QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Tak Sekedar Pesta Bakar Sate
26 November 2009 pukul 15:25 WIB
Membasuh Jiwa dengan Mahabbah
20 November 2009 pukul 17:15 WIB
Bisnis Ijazah Instan
15 November 2009 pukul 16:00 WIB
Republik Korupsi
5 November 2009 pukul 15:30 WIB
Ayo Hemat!
26 Oktober 2009 pukul 16:05 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 6 Desember 2009 pukul 15:00 WIB

Yang Terdalam

Penulis : Eko Prasetyo

Aliya adalah gadis cilik berusia tujuh tahun. Kulitnya legam, kurus, dan dekil. Sehari-hari, mengamen di Terminal Jombang. Suatu ketika, dia berkelahi dengan sesama teman pengamennya. Dia dipukul setelah berebut uang dari seorang penumpang. Wajahnya yang lebam membuat iba seorang kawan saya yang kebetulan ada di situ.

Aliya diketahui hidup dengan neneknya. Ternyata, dia yatim piatu. Kawan saya berinisiatif untuk memondokkan dia di sebuah pesantren dekat rumahnya di Jombang. Saya saat itu dikabarkan tentang keberadaan Aliya yang menyedihkan. Kemudian, saya menawarkan kepada sahabat saya itu untuk menjadi kakak asuh Aliya. Saya bersedia menanggung kebutuhan sehari-hari dan pendidikan Aliya di situ. Namun, saya meminta kepada kawan saya tersebut untuk merahasiakan identitas saya sampai saya bisa bertemu langsung dengan Aliya.

Selanjutnya, Aliya menjalani rutinitas barunya sebagai santriwati. Dia senang memiliki kakak asuh meski belum pernah melihat sosok kakaknya tersebut. Kepada kawan saya dan isteri kawan saya itu, Aliya mengatakan ingin bertemu dengan kakak asuhnya yang tidak lain adalah saya.

Kesibukan dan aktivitas saya yang padat di kantor membuat niat saya mengunjungi Aliya selalu gagal. Akhirnya, kawan saya menyampaikan ide untuk bertemu di Sidoarjo saja, di tempat salah seorang familinya. Saya pun sepakat. Akhirnya kami bisa bertemu di Sidoarjo ketika saya libur kerja.

Aliya sebelumnya sengaja tidak diberi tahu bahwa dia akan dipertemukan dengan saya. Dia hanya tahu akan diajak jalan-jalan ke Sidoarjo oleh kawan saya dan isterinya.

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa bertemu dengan Aliya. Dia tampak ceria. Beberapa kali, dia memamerkan baju dan jilbab pemberian kakak asuhnya. Dia memang banyak diceritakan tentang kakak asuhnya oleh kawan saya dan isterinya. Saya sangat terharu melihat wajah bocah polos tersebut.

"Apa masku mau ya ketemu aku?" ujar Aliya.

"Lho, masmu mesti seneng ketemu kamu. Tapi, apa kamu mau punya mas tukang koran?" kata saya.

"Biarin aja," sergahnya.

"Kan orangnya baik," lanjut Aliya.

"Dari mana kamu tahu kalau orangnya baik?" tanya saya.

"Pak ustadz (kawan saya) yang cerita," tuturnya bersemangat.

"Orangnya ganteng nggak ya?" ucapnya penasaran.

Kawan saya dan isterinya hanya tersenyum mendengar itu. Saya bersyukur bisa melihat Aliya. Kepolosan dan keceriaannya membuat semangat kerja serasa bertambah.

"Kapan dong bisa ketemu masku?" rengek Aliya kepada isteri kawan saya.

"Nanti tho, nduk (sebutan nak untuk anak perempuan di Jawa), kamu iso ketemu karo masmu kuwi," kata isteri sahabat saya tersebut lantas tersenyum menatap saya.

Saya sempat mengajak Aliya dan kawan saya makan di sebuah restoran di Sidoarjo. Aliya sama sekali tidak menaruh curiga bahwa dia sebenarnya telah bertemu dengan kakak angkatnya. Memang, saya hanya diperkenalkan sebagai saudara kawan saya yang sehari-hari mengawasi perkembangan Aliya di pesantrennya.

Seusai pertemuan tersebut, saya mengatakan kepada Aliya bahwa suatu saat kakaknya akan mampir ke Jombang untuk mengunjunginya. "Aku kenal karo masmu," kata saya di akhir perjumpaan kami sore itu.

Ya, saya menepati janji saya untuk menemui Aliya di Jombang. Pada saat pertemuan kedua itu, Aliya tidak menyangka bahwa saya adalah kakak asuhnya. Begitu senangnya dia hingga tak sempat berkata selama beberapa saat. Saya menelepon calon isteri saya ketika itu bahwa saya telah bertemu dengan Aliya. Saya menyampaikan bingkisan dari calon isteri saya tersebut kepada Aliya. Aliya menerimanya dengan sangat senang. Mengharukan. Saya tak menyangka bisa sebahagia saat itu. Isteri teman saya sempat meneteskan air mata melihat begitu gembiranya Aliya bisa bertemu kakaknya.

Namun, kebahagiaan itu kini menjadi bagian dari masa lalu. Setelah sempat dirawat inap di rumah sakit setempat karena demam berdarah, Aliya menghembuskan nafas terakhir setelah trombositnya sangat rendah. Kawan saya menyesal karena gagal mencarikan darah di PMI setempat. Untuk ke PMI Surabaya, dia akan sangat terlambat mengingat kondisi Aliya yang sangat lemah dan kritis.

Kabar tersebut sampai ketika saya masih harus menyelesaikan mengedit berita sebelum deadline pukul 12 malam. Mata saya tak sengaja basah. Tangan saya bergetar tak mampu menggerakkan mouse dan mengetik. Begitu berat rasanya kehilangan salah seorang tercinta. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Saya tak lekas pulang saat itu. Setelah suasana redaksi sudah sepi, saya melaksanakan shalat ghaib untuk almarhumah. Badan saya terasa lemas. Saya tak mengira secepat itu kebahagiaan datang dan secepat itu pula kebahagiaan pergi. Tapi, Allah Mahatahu. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaNya. Hanya do'a yang terpanjat dan terucap saat itu.

Semoga Ar-Rahman mengampuni segala dosa dan memberikan tempat yang layak bagi almarhumah di sisiNya.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lucasgoru | Karyawan Swasta
Allahu Akbar... Terus terang, KotaSantri.com lebih membuka mata hati saya tentang Islam.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1695 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels