HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Jadi Guru Bergaji Rp. 0
25 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Berartinya Terima Kasih
18 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Romantisme Jurnalis
12 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Poem for Palestine
5 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 1 Maret 2009 pukul 03:20 WIB

Ada, Tapi Seperti Tak Ada

Penulis : Eko Prasetyo

Jangan adamu seperti tidak adamu. Kalimat bijak tersebut kerap terngiang di telinga saya manakala saya sedang diliputi rasa capai dan lelah ketika bekerja. Mengapa? Sebab, kalimat itu selalu saya ingat agar saya tidak melulu mengeluh karena padatnya aktivitas.

Kiranya, tidak berlebihan bila saya menyebutnya demikian. Pasalnya, ritme kerja jurnalis atau editor amat berbeda dengan orang kantoran pada umumnya. Kami ibarat kelelawar, karena bekerja atau mencari makan pada malam hari. Ketika banyak orang sudah terlelap tidur dan terbuai mimpi, kami harus merampungkan menu berita untuk disajikan kepada masyarakat.

Belum lagi perjuangan para reporter di lapangan. Mereka tak jarang pagi-pagi sekali harus berada di lapangan untuk meliput berita, sorenya kembali ke markas berita untuk setor berita. Kadang, mereka harus berhadapan dengan sulitnya menghubungi narasumber atau menuruti perintah para redaktur. Bahkan, ada rekan wartawan yang mengeluh karena beritanya tidak dimuat, padahal dia merasa setengah mati berjuang untuk menemui narasumber dan menulis beritanya.

Lelah seusai bekerja itu pasti. Namun, bekerja dengan mengandalkan pikiran amat melelahkan ketimbang bekerja dengan hanya mengedepankan kekuatan atau tenaga. Seringkali setelah pikiran begitu terkuras, stres siap menyapa.

Karena itu, saya selalu berusaha untuk mencintai betul-betul profesi yang saya tekuni saat ini. Saya ingin mencapai tahap bekerja seperti rekreasi. Saya berupaya mencintai sepenuh hati, tanpa terbatas apa pun dan syarat apa pun. Cinta tanpa syarat untuk sebuah profesi.

Detik pada saat saya menulis catatan pendek ini, saya sedang sakit. Tubuh saya demam, mual, dan sempat muntah darah. Mudah-mudahan saya tak terkena demam berdarah atau gejala tifus.

Bulan-bulan ini saya rasakan sangat berat. Saya kurang istirahat, apalagi saat ini saya terjun di program Untukmu Guruku 2009 Jawa Pos. Namun, saya baru sadar bahwa saya lalai karena tak mengindahkan kesehatan diri sendiri.

Sering, saya ditelepon pagi-pagi sekali oleh para guru yang ingin bertanya meski sebenarnya saya masih istirahat. Namun, saya tetap setia dan ramah melayani mereka. Bisa dibayangkan, kadang, pagi saya sudah harus berada di kantor untuk membantu program tersebut. Malamnya, saya harus bekerja di redaksi. Pernah, suatu ketika saya menerima SMS dari beberapa guru yang marah karena saya tidak mengangkat telepon dan membalas pesan singkatnya. Saya tak menjelaskan bahwa saat itu saya tengah ketiduran sehingga tidak tahu ada telepon masuk. Saya benar-benar kelelahan berat kala itu. Saya meminta maaf kepada beliau dan segera menjawab pertanyaannya tanpa mencari alasan pembenar.

Semoga laptop ini masih kukuh menjadi media penyambung lidah saya kepada beberapa guru yang tak sempat saya balas teleponnya. Saya sekarang jatuh sakit dan detik-detik berlalu begitu cepat.

Wajah dan jari-jari ini ikut pucat. Saya benar-benar melalaikan mereka, anggota tubuh saya. Maka, kini saya hanya pasrah apabila sakit menyapa.

Namun, satu-satunya yang tetap saya pegang teguh adalah kalimat "Jangan adamu seperti tidak adamu". Saya yakin, saya jatuh sakit bukan karena saya kebanyakan duduk berleha-leha tanpa bekerja. Saya tak mau menjadi orang yang hanya duduk di meja kerja sambil bermain komputer dan tak ada produktivitas. Sungguh tak nyaman rasanya jika waktu terbuang sia-sia karena tidak bekerja. Sama sia-sianya membuat Surabaya menjadi merah jambu demi menyambut ritual Valentine. Celaka!

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

zaenudin | tutor
Memang Hebattt, bisa nambah ilmu juga sahabat.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1712 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels