Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Di Sudut Terminal Bungurasih
24 Maret 2009 pukul 16:18 WIB
Degradasi Moral Bangsa Ini
16 Maret 2009 pukul 17:02 WIB
Guru Pak Jenderal
13 Maret 2009 pukul 16:38 WIB
Saat Perut Lapar
8 Maret 2009 pukul 16:59 WIB
Ada, Tapi Seperti Tak Ada
1 Maret 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 9 April 2009 pukul 16:30 WIB

Mudahnya Memaafkan

Penulis : Eko Prasetyo

Beberapa waktu lalu, saya tak sengaja menyerempet sebuah mobil toyota kijang di Jl. A. Yani, Surabaya. Jalan memang agak macet sore itu. Dan saya memang agak terburu-buru. Bagian spion kiri mobil tersebut agak lecet akibat senggolan dengan motor saya.

Pemilik mobil itu kemudian minggir dan menyapa saya, "Hei, goblok! Matamu sudah buta ya?"

Saya lalu meminta maaf karena tidak sengaja menyenggol mobil orang itu. Dari penampilannya yang perlente, saya jelas tidak ada apa-apanya. Meski demikian, saya berusaha tetap tenang dan terus meminta maaf. Tapi, orang itu malah tidak terima dan terus memaki-maki saya.

"Aku gak terimo! Kamu harus ganti spion mobil saya. Motomu picek yo (Matamu buta ya)! Naik sepeda motor nggak liat-liat!" kata laki-laki tersebut.

"Akan saya ganti, Pak, spion yang kegores itu. Maafkan saya, Pak," ujar saya.

"Alah, gak usah akeh omong. Aku minta kamu ganti sekarang," katanya dengan nada tinggi.

Orang itu tampak sinis memandang saya. Mungkin, dia mengira saya tak akan mampu membayar kerugian sebesar harga spion mobilnya. Apalagi, melihat tampang saya yang kucel begini.

Kemudian, dia kembali menghampiri saya. "Sudah, aku minta 200 ribu saja. Sekarang!" ujar laki-laki itu.

"Waduh, Pak, uang saya cuma 115 ribu iki," jawab saya sambil memperlihatkan isi dompet saya untuk meyakinkan dia.

"Motomu picek yo," ucapnya tidak terima dengan kata-kata saya.

"Kekurangannya saya ambilkan di kantor saya dulu ya, Pak, karena di sana ada ATM," tawar saya dengan nada memelas. Namun, dia malah tidak terima. Dia menuduh saya dan semakin memaki-maki.

Karena agak kesal, saya kemudian bilang, "Sudah deh, Pak, saya ganti 500 ribu. Tapi, uangnya saya ambil di kantor dulu. Di sana soalnya ada ATM," jawab saya.

"Alah, rai koyok awakmu mosok duwe duwit (Tampang seperti kamu mana mungkin punya uang)," kata dia terus-menerus menghina saya.

"Kalau nggak percaya, silakan ikut saya ke kantor yang dekat dari sini," jawab saya.

Alhamdulillah dia mau saya ajak ke kantor. Setelah mengambil uang di ATM, saya benar-benar menyerahkan uang sebesar Rp. 500 ribu ke orang tersebut.

Laki-laki itu kelihatan bingung dan bertanya kepada saya, "Memangnya kamu kerja di sini? Di mana? Saya kan cuma minta 200 ribu?"

Saya tidak lantas menjawab pertanyaan orang itu. "Saya minta maaf, Pak, sudah menyenggol mobil Bapak. Saya sangat berterima kasih sudah diingatkan agar berhati-hati. Matur nuwun Pak," tutur saya kepadanya.

Wajah laki-laki itu tambah bingung. Mungkin, dia bertanya-tanya wong dia tadi marah dan memaki saya, tapi saya justru berterima kasih sudah diingatkan.

"Ini kartu nama saya, Pak. Silakan main-main ke kantor saya kapan-kapan. Maaf ya, Pak, saya harus segera kerja karena ada rapat hari ini. Silakan hubungi saya nanti. Nomornya ada di kartu nama saya itu," ujar saya meninggalkan laki-laki tadi yang masih melongo melihat saya ngacir sebelum sempat berkata-kata.

Alhamdulillah, hari itu saya bisa meredam marah dan tidak membalas makian/hinaan dari bapak tadi. Bapak tersebut tidak lama kemudian mengirimkan SMS dan berkali-kali meminta maaf kepada saya. Saya membalas SMS beliau dan berterima kasih sudah diingatkan. Dia tambah bingung.

"Mas nyindir saya ya?" tulisnya heran dalam SMS balasannya.

"Lho, bapak nggak sadar sudah menasihati saya? Bapak marah-marah tadi itulah yang saya maksud mengingatkan saya agar saya lebih berhati-hati lagi jika di jalan raya," balas saya.

"Mas, saya benar-benar minta maaf atas sikap saya tadi," balas dia.

SMS itu kemudian saya tutup dengan ucapan maaf dan terima kasih lagi.

Saya lalu merenung. Mungkin saja, di satu sisi, saya memiliki kelebihan dibandingkan orang itu, meski saya berada dalam posisi yang lemah saat itu. Namun, saya memetik hikmah dari kejadian tadi. Yakni, menguasai emosi dan mencoba berpikir positif di saat-saat yang tidak menguntungkan. Sebagai pemuda, saya tetap harus menghormati orang yang lebih tua, tak peduli siapa pun dia dan tanpa melihat kelebihan diri sendiri. Dalam kamus kehidupan, tak ada kata dendam untuk saling menghargai dan mengasihi sesama makhluk Allah.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1001 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels