HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Shalatlah Sebelum Dishalati
19 April 2009 pukul 16:21 WIB
Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan
16 April 2009 pukul 21:35 WIB
Mudahnya Memaafkan
9 April 2009 pukul 16:30 WIB
Di Sudut Terminal Bungurasih
24 Maret 2009 pukul 16:18 WIB
Degradasi Moral Bangsa Ini
16 Maret 2009 pukul 17:02 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 29 April 2009 pukul 15:55 WIB

Hujan di Pengujung April

Penulis : Eko Prasetyo

Musim ini berbulir basah karena hujan acapkali menyapa, baik secara rutin maupun tiba-tiba. Pengujung April ini menyisakan kisah sederhana yang tak mungkin bisa saya abaikan begitu saja. Sebab, di situ mungkin masih ada cinta.

***

April 2009 ini berita-berita tentang isu dan perkembangan politik serta rekapitulasi hasil pemilu legislatif menjadi menu yang hampir tak pernah absen tersaji di media massa, media online, maupun media elektronik. Bosan dan menjenuhkan!

Pada suatu kesempatan, kebetulan saya mengedit berita kriminal untuk diterbitkan keesokan harinya. Seorang perempuan muda nyaris dimassa karena ketahuan menjambret handphone milik seorang perempuan di kawasan Jembatan Merah, Surabaya. Mulanya, seorang saksi menyebut bahwa perempuan pejambret tadi tampak seperti orang kebingungan yang berjalan di jembatan yang menjadi salah satu saksi bisu perjuangan heroik arek-arek Suroboyo di masa revolusi fisik dahulu.

Melihat ada calon mangsa yang rupanya sedang menunggu angkot, pejambret tadi berpura-pura menanyakan jam. Tergiur dengan handphone yang dipegang korban, si jambret nekat merebut paksa handphone berkamera tersebut.

Kontan, korban berteriak menunjuk perempuan muda yang kebingungan tadi. Tak butuh waktu lama, massa berdatangan, mengejar, dan membekuk tukang jambret itu. Beruntung, ada petugas yang segera mengamankan tersangka dari amuk massa.

Kepada polisi, tersangka mengaku baru kali pertama menjambret. Dia beralasan butuh uang karena terdesak kebutuhan ekonomi. Tentu saja, aparat tak lantas percaya begitu saja terhadap pengakuan tersebut. Dia terancam dibui selama beberapa bulan, bahkan tahun, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

***

Sekilas berita kriminal di atas ringan dan sudah biasa kita baca di surat kabar atau kita tonton di televisi. Sama biasanya dengan penjahat kelas teri berisiko tewas dihajar massa bila tertangkap, sedangkan maling berdasi hanya berisiko mengenyam bui selama beberapa tahun. Tidak sebanding memang, tapi itulah wajah penegakan hukum di negeri ini.

Warga bisa menjadi hakim yang dapat menjatuhkan vonis kematian bagi maling ayam atau pencopet. Bagi para penjahat dari kaum kelas bawah, tak ada alasan pembenar. Mereka dianggap sampah yang mesti dibersihkan, bahkan dimusnahkan kalau perlu.

Seorang wanita yang terpaksa mencuri dua dus susu di sebuah toko swalayan dengan alasan demi balitanya, bisa terancam dianiaya dan disel bila tertangkap. Perbuatannya memang termasuk salah karena mengambil barang yang bukan haknya. Namun, pernahkah kita tebersit untuk menelusuri aspek sosial lebih dalam yang menyebabkan wanita itu mencuri?

Banyak faktor memang. Salah satunya kemiskinan. Impitan ekonomi kadang bisa membuat orang gelap mata. Tak tahan anaknya tak minum susu, lahirlah pikiran untuk mencuri. Sekali berhasil, akan ketagihan mencuri lagi. Penjara mungkin tak mampu membuat jera. Tapi, pantaskah kita menjadi hakim bagi mereka, maling yang terpaksa mencuri demi bayinya?

Seorang koruptor yang tertangkap karena terbukti menggelapkan uang negara bisa dengan mudah menghirup udara bebas dan melepas senyum dengan jaminan sejumlah uang. Apa yang tidak mungkin di negeri ini? Hukum saja bisa dibeli.

***

Saya tak hendak membela penjahat kelas teri seperti kasus wanita tadi. Dia memang bersalah dan pantas dihukum. Namun, jangan karena cuma menjambret handphone atau mencuri dua dus susu, kita lantas bisa menghakimi dan menghajarnya beramai-ramai.

Wanita maling susu tersebut bisa saja merupakan pahlawan bagi balitanya. Karena susu tak terbeli, penghasilan suami tak mencukupi, dan dihantui gizi buruk, maka mencuri seolah menjadi solusi terakhir.

Kesenjangan sosial di masyarakat kita memang amat kentara. Kemiskinan dan kebodohan menjadi musuh besar negeri yang sebenarnya kaya sumber daya alam ini. Kemiskinan dan kebodohan menjadi awal lahirnya kejahatan atau tindakan kriminal.

Sayang, justru koruptorlah yang tumbuh subur dan kian merajalela. Kekayaan dan potensi sumber daya alam dikeruk habis-habisan tanpa bisa dinikmati hasilnya oleh rakyat. Akibatnya, jurang antara si miskin dan si kaya kian melebar.

***

Di pengujung April ini, saya sempat mengeluhkan hujan yang tak datang di saat saya harus beraktivitas di tengah terik, di saat saya membutuhkannya. Ketika bibir ini terasa kering dan keringat mengakrabi wajah, hujan bisa menjadi pahlawan.

Namun, hujan mungkin tak datang karena malu disebut pahlawan meski belum saatnya datang kemarau. Sebab, ia mungkin merasa ada orang lain yang pantas disebut pahlawan seperti wanita yang mencuri susu tadi. Bagi orang lain, dia musuh. Tapi, bagi bayinya, dia adalah pahlawan. Sebab, dia masih punya cinta. Ya, dalam kesalahannya, masih ada cinta.

Jikalau Tuhan saja mengasihi hambaNya tanpa terkecuali, maka tak ada alasan bagi kita untuk berbuat dzalim terhadap sesama. Apalagi bila itu dilakukan dengan tidak melihat dulu alasan dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Cukuplah Allah sebagai hakim paling adil, janganlah kita bersikap untuk menandinginya.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1215 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels