|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Senin, 18 Januari 2010 pukul 15:45 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Bangunan itu tampak begitu bersih, megah, dan indah. Dilapisi dinding tembok berwarna putih, dihiasi lampu-lampu benderang. Bangunan tersebut adalah masjid suci yang di dalamnya terdapat Ka'bah, arah kiblat seluruh umat muslim di dunia. Menatapnya menimbulkan getar-getar haru, memandangnya mendatangkan kesejukan.
Dengan menggenggam erat tangan suami, saya masuki Masjidil Haram untuk pertama kali. Dada terasa sesak dan mata terasa perih ketika bangunan hitam berbentuk kubus yang bernama Ka'bah sedikit demi sedikit mulai terlihat. Semakin mendekat, semakin erat saya genggam tangan suami, dengup jantung berdetak keras dan tak terasa bulir-bulir air mata menetes tak terbendung. Dalam isak tangis, lirih saya berkata, "Ya Allah, betapa hamba sangat merindukan perjumpaan ini."
Saya merasakan hari itu adalah saat-saat terindah dalam hidup. Menyaksikan Ka'bah dan berkumpul bersama jutaan manusia dalam ritual ibadah haji yang mendambakan pertemuan dengan Allah. Tidak hanya saya dan suami yang mengalirkan air mata bahagia dan haru, tetapi semua jama'ah tamu-tamu Allah tampak berusaha menahan tangis saat melihat Baitullah.
Jika ada yang bertanya, pengalaman apa saja yang saya bawa dari perjalanan ruhani ini? Mungkin akan sulit untuk menjabarkan satu per satu indahnya perjalanan tersebut. Begitu banyaknya kenangan manis yang saya bawa. Semua tak bisa terucapkan dengan lisan atau tergambarkan dalam tulisan, hanya bisa dirasakan dalam hati. Batin ini rasanya penuh oleh muatan ruhani.
Di antara banyaknya kenangan indah, ada satu hal yang paling membekas dalam hati. Yaitu saya dapat merasakan Allah sangat dekat, setiap perbuatan ataupun permintaan saat itu akan dibayar kontan oleh Allah.
Pernah saat Thawaf, saya meminta kepada Allah agar bisa berdo'a di depan Multazam. Seperti yang sebutkan oleh hadits Rasulullah SAW, "Antara Rukun Aswad dan pintu Ka'bah disebut Multazam. Tidak ada orang yang minta sesuatu di Multazam, melainkan Allah mengabulkan permintaan itu." (HR. Al-Baihaqi).
Jika melihat jutaan manusia yang berdesak-desakan untuk mencapai tempat tersebut, rasanya saya dan suami tidak mungkin untuk melakukannnya. Badan kami yang kecil akan kalah oleh orang-orang bertubuh kekar dan tinggi besar. Di saat sedang berdo'a di putaran ke tiga, tiba-tiba ustadz pembimbing yang telah lebih dahulu menyelesaikan Thawafnya mendekati saya dan suami seraya bertanya, "Bapak dan ibu sudah putaran ke berapa? Sudah coba mendekati Multazam?"
Suami menerangkan bahwa kami tidak mungkin mendekatinya, khawatir terjadi apa-apa dalam desakan dan himpitan jutaan manusia.
"Bapak pegang baju saya dan ikuti saya," ustadz tersebut berkata sambil meletakan tangan suami pada bajunya agar dipegang erat.
Sejenak suami menatap ke arah saya lalu terucap kata, "Bismillah..." tangannya mulai menghimpit erat lengan saya.
Tidak terasa, kami sudah terhanyut dalam desakan lautan manusia yang berusaha mendekati Hajar Aswad, Rukun Yamani, ataupun Multazam. Saya tidak tahu bagaimana caranya, tiba-tiba Ustadz tersebut berkata, "Kita sudah di depan Rukun Yamani, usap dengan tangan kanan, ucapkan Bismillah-Allahu Akbar."
Begitu pun saat tiba di depan Multazam, ustadz yang membimbing kami kembali berkata, "Mari kita berdo'a, ini sudah di depan Multazam."
Ketika saya tengadahkan kepala, "Masya Allah..." pintu Multazam berlapis emas sangat dekat di depan mata. Tidak ada lagi jarak terpisah antara saya dan tempat makbul tersebut. Dengan perasaan tak menentu, segera saya dan suami untaikan do'a-do'a dalam linangan air mata yang mengalir begitu saja.
Saya percaya, semua kejadian ini terjadi karena adanya pertolongan Allah Ta'ala. Sang Mahakuasa berada begitu dekat dan melihat semua yang dilakukan hambaNya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kebaikan hambaNya seberat dzarrah pun, semua akan mendapat balasan.
Hingga kini, rekaman hari-hari penuh makna dalam menunaikan perjalanan suci masih segar berputar dalam ingatan. Getar-getar kerinduan untuk dapat bersujud simpuh di depan Baitullah, memohon ampun serta membuka diri pada Sang Maha Mengetahui selalu muncul setiap saat. Ingin rasanya kembali merasakan kenikmatan berada di rumahNya yang penuh kedamaian jiwa, dimana ruh terasa sangat begitu dekat dengan Sang Penguasa.
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdoa kepadaKu."
(QS. Al-Baqarah : 186).
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.