|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
d3frd@yahoo.com |
|
http://facebook.com/defarida |
|
defarida@gmail.com |
|
http://twitter.com/defarida |





Rabu, 10 Februari 2010 pukul 15:00 WIB
Penulis : Ade Farida
Malu, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan rasa yang ada di dalam hatiku. Bagaimana tidak, aku baru saja membaca sebuah artikel di salah satu situs Islam tentang aktivitas dakwah di Paris, negara yang notabene bukan negara yang bermayoritas muslim. Di sana tertulis bahwa mereka yang aktif dalam dakwah senantiasa shalat berjama'ah, bahkan setiap usai shalat subuh berjama'ah, mereka senantiasa mengkaji kitab riyadusshalihin lalu menghafal dan menancapkannya dalam hati untuk dilakukan dan disampaikan kepada orang-orang yang belum mengenal Islam. Pesan Rasulullah, "Ballighuu 'anniy walau aayah," sampaikanlah walau satu ayat, demikian menjadi pemicu mereka untuk senantiasa meneguhkan langkah kaki dalam alunan dakwah.
Subhanallah. Semangat dakwah yang luar biasa di kota yang tidak biasa dengan Islam. Mereka sangat yakin Allah akan memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang akan mereka sampaikan tentang ayat-ayat Allah. Keyakinan itu senantiasa hadir di hati-hati mereka, prasangka positif akan pertolongan Allah terhadap hambaNya yang berada di jalan dakwah demikian tinggi, walau mereka sering kali berhadapan dengan cemo'ohan, cacian, bahkan hinaan dari orang-orang yang mereka sampaikan tentang ayat-ayat Allah. Tapi mereka tidak pernah berhenti bahkan berfikir untuk berhenti dari dakwah pun tidak. Mereka senantiasa melaju, menyeru, dan teguh dalam bingkai dakwah.
Bait demi bait yang aku baca tentang perjuangan yang mereka lakukan membuat aku tertegun malu, bahkan tak terasa meneteskan air mata, merasa diri bukan siapa-siapa dan bahkan bukan apa-apa untuk dakwah mulia ini. Aktivitas mereka menjadi cambuk tersendiri bagi kita aktivis-aktivis dakwah di negara yang mayoritas penduduknya Islam dan memiliki banyak kemudahan di sana-sini untuk melakukan dakwah, dibanding dengan mereka yang berada di negara minoritas.
Sering kali kita, dengan fasilitas yang ada, dengan kemudahan yang Allah berikan, menjadi sangat rapuh bahkan sangat cengeng untuk sekedar membuat azzam akan keteguhan diri di jalan dakwah. Padahal sudah seringkali kita diingatkan dengan QS. Ali Imran : 110, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
Memang, dakwah bukan jalan yang mudah untuk dilalui, tapi ia juga bukan jalan yang mustahil untuk dilalui, apalagi jika pelaku dakwah memiliki tekad yang kuat disertai keyakinan yang mendalam tentang dekatnya pertolongan Allah dan ditambah dengan keberuntungan kita berada di negeri yang mayoritas. Sudah selayaknya kita keluar dari zona nyaman dakwah, kemudian merasakan dinamika-dinamika dakwah yang luar biasa, agar kalimatullah bergema serta bersemayam di hati setiap insan yang ada di tanah air tercinta ini.
Ya Rabb, ampuni hamba jika pernah merasa lelah berada di jalan dakwah ini. Ampuni hamba jika hamba menjadi sangat rapuh dalam jalan dakwah ini. Ampuni hamba jika surga yang Engkau janjikan untuk hamba-hambaMu yang menyeru di jalanMu sering tertutupi dengan nafsu duniawi hamba. Biarkanlah kalimat-kalimat menyeru untuk mengingatMu, langkah kaki yang diniatkan untuk mencari keridhaanMu, waktu yang diluangkan untuk agamaMu, bahkan rizki yang mengalir di jalanMu, biarlah menjadi bekal hamba di hari akhir nanti, dimana tidak ada pertolongan kecuali dariMu. Biarlah diri ini tergadai di jalanMu untuk menggapai keridhaanMu, karena tiada perniagaan yang menguntungkan kecuali perniagaan kepadaMu, Rabb seluruh alam.
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ade Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.