|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|





Kamis, 26 Agustus 2010 pukul 20:00 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Kebanyakan keluarga pengen punya anak yang mewakili dua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Walau sudah punya anak laki-laki empat, tetap pengen anak perempuan. Pun sebaliknya. Terlahir sebagai perempuan atau lelaki sebenarnya nggak perlu dipermasalahkan, keduanya anugerah. Memiliki potensi unik, kelebihan, kekurangan yang saling melengkapi.
Perempuan lebih perasaan?
Menyebut sosok perempuan yang terbayang adalah simbol kecantikan, kelembutan, dan ketajaman perasaan. Konon perempuan memiliki perasaan peka, halus, dan lembut. Lebih lembut dibanding kapas dan sutera. Kepekaan perasaan perempuan seperti antena yang bisa menangkap gelombang suara di atas kemampuan rata-rata manusia. Kadang dia bisa merasakan sesuatu tak beres layaknya ikan lumba-lumba yang peka terhadap anak autis.
Ngomong-ngomong tentang perasaan nih, apa sih yang disebut perasaan? Dalam kamus psikologi, perasaan didefinisikan sebagai sesuatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa (umumnya datang dari luar) yang menimbulkan goncangan pada diri seseorang. Rasanya di dunia ini kagak ada manusia yang tidak punya perasaan. Semua orang pasti punya perasaan, baik berupa gembira, senang, cemas, takut, sedih, cinta, frustasi, dan sebagainya. Setiap orang juga punya cara masing-masing untuk menunjukkan dan mengekspresikan. Sering kan kita mendengar istilah orang yang karakternya ekstrovet (terbuka) dan introvet (tertutup). Namun menurut psikolog, ada perbedaan keadaan perasaaan antara laki-laki dan perempuan. Katanya, lelaki tidak begitu terkait atau dipengaruhi perasaannya dan perempuan sebaliknya. Lebih emosional dan penuh perasaan. Bener nggak sih?
Buktinya, ketika nonton film yang berisi adegan sarat pelibatan perasaan seperti sedih, maka mata perempuan tak kuasa menahan bulir-bulir cairan bening dari kedua kelopak matanya. Produser telenovela pun pinter menge-set cerita yang mengaduk-aduk perasaan kaum ibu. Pantas saja telenovela Esmeralda, Marimar, Poulina, Carita de Angel, laris manis penggemar. Selain kondisi yang memilukan, perasaan perempuan juga mudah tersentuh kalau dihadapkan pada suatu suasana menyebalkan, menyingggung perasaan. Sering terjadi, gara-gara salah omong, mulanya mengajak bercanda, eh malah ujungnya berantem. Musuhan bebuyutan (A’uzubillah jangan sampai kita begitu). Kenapa ini bisa terjadi? Ya, karena memang perempuan lebih menggunakan perasaannya.
Tapi apakah dengan alasan itu, berarti kemudian perempuan itu berakal rendah atau kurang rasional? Terlebih di masyarakat berkembang anggapan perempuan itu lebih mengedepankan perasaan sehingga kurang rasional dan berakal rendah. Apalagi anggapan ini diperkuat oleh para ilmuwan saraf di Harvard University. Mereka telah membuktikan bahwa memang otak perempuan lebih kecil 10 persen dibandingkan dengan otak laki-laki, bahkan setelah diperhitungkan bahwa tubuh perempuan yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki.
Geschwin dan Behan, dua orang neurolog mengungkapkan, janin laki-laki mengeluarkan testoteron (hormon pengatur pertkembangan fisik laki-laki). Testoteron membasahi otak bayi, secara selektif menyerang bagian-bagian otak sebelah kiri. Akibatnya bagian otak sebelah kanan lelaki menjadi dominan. Belahan otak kanan ini berkaitan dengan kemampuan visual-spacial (kemampuan yang diperlukan membaca geometri atau peta).
