|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|

Selasa, 30 Maret 2010 pukul 16:30 WIB
Penulis : Radoek
Mengapa harus satu juz setiap hari? Itulah judul tulisan pada lembaran fotocopy-an yang diberikan seorang teman beberapa minggu yang lalu.
"Iya, kenapa harus satu juz, apa enggak kebanyakan tuh?" tanyaku pada temanku itu.
"Baca saja dulu, dicoba, dan lakukan saja terus menerus," jawabnya sambil senyum-senyum.
Bukannya tidak bisa. Bisa sih, mungkin bisa kalau bulan Ramadhan. Bulan itu kan semua orang berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu bulan, berarti minimal satu juz perhari. Suasana dan lingkungan memang mendukung untuk bisa mencapai target itu. Tapi kalau bulan biasa, setiap hari? Ah!! Apa mungkin sanggup? Begitu pikirku pada awalnya.
Terlepas dari sanggup atau tidak, ternyata membaca Al-Qur'an satu juz memakan waktu sekitar 40 menit sampai satu jam. Setiap hari kira-kira satu jam biasa kita habiskan untuk apa ya? Mungkin untuk nonton TV, untuk baca koran/majalah, atau ngobrol dengan teman. Kalau lagi asyik nonton TV, rasanya waktu habis tidak terasa. Perpanjangan waktu pertandingan bola bukan kita sambut dengan makian, tapi kita malah semakin asyik memelototi kotak ajaib itu.
Satu jam baca Al-Qur'an mungkin akan terasa membosankan (mula-mula). Tapi kita bisa kok menyiasatinya. Satu juz itu biasanya terdiri atas 20 halaman. Jadi setiap kali habis shalat, kita bisa tilawah 4 halaman. Kalau dikonversi ke dalam waktu, 4 halaman paling lama menghabiskan waktu 10 menit. Apakah hal yang sulit kalau setiap kali shalat kita menyisihkan waktu sekitar 15 menit (untuk shalat dan tilawah)?
Bisa ya dan bisa tidak. Untuk yang bekerja di kantor mungkin tidak bisa semudah itu "menghilang" 15 menit ketika Ashar. Apalagi kalau memang pekerjaan sedang sangat padat. Tapi, lagi-lagi itu bukan alasan. Karena kita bisa menyiasatinya dengan berbagai cara agar satu juz per hari ini dapat dicapai. Mungkin untuk Dzuhur dan Ashar masing-masing cukup 2 halaman saja, sedang sisanya bisa "dikejar" saat Isya, sebelum tidur, ketika bangun malam, atau saat Shubuh.
Sebetulnya ada banyak sekali cara, tergantung bagaimana kita mengatur waktu kita masing-masing.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radoek sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.