|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://www.abisabila.com |
|
http://facebook.com/abi.sabila |
|
http://twitter.com/AbiSabila |





Sabtu, 13 Februari 2010 pukul 16:00 WIB
Penulis : Abi Sabila
Kemarin malam, saat menemani sepupuku mengambil uang melalui ATM di sebuah pusat perbelanjaan ternama.
Seperti biasa, pusat perbelanjaan ini memang selalu dipadati oleh pengunjung yang datang, baik dengan berjalan kaki, menumpang angkutan umum, ataupun menggunakan kendaraan pribadi. Sementara sepupuku mengambil uang di ATM yang berada di lantai dua pusat perbelanjaan, aku memilih menunggunya di luar pagar saja. Terlalu ribet jika harus antri di parkiran motor, padahal kami hanya ingin mengambil uang, bukan untuk berbelanja.
Dari tempatku menunggu, dengan leluasa aku bisa melihat para pengunjung yang baru datang ataupun yang sudah keluar dengan berbagai macam barang belanjaan di tangan. Supermarket yang temboknya didominasi warna kuning ini, memang menjadi salah satu tujuan utama bagi warga yang memiliki hobi belanja atau sekedar jalan-jalan mencari hiburan. Harga yang sedikit lebih miring dibanding harga warung adalah faktor penarik utama mengapa para calon pembeli rela antri, berdesak-desakanan, atau bahkan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Jika dihitung secara cermat, harga barang yang konon diklaim lebih murah itu, terkadang tak sebanding dengan tenaga, waktu, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa sampai di supermarket ini. Tapi begitulah, sudah jadi hal yang biasa jika pembeli selalu saja mencari harga yang paling murah di antara yang murah. Bahkan soal jarak, terkadang tak jadi masalah, yang penting bisa membeli dengan harga lebih murah. Keuntungan pembeli adalah ketika bisa membeli dengan harga yang paling murah. Ini sah-sah saja, baik secara ekonomi maupun ditinjau dari segi agama, asalkan persyaratan muamalah lainnya terpenuhi.
Untuk sebuah kepentingan dan keuntungan dunia, kita begitu semangat mengejarnya. Tenaga, waktu, dan bahkan biaya terkadang tak lagi dipertimbangkan. Yang ada dalam pikiran adalah bagaimana kita bisa mendapatkan keuntungan itu. Hal ini kadang berbanding terbalik dengan semangat kita ketika menjalankan ibadah. Shalat misalnya. Meski kita tahu bahwa shalat yang dilakukan tepat waktu pahalanya lebih besar, tapi kita masih sering menunda-nunda. Kita tahu bahwa shalat berjama'ah pahalanya lebih besar, tapi kita masih sering shalat sendirian. Kita tahu bahwa shalat berjama'ah di masjid atau mushala pahalanya lebih besar, tapi kita masih beranggapan bahwa yang penting di rumah juga shalat berjama'ah.
Allah menjanjikan keuntungan (bonus pahala) bagi siapa saja yang bisa mendirikan shalat tepat waktu, secara berjama'ah, dan dilakukan di tempat yang mulia. Ini tidak sulit, karena semuanya bisa dicapai sekaligus. Caranya dengan senantiasa shalat berjama'ah di masjid atau mushala. Hanya dengan shalat berjama'ah di masjid atau mushala, maka shalat tepat waktu lebih terjamin dibanding kita shalat di rumah yang sering ditunda-tunda hanya untuk sebuah urusan tak penting. Dengan shalat di masjid atau mushala, maka shalat berjama'ah lebih terjamin ketimbang kita shalat di rumah yang terkadang menjadi susah lantaran anggota keluarga sibuk dengan urusannya masing-masing. Dengan membiasakan shalat berjama'ah di masjid atau mushala, maka ukhuwah bisa lebih ditegakkan, jalinan silaturahmi bisa lebih dipererat, dan yang tak kalah penting, perjalanan kita dari rumah menuju masjid atau mushala dan sebaliknya akan dinilai sebagai ibadah yang kompensasinya hanya satu, yaitu pahala.
Begitu banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan membiasakan shalat berjama'ah di masjid atau mushala. Tidakkah sayang jika semua itu akan kita lewatkan begitu saja, sementara untuk keuntungan duniawi yang jumlahnya terkadang tak seberapa, kita rela menempuh perjalanan yang jauh dari rumah kita. Sedang untuk ke masjid atau mushala, tak seberapa jauh tapi justru kita enggan, padahal semakin jauh jarak masjid dari rumah kita, maka semakin banyak keuntungan (pahala) yang akan kita dapatkan dari langkah-langkah kaki kita.
Akankah kita terus berkutat di segala urusan dunia? Semakin dikejar, bukan keuntungan yang bakal diraih tangan, melainkan kerugian yang tak tertanggungkan. Mari, kita alihkan perhatian kita pada kepentingan akhirat. Jika ada ibadah yang memberikan peluang meraih keuntungan lebih besar, kenapa kita hanya ambil pokoknya saja? Dan membiasakan shalat berjama'ah di masjid atau mushala, itulah keuntungan yang sesungguhnya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.