Berbeda dengan otak perempuan. Belahan otak perempuan saling berkaitan satu sama lain secara seimbang. Dengan anatomi otak ini, menurut Geschwin dan Behan, perempuan mempunyai kelebihan dalam perasaan, intusi, dan bahasa. Tetapi perempuan kurang secara intelektual. Teori ini senada dengan pernyataan Rektor Harvard University pertengahan bulan Januari 2005. Lawrence H Summers mengatakan bahwa terdapat perbedaan bawaan dari lahir yang menyebabkan perempuan lebih sulit berkembang dalam bidang matematik dan ilmu pengetahuan.
Jika ini benar, malang nian nasib perempuan. Tapi, tunggu dulu. Meski perempuan lebih menggunakan perasaan, bukan berarti dia sesuai dengan dugaan orang. Semua teori dan anggapan ini bertentangan dengan Islam. Menurut Syeikh Taqiyudin An-Nabhani dalam kitab Nidzamul Ijtima’i (Sistem Pergaulan dalam Islam), manusia punya potensi akal yang sama antara laki-laki dan perempuan. Karena Allah SWT telah menciptakan akal bagi manusia. Bukan akal khusus bagi laki-laki atau akal khusus perempuan.
Sementara itu, perlu diketahui, otak itu hanyalah salah satu unsur yang menyusun akal (potensi berfikir) manusia. Setiap otak manusia punya daya fikir terhadap sesuatu yang ditunjang oleh empat hal, yaitu otak itu sendiri, informasi yang diperoleh, fakta yang dapat ditangkap, dan panca indera. Kita bisa melihat orgil alias orang gila ada otaknya juga kan. Tapi pikirannya agak gimana gitu. Jadi nggak ada tuh dalam otak bakat khusus seperti bakat ilmuwan, bahasa, seni, bakat menulis, dan lain-lain.
Namun ada satu hal yang bisa berbeda pada otak manusia. Yakni kekuatan nalar dan kekuatan daya serap indera. Kalau hal ini, bisa jadi laki-laki lebih kuat nalarnya dibanding perempuan. Kenyataannya, sering kita jumpai laki-laki jago Fisika. Nggak jarang juga perempuan lihai mengotak-atik pelajaran Matematika dibanding laki-laki. Semua itu tergantung kekuatan nalar dan kreatifitas mengasah nalar.
So, nggak masalah kan perempuan lebih perasa. Toh itu bukan yang merendahkan perempuan bahkan kelebihan yang diberikan Allah disesuaikan dengan fungsi kodrati dan fitrahnya. Perempuan cenderung lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih telaten, lebih sabar, lebih hati-hati, dan sebagainya. Semua itu selaras dengan potensinya sebagai seorang ibu. Kalau laki-laki kelihatan lebih tegar, lebih tabah, tidak cepat nangis. Ya, karena mereka punya potensi menjadi seorang pemimpin. Yang bener aja seorang pemimpin mudah cengeng saat menghadapi masalah. Bayangkan kacau balaunya anak buahnya.
Dengan memahami potensi kita, bukan berarti kita mentolelir diri. Misalnya, melakukan maksiat terus-menerus. Ketika ditanya, alasannya tak bisa mengendalikan diri, terbawa perasaan sih. Atau ogah mutusin pacar karena rasa kasihan. Takut dia-nya nanti sakit dan nggak rajin belajar lagi. Atau juga sebel kalau diminta pakai kerudung dan jilbab karena takut disebut sok suci lah, takut gerah, takut kehilangan temen, dan takut-takut yang lain. Wah, ini mah salah menempatkan perasaan! Dalam pelaksanaan kewajiban aturan Allah, tak ada pilih kasih. Perempuan dan laki-laki diharuskan memiliki perasaan yang sama. Yaitu perasaan yang terbingkai oleh aturan Islam. Rasulullah bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian (laki-laki maupun perempuan) hingga menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
Memang lumayan berat sih dan perlu latihan, tapi pasti bisa kok. Jangan biarkan kita terlarut dalam perasaaan. Kita harus bisa menempatkan, kapan mengutamakan perasaan dan kapan menempatkan akal. Manusia mulia adalah dia yang bisa menempatkan akal dan perasaannya di atas aturan Sang Khalik.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.