QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Ayo Hemat!
26 Oktober 2009 pukul 16:05 WIB
Memberi Bila ...
16 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB
Imam Shalat Kami
8 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB
Merenda Kasih Ibu
26 September 2009 pukul 15:45 WIB
Tetes Air Mata di Sela Hafalan
8 September 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 5 November 2009 pukul 15:30 WIB

Republik Korupsi

Penulis : Eko Prasetyo

Berangkat sore menuju ke kantor, macet di sekitar Jl. Wonokromo dan Jl. A. Yani, Surabaya, menjadi pemandangan yang biasa bagi saya. Namun, saya bersyukur bahwa macetnya Surabaya tak separah seperti Jakarta. Bisa saya bayangkan betapa tingkat depresi orang-orang Jakarta begitu tinggi karena faktor macetnya jalan. Bahkan, saya pernah mendengar dari seorang rekan bahwa jalan tikus di Jakarta pun bisa macet.

Meski demikian, jalanan yang macet bukan satu-satunya hal yang bisa bikin orang stres. Makin tak menentunya situasi ekonomi negeri ini pun bisa menyebabkan depresi. Tentu saja, lagi-lagi rakyat turut merasakan stres karena faktor ekonomi.

Harga kebutuhan pokok kian melambung, sedangkan pendapatan kadang tak sepadan dengan pengeluaran. Sudah 64 tahun Indonesia merdeka. Namun, kita secara tak sadar masih dijajah. Bukan dijajah negara lain, tapi korupsi! Korupsi kini tidak hanya dilakukan oleh para pejabat. Tapi, orang miskin pun bisa berbuat korupsi. Orang kini makin minim mengenal kata jujur. Segala hal bisa dimanipulasi.

Orang bilang ini zaman edan. Yen ora melu edan, ora keduman (Kalau tidak ikut-ikutan edan, tidak kebagian). Begitu kata pujangga Jawa, Ronggowarsito. Seorang karyawan dengan pendapatan dua juta lebih per bulan bisa defisit karena kian mahalnya kebutuhan pokok dan BBM. Belum lagi dia harus mengatur keuangan rumah tangga untuk bayar listrik, air, telepon, biaya anak sekolah, dan lain-lain.

Karena itu, saya tak bisa membayangkan bagaimana dengan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan? Faktor ekonomi memang rawan terhadap tindak korupsi. Kasus korupsi yang melibatkan anggota DPR dan beberapa pengusaha seakan menjadi menu yang biasa kita santap di media massa dan elektronik. Ketidakjujuran melanda di berbagai sektor dan elemen masyarakat. Akibatnya, jangan heran bila ada seorang pedagang yang mengurangi timbangannya. Jangan kaget pula bila ada anak yang mengambil keuntungan setelah membohongi orangtuanya.

Indonesia sekarang benar-benar krisis. Utang negara yang menumpuk belum tentu bisa terbayar hingga 30 tahun ke depan. Sedangkan gaya hidup hedonis kian menggila di negeri ini. Kekayaan alam dieksploitasi habis-habisan demi kepentingan suatu golongan, sementara rakyat dipaksa menderita karena bumi Indonesia kian ramah dengan bencana.

Masya Allah. Lihatlah derita warga di Porong yang menderita karena lumpur Lapindo tak kunjung menampakkan tanda akan surut. Sementara, di saat lain ada pernikahan mewah yang menembus angka puluhan miliar rupiah. Tidakkah mereka punya kepekaan sosial dan solidaritas terhadap sesama? Para figur publik pun tak lagi bisa dijadikan anutan.

Hari-hari tak pernah surut dengan berita kawin cerai, selingkuh, pacaran remaja, dan hal-hal yang tak pantas dikonsumsi oleh anak-anak kita. Suatu kali, saya mendapati nenek saya membeli tempe di gang kampung. Beliau mengeluhkan harga tempe yang makin mahal. Dulu, beli seribu rupiah sudah dapat tempe yang bisa dimakan oleh kami bertiga (saya, nenek, dan kakek saya). "Sak iki, beli tiga ribu cuma dapat tempe sak uprit," tutur nenek saya.

Kalau tempe sampai tak terbeli, bisa-bisa orang miskin akan makan nasi basi yang dikeringkan dan digoreng kembali. Ini pun sudah terjadi di beberapa daerah yang penduduknya tergolong sangat miskin. Masya Allah. Jika ditelaah, kesulitan pangan dan terpuruknya ekonomi Indonesia bermuara pada satu hal, korupsi!

Suara kaum miskin dan lemah sulit didengar oleh pemerintah. Mereka baru mau turun ke bawah ketika ada pemilihan kepala daerah atau negara, berkampanye ke sana ke mari mencari dukungan dengan embel-embel janji yang entah bisa diwujudkan atau tidak.

Malam ini, di ruang kerja, saya duduk termenung. Redaksi telah lengang. Langit di atas Surabaya bertabur bintang. Dalam kesendirian saya bergumam lirih, "Negara ini telah menjadi Republik Korupsi."

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1123 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels