HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://ganteng.kotasantri.com
Bergabung
16 April 2009 pukul 22:06 WIB
Domisili
Dubai - Dubai
Pekerjaan
karyawan hotel
Simple dan mudah diajak untuk ngobrol,senang tertawa tp tdk pandai bercerita yg lucu2. Senang mendengar cerita yg lucu. Krn tertawa membuat kepenatan hilang berganti dengan senyum dan wajah yg ceria. Tidak suka cara bicara yg kaku,suasana yg formil....sebisa mungkin dibuat SERSAN ( Serius tp Santai). Duda tanpa anak,dan diberikan amanah …
teguh_ganteng@hotmail.com
http://facebook.com/teguh banget
Tulisan Teguh Lainnya
Percaya Deh!
7 Juni 2009 pukul 16:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 14 Juni 2009 pukul 17:10 WIB

Ada Apa dengan Dia?

Penulis : Teguh Yulyono

Pertanyaan ini muncul beberapa kali di benakku tentang perilaku teman sekerjaku. Kami bekerja di Dubai, United Arab Emirates, di perusahaan yang sama, tapi berbeda departmen. Walau sama-sama di bagian yang kontak langsung dengan tamu.

Temanku itu sudah menikah dan memiliki 2 anak. Sang istri dan anak ditinggal di tanah air, sementara dia mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya di negeri dengan jarak 9 jam perjalanan melalui udara, alias memakai pesawat terbang.

Awal-awal kedatangannya, temanku itu tidak menunjukan gejala untuk mengikuti pola hidup dan tingkah laku sebagian karyawan non muslim di akomodasi tempat kami tinggal. Dia tidak terlalu banyak bicara, lebih banyak senyum bila digoda atau diledek sama teman-teman yang lain, termasuk aku sendiri.

Memasuki bulan ke-6, tanda-tanda perubahan mulai terlihat pada perilaku sehari-hari. Kami lebih sering melihat dia tidak ada di kamarnya sebelum atau sesudah bekerja. Jarang berkumpul di hari-hari libur, walau masih tetap bisa bertemu pada saat-saat makan di kafetaria atau di dalam bus menuju tempat kerja.

Perusahaan tempat kami bekerja menyediakan transportasi pulang pergi dari dan ke kantor. Karena akomodasi kami lumayan jauh, dengan kendaraan bus memerlukan 25 sampai dengan 30 menit setiap perjalanan. Setelah kami perhatikan, itu merupakan peraturan dari pemerintah setempat juga.

Hari demi hari kami lalui, tanpa terasa tiba saatnya temanku itu mendapatkan jatah cuti tahunan.

Informasi tentang kepulangannya mudah tersebar, karena tiap-tiap orang Indonesia mempunyai kepentingan bila ada yang mau cuti. Kepentingan yang sama, nitip sesuatu, baik berupa souvenir, surat, uang, dan lain-lain.

Setiap mereka yang berjumpa dengan temanku itu, mempunyai komentar yang hampir sama. Ada yang bilang kurus dan tidak bersemangat hidup, ada yang bilang pucat dan agak stres. Bila aku tarik ulur benang merahnya, kesimpulanku ada yang terjadi pada temanku itu, berawal di bulan ke-6 dia bergabung.

Cerita tentang temanku itu semakin berkembang ke arah gosip. Hal ini perlu aku hindari. Pertama, di benakku terpikir, ini sudah merugikan diri pribadi, tidak mau makan bangkai orang seiman. Jangan sampai kejadian! Kedua, mubadzir waktu dan energiku, kalau menanggapi omongan yang tidak ada kejelasannya.

Sebelum keberangkatannya ke Jakarta dalam rangka menemui sanak keluarga, anak dan istri tercinta, saat itu, sebagian karyawan dari Indonesia sedang berkumpul di satu meja. Ada yang masih melanjutkan makan malamnya, ada yang telah selesai dan masih ngobrol ngalor-ngidul. Tiba-tiba temanku itu muncul, dengan senyum-senyum dia letakan makanan di atas meja dan bergabung dengan kami.

Sebelum disapa oleh salah satu dari kami, dia berkata, ‘Iya, pacar gue bunting!’ sambil menyebutkan nama teman kami yang biasa meledeknya. Mungkin dia sudah mempersiapkan mentalnya kalau bertemu dengan salah satu teman kami tersebut. Karena teman kami itulah yang paling berani bertanya atau meledek, juga mengkonfirmasikan tentang apa yang terjadi terhadap temanku itu selama ini.

Astaghfirullah... Astaghfirullah… Hanya istighfar yang bisa aku lakukan di saat kami berkumpul malam itu. Tidak ada keinginan untuk meledek atau menambahi beban ke pundak temanku itu. Aku tahu beban berat sedang dipikulnya. Beban yang akan selalu dibawa ke mana pun dia pergi, beban yang akan menggayuti langkah-langkahnya, beban yang akan menjadi bandul di kakinya selama nafas dikandung badan.

Bayangan akan betapa sulitnya mengungkapkan apa yang terjadi setengah tahun yang lalu dengan pacarnya di negeri orang, terbersit di benakku. Bagaimana kamu menghadapi istrimu, teman? Dari mana kau mulai membicarakan hal penting itu? Bagaimanakah sikap istrimu, teman? Apa reaksi istrimu? Reaksi keluargamu? Anakmu?

Ada apa denganmu, teman? Pernahkah kau pikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas ,sebelum kau putuskan berselingkuh?

Aku hanya bisa mengambil ibrah dari apa yang sedang kau alami. Aku cuma berharap musibah itu tidak hinggap di benakku, walau sedetik pun.

Ya Hayyu… Ya Qayyum… Lindungi hambamu yang lemah ini dengan cahaya NurMU dari godaan hawa nafsu yang sering menghantarkan hamba-hambaMu yang lemah ke jurang kenistaan. Na’udzubilah min dzalik!

Dubai Airport, 09032009 1401 hrs.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Teguh Yulyono sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Saeful Arif | Dagang
Saya senang membaca di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1054 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels