HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - Jakarta
Pekerjaan
CEO Nasywa Cafe
I'm Muslimah and Very Happy ^_^
http://rifarida.multiply.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
Tulisan Rifatul Lainnya
Tetaplah Bahagia Bersamaku
12 Juli 2010 pukul 18:00 WIB
PadaMu Ku Memohon
24 Juni 2010 pukul 17:35 WIB
Dari Hawa untuk Adam
7 Juni 2010 pukul 17:45 WIB
Aku Masih Tersenyum
20 Mei 2010 pukul 17:55 WIB
Seperti Senja Kelabu
3 Mei 2010 pukul 18:33 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 15:00 WIB

Diakhiri dengan Tabbaruj

Penulis : Rifatul Farida

Senang sekali rasanya mendapat kabar dari seorang sahabat akan segera menyempurnakan separuh Dien ini. Ucapan selamat dan do'a pun dipastikan turut serta mengiringi hari indah dan bahagia itu. Namun, haruskah kemudian berubah bentuk begitu, meski hanya sehari saja?

Al-Ukh yang biasanya, dalam hari-hari luar biasanya tampil begitu apa adanya, polos, dan seindah warna aslinya. Hanya dalam selang waktu semalam tampil begitu berbeda, bahkan kontras. Lalu, sebenarnya pemaknaan apa yang ingin disuguhkan di hari yang diberkahi itu?

"Hanya sehari, dan sekali seumur hidup mungkin," kata seorang sahabat lain menanggapi tanpa ingin mempersoalkan lebih lanjut.

"Hanya"? Saya mengerutkan dahi. Jelas-jelas bertabbaruj ria begitu dibilang 'hanya' dan semuanya seolah menjadi baik-baik saja? Ah, sepertinya tidak begitu halnya dengan saya.

Entah apakah saya yang terlalu mempersoalkan atau mereka yang tak mau ambil pusing. Yang jelas, dan yang saya fahami, seorang muslimah dilarang bertabbaruj kecuali di depan yang sudah menjadi haknya. Tak pernah ada toleransi waktu apakah itu semenit atau sehari, pun tak ada toleransi momen entah itu nikahan, wisudaan, atau hajatan-hajatan lainnya.

Rasanya terlalu sayang, kalo 'izzah' keakhwatannya berakhir di momen berkah itu, yang seharusnya tetap Allah yang menjadi perhatian utama, bukan manusia dan yang lainnya. Dan haruskah memang begitu? Masa 'keakhwatan' diakhiri dengan tabbaruj. Kalau toh alasannya biar kelihatan tidak pucat, perlukah setebal itu? Bukankah sekedarnya saja sudah cukup?

Ayolah, ukhti... Allah telah meninggikan kedudukan kita dengan penjagaan terbaik lewat syari'atNya. Maka, tak selayaknya kita merendahkan apa yang sudah Ia tinggikan.

http://rifarida.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lina | staff adm
Subhanallah... Ingin sekali bisa bergabung, berbagi cerita, dan bertanya. Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1587 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels