengan harapan semoga ini mendewasakanku dan aku bisa menghayati serta mencintai keluarga.
Benar, silaturrahim yang dibingkai ikhlas akan membawakan ’kesegaran’ hikmah. Pantas, kita akan merasa dekat, sebab dikunjungi sanak. Ia yang datang dengan membawa diri, menempuh perjalanan jauh, dengan ongkos sendiri, datang karena kasih, karena hubungan rahim. Melintasi laut, padang gembala penuh serigala, padang pasir kering kerontang. Yang tidak tahu apakah selamat atau tidak di perjalanan.
Disertai sejumput oleh-oleh sederhana untuk saudara sebagai tanda cinta dan sayang yang ditenteng dan memberati bekal. Maka Insya Allah, Allah mengganti dengan meluaskan rezeki, memanjangkan usia, dan membaikkan nama kita sebagai pembalasannya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